Esprit Rock

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan dan memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan dan memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sumber daya alam ini bisa berupa sumber daya hayati antara lain seperti daging, telur, susu, sayuran, buah-buahan, dan kayu. Dan sumber daya non hayati antara lain seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam. Sumber daya tersebut sangat potensial untuk di eksplorasi menjadi berbagai macam produk yang dihasilkan dari sumber daya tersebut. Semuanya itu tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dari pulau Miangas sampai Pulau Rote.
Besarnya potensi bahan baku di Indonesia membuat perkembangan industri di Indonesia sekarang ini berlangsung sangat pesat seiring dengan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Industri di Indonesia dibagi menjadi 2 yaitu industri migas dan industri non migas. Industri migas contohnya antara lain seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara Sedangkan industri non migas antara lain seperti makanan dan minuman, industri pengolahan tembakau, industri tekstil, dan industri kimia.
Perkembangan industri non migas di Indonesia cukup besar berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Industri non migas menjadi salah satu penyumbang utama untuk PDB Indonesia. Produk Domestik Bruto (PDB) ini berguna sebagai alat untuk mengukur pertumbuhan ekonomi indonesia.
Berdasarkan berita yang dilansir oleh bisnis.com (22 Februari 2016) yang menyatakan bahwa “Kontribusi industri non migas terhadap PDB Nasional sebesar 18,1% meningkat dibanding 2014 yang sebesar 17,8%, kenaikan tersebut disebabkan oleh menurunnya sektor lain misalnya sektor migas.”
Salah satu industri non migas di Indonesia yaitu industri makanan dan minuman menjadi salah satu industri yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan industri non migas di Indonesia. Menurut berita yang dilansir oleh bisnis.com (18 desember 2015) yang menyatakan bahwa “Industri makanan dan minuman masih menjadi andalan untuk mencapai pertumbuhan industri non migas yang di proyeksikan sebesar 6,1% pada tahun 2016. Diketahui pertumbuhan industri makanan dan minuman terhadap Industri non migas pada tahun 2015 sebesar 7,54% lebih rendah dibanding tahun 2014 yang sebesar 9,49%, tetapi masih memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan Industri Non Migas.”
Industri ini di dukung dengan besarnya potensi bahan baku dan lokasi yang strategis membuat industri makanan dan minuman di Indonesia terus mengalami perkembangan penjualan baik itu di dalam negeri maupun luar negeri. Perkembangan yang dialami tidak hanya peningkatan, tetapi juga penurunan. Sehingga dari tahun ke tahun Industri makanan dan minuman di Indonesia mengalami peningkatan dan penurunan. Salah satu cara untuk melihat perkembangan perusahaan adalah dengan melihat laba perusahaan (Bionda dkk, 2016). Oleh karena itu perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya dituntut memiliki manajemen yang baik agar tujuan perusahaan yang telah direncanakan dapat tercapai, yaitu tercapainya laba perusahaan.
Berikut data laporan laba dan perkembangan laba Perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI tahun 2012-2016 :
Tabel 1.1 Laba Perusahaan Makanan dan Minuman Tahun 2012-2016

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

No
Nama Perusahaan dan Kode Perusahaan Laporan laba Perusahaan (Dalam miliar Rupiah)
2012 2013 2014 2015 2016
1 Tiga Pilar Sejahtera Tbk (AISA) 253 346 377 379 719
2 Tri Banyan Tirta Tbk (ALTO) 16 12 (10) (24) (26)
3 Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) 58 65 41 106 249
4 Delta Djakarta Tbk (DLTA) 213 270 288 192 254
5 Indofood Cbp Sukses Makmur Tbk (ICBP) 2.282 2.235 2.531 2.923 3.361
6 Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) 4.779 3.416 5.229 3.709 5.266
7 Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) 453 1.171 794 496 982
8 Mayora Indah Tbk (MYOR) 744 1.013 409 1.250 1.388
9 Prashida Aneka Niaga Tbk (PSDN) 25 21 (28) (42) (36)
10 Nippon Indosari Corporindo Tbk (ROTI) 149 158 188 270 279
11 Sekar Bumi Tbk (SKBM) 12 58 89 40 22
12 Sekar Laut Tbk (SKLT) 7 11 16 20 2
13 Siantar Top Tbk (STTP) 74 114 123 185 174
14 Ultrajaya Milk Industry And Trading Company Tbk (ULTJ) 353 325 283 523 709
Rata-Rata 673 658 738 716 972
Sumber : www.idx.com data diolah oleh peneliti tahun 2018

Gambar 1.1
Perkembangan Laba perusahaan Makanan Dan Minuman Tahun 2012-2016

Sumber : data diolah tahun 2018 (dalam miliar)
Data diatas menunjukan bahwa rata-rata perkembangan laba perusahaan sub sektor makanan dan minuman sebanyak 14 perusahaan dari tahun 2012-2016 berfluktuatif yaitu dari tahun 2012 sebesar Rp 673.000.000.000 mengalami penurunan pada tahun 2013 menjadi sebesar Rp 658.000.000.000 atau turun sebanyak 2% dan 2014 mengalami kenaikan sebesar Rp 738.000.000.000 atau naik sebesar 12%. Pada tahun 2015 mengalami penurunan rata-rata laba bersih menjadi Rp 716.000.000.000 atau sebesar 2% dari tahun 2014, tetapi pada tahun 2016 mengalami peningkatan rata-rata laba yang cukup besar menjadi Rp 972.000.000.000 atau sebesar 35%.
Hal ini sejalan dengan berita yang dilansir oleh Antaranews.com (25 Agustus 2015) yang menyatakan “Perkembangan industri makanan dan minuman mencapai 8,46% pada semester 1/2015 yang mengalami perlambatan pada semester 1/2014 sebesar 10,14%. Walaupun demikian pertumbuhan industri dan makanan pada semestar 1/2015 jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri non migas pada periode yang sama yakni sebesar 5,26%.” Berdasarkan pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa perkembangan laba industri makanan dan minuman setiap tahunnya mengalami fluktuatif.
Laba yang baik adalah laba yang meningkat setiap tahunnya, tetapi tidak semua perusahaan dapat menghasilkan laba yang meningkat setiap tahunnya, ada juga perusahaan yang labanya mengalami peningkatan dan penurunan setiap tahunnya, hal ini dinamakan juga sebagai perubahan laba. Perubahan laba yang terjadi disuatu perusahaan dapat dijadikan dasar bagi investor untuk melakukan pembelian, penjualan atau menahan investasi mereka. Perubahan laba perusahaan setiap tahunnya tidak dapat dipastikan apakah terjadi peningkatan atau terjadi penurunan laba pada tahun berikutnya. Salah satu cara dapat digunakan untuk memprediksi laba perusahaan adalah dengan melakukan perhitungan rasio keuangan (Bionda dkk 2014). Perhitungan rasio ini digunakan untuk melihat apakah suatu perusahaan mengalami peningkatan laba atau mengalami penurunan laba.
Beberapa rasio keuangan yang dapat berpengaruh terhadap laba diantaranya yaitu : Debt To Equity ratio (DER), dan Return On Equity (ROE). Rasio Debt To Equity Ratio merupakan rasio untuk menghitung perbandingan antara hutang dengan ekuitas perusahaan (Sujarweni, 2017:61). Rasio ini menunjukan perbandingan antara hutang dengan ekuitas dalam pendanaan perusahaan. Jika nilai Debt To Equity Ratio yang tinggi menunjukan bahwa sebagian besar modalnya berasal dari hutang. Nilai Debt To Equity Ratio (DER) yang tinggi juga akan mempengaruhi dalam penerimaan laba perusahaan pada masa yang akan datang karena laba yang dihasilkan oleh perusahaan akan digunakan untuk membayar hutang-hutang yang dimiliki oleh perusahaan (Mas’ulah 2016).
Rasio lainnya yang dapat mempengaruhi laba yaitu Return On Equity (ROE) adalah rasio yang menggambarkan perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan modal sendiri (Fauzia 2016) dimana rasio ini digunakan oleh perusahaan untuk mengukur seberapa efektif perusahaan dalam mengelola sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan khususnya modal sendiri untuk dapat menghasilkan laba perusahaan. Nilai Return On Equity (ROE) bergantung dari besar kecilnya sebuah perusahaan misalnya jika perusahaan kecil maka modal yang dimiliki relatif kecil sehingga laba yang dihasilkan relatif kecil begitupun sebaliknya, jika perusahaan besar maka modal yang dimiliki pemilik perusahaan pun akan relatif besar sehingga laba yang dihasilkan akan relatif besar juga.
Nilai Return On Equity (ROE) yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan dapat memaksimalkan modal sendiri yang dimiliki oleh perusahaan untuk menghasilkan laba dan perusahaan dapat memprediksi penerimaan laba dimasa yang akan datang dengan memaksimalkan modal sendiri yang dimiliki oleh perusahaan (Intan Sari dkk)
Penelitian yang terkait dengan Debt To Equity Ratio, Return On Equity, dan perubahan laba sudah banyak dilakukan, namun hasil dari penelitian satu dengan yang lainnya memiliki keragaman hasil. Hal ini disebabkan karena perusahaan memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Penelitian Pratama dkk (2015) menyatakan bahwa Debt To Equity Ratio tidak berpengaruh terhadap perubahan laba, penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Mas’ulah (2016) yang menyatakan bahwa Debt To Equity Ratio berpengaruh terhadap perubahan laba.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Permata (2016) yang menyatakan bahwa Return On Equity berpengaruh terhadap perubahan laba Perusahaan. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Intan sari dkk (2016) yang menyatakan bahwa Return On Equity tidak berpengaruh terhadap perubahan laba.
Dari latar belakang yang telah dijelaskan, maka peneliti tertarik untuk mengambil judul “Pengaruh Debt To Equity Ratio Dan Return On Equity Terhadap Perubahan Laba Pada Perusahaan Sub Sektor Makanan Dan Minuman Yang Tercatat Di BEI Pada Tahun Periode 2012-2016.”
Rumusan Masalah
Seperti yang telah diuraikan pada latar belakang, maka penelitian ini mengambil rumusan masalah sebagai berikut :
Bagaimana pengaruh debt to equity ratio terhadap perubahan laba pada perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang tercatat di BEI pada tahun periode 2012-2016.
Bagaimana pengaruh return on equity terhadap perubahan laba pada perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang tercatat di BEI pada tahun periode 2012-2016.
Bagaimana pengaruh debt to equity ratio dan return on equity secara bersama-sama terhadap laba pada perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang tercatat di BEI pada tahun periode 2012-2016.
Tujuan Penelitian Dan KegunaanPenelitian
Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah diatas tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
Untuk menganalisis pengaruh Debt To Equiy Ratio terhadap laba pada perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang tercatat di BEI pada tahun periode 2012-2016.
Untuk menganalisis pengaruh Return On Equity terhadap laba pada perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang tercatat di BEI pada tahun periode 2012-2016.
Untuk menganalisis pengaruh Debt To Equity Ratio dan Return On Equity secara bersama-sama terhadap laba pada perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang tercatat di BEI pada tahun periode 2012-2016.

Kegunaan Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis maupun teoritis :
Kegunaan Secara Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk dijadikan sumber informasi yang berhubungan dengan Debt To Equity Ratio, Return On Equity, dan Laba.
Kegunaan Secara Praktis
Bagi Perusahaan
Sebagai bahan pertimbangan perusahaan untuk menghasilkan laba perusahaan apakah harus mengurangi hutangnya atau menambah ekuitas untuk menghasilkan laba.
Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan Ilmu pengetahuan dan wawasan bagi penulis terutama yang berhubungan dengan Debt To Equity Ratio, Return On Equity, dan Laba.
Unit Analisis Dan Jadwal Penelitian
Unit Analisis
Unit Analisis dalam penelitian ini adalah Laba setelah pajak, Total Ekuitas, dan Total Hutang pada perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman yang tercatat di BEI pada tahun 2012-2016.
Jadwal Penelitian
Adapun waktu penelitian yang digunakan dalam penelitian tentang “Pengaruh Debt To Equity Ratio dan Return On Equity Terhadap Laba Pada Perusahaan Sub Sektor Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di BEI Periode Tahun 2010-2016” adalah sebagai berikut :
Tabel 1.2 Jadwal Penelitian
Kegiatan Tahun
Februari Maret April Mei Juni
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan Penelitian
Pengajuan Judul
Verifikasi Judul Skripsi
Pembekalan Skripsi dan SPM
Pengerjaan Proposal
Pendaftaran Seminar Proposal
Seminar Proposal Skripsi
Kegiatan Penelitian
Bimbingan Skripsi
Penyusunan Skripsi
Pendaftaran Sidang Skripsi
Sidang Skripsi
Sumber:Fakultas Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon Tahun 2018

BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
Kajian Pustaka
Pengertian Laba
Setiap perusahaan tentunya memiliki tujuan yang hendak dicapai oleh perusahaan. Salah satu tujuan perusahaan yaitu mendapatkan laba yang maksimal dari setiap aktivitas yang dijalankan oleh perusahaan. Perusahaan dalam setiap aktivitasnya belum tentu mendapatkan kenaikan laba pada tahun berikutnya, perusahaan bisa mendapatkan penurunan laba pada tahun berikutnya jika dalam aktivitasnya tidak sesuai dengan tujuan perusahaan yang sudah direncanakan. Perusahaan tentunya menginginkan adannya kenaikan laba dari periode sebelumnya. Dengan kenaikan laba dari periode sebelumnya maka perusahaan dapat memprediksi kenaikan laba pada periode selanjutnya. Berikut definisi laba dari beberapa ahli dibawah ini :
Commite On Termonology dalam Harahap (2011:112) mendefenisikan “Laba sebagai jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain, dan kerugian dari penghasilan operasi.”

Suwardjono (2013: 464) mengemukakan :
“Laba adalah kenaikan aset dalam suatu periode akibat kegiatan produktif yang didapat, dibagi atau didistribusika kepada kreditor, pemerintah, pemegang saham (dalam bentuk bunga, pajak, dan dividen) tanpa mempengaruhi kebutuhan ekuitas pemegang saham semula”.
Subramanyam dkk (2012:109) mengemukakan :
“Laba merupakan hasil ringkasan hasil bersih aktivitas operasi usaha dalam periode tertentu yang dinyatakan dalam istilah keuangan. Pada konsepnya, laba ditugaskan untuk menyediakan, baik pengukuran perubahan kekayaan pemegang saham selama periode maupun mengestimasi laba usaha sekarang , yaitu sampai sejauh mana perusahaan dapat menutupi biaya operasi dan menghasilkan pengembalian kepada pemegang sahamnya”.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas laba merupakan kelebihan penghasilan dari aktivitas perusahaan setelah dikurangi dengan biaya yang berkaitan dengan laba selama satu periode tertentu dengan menunjukan laporan atas hasil yang telah di capai.
Jenis-jenis laba
Sujarweni (2017:196) mengatakan ada beberapa jenis laba, diantaranya :
Laba kotor yaitu perbedaan antara pendapatan bersih dan penjualan dengan harga pokok.
Laba operasi yaitu selisih antara laba kotor dengan total beban operasi.
Laba bersih yaitu angka terakhir dari perhitungan laba-rugi ditambah pendapatan lain-lain dikurangi dengan beban lain-lain.
Berdasarkan jenis-jenis laba dalam penelitian ini, peneliti menggunakan laba bersih dalam penelitian ini.

Definisi Laba Bersih
Sujarweni (2017:196) mengatakan bahwa : “Laba bersih yaitu angka terakhir dari perhitungan laba-rugi ditambah pendapatan lain-lain dikurangi dengan beban lain-lain”.
Fahmi (2015:101) mendefinisikan bahwa : “Laba bersih (net income) adalah laba setelah pajak (earning after tax) merupakan laba yang diperoleh setelah dikurangi dengan pajak”.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa laba bersih adalah laba yang diperoleh perusahaan selama satu periode setelah dikurangi beban-beban dan pajak.
Laba bersih menggambarkan hasil yang diterima oleh perusahaan selama satu periode. Pada umumnya laba bersih sering dipakai untuk menentukan sukses atau tidaknya suatu perusahaan pada periode tertentu. Sukses atau tidaknya perusahaan pada umumnya ditandai dengan kemampuan manajemen perusahaan melihat kemungkinan-kemungkinan dan kesempatan dimasa yang akan datang baik itu jangka pendek maupun jangka panjang. Laba bersih yang baik seharusnya laba bersih yang selalu naik setiap tahunnya tetapi tidak semua perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya mendapatkan laba bersih yang selalu naik setiap tahun, ada juga perusahaan yang mendapatkan laba bersihnya menurun dibandingkan periode sebelumnya tergantung dengan bagaimana perusahaan mengelola manajemennya dengan baik untuk mendapatkan laba. Kenaikan dan penurunan laba tersebut dinamakan dengan perubahan laba.
Perubahan laba menurut Warsidi dan Pramuka dalam Fauzia (2016) menyatakan bahwa “pergerakan laba perusahaan yang dihitung dengan cara mengurangkan laba periode sekarang dengan laba periode sebelumnya kemudian dibagi dengan laba pada periode sebelumnya.”
Perubahan laba bisa dirumuskan sebagai berikut :

Harahap (2015:310)
Faktor-faktor yang mempengaruhi Laba bersih
Jumingan (2014:165) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi dalam penerimaan laba bersih perusahaan, diantaranya:
Naik turunnya jumlah unit yang dijual dan harga jual per unit.
Naik turunnya harga pokok penjualan. Perubahan harga pokok penjualan ini dipengaruhi oleh jumlah unit yang dibeli atau diproduksi atau dijual dan harga pembelian per unit atau harga pokok per unit.
Naik turunnya biaya usaha yang dipengaruhi oleh jumlah unit yang dijual, variasi jumlah unit yang dijual, variasi dalam tingkat harga dan efesiensi operasi perusahaan.
Naik turunnya pos penghasilan atau biaya non operasional yang dipengaruhi oleh variasi jumlah unit yang dijual, variasi dalam tingkat harga dan perubahan dalam kebijaksanaan dalam pemberian atau penerimaan discount.
Naik turunnya pajak perseroan yang dipengaruhi oleh besar kecilnya laba yang diperoleh atau tinggi rendahnya tarif pajak.
Adanya perubahan dalam metode akuntansi.
Rasio Keuangan
Harahap (2011:297) mendefinisikan bahwa : “Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan.”
Jumingan (2014:242) mendefinisikan bahwa :
“Rasio keuangan merupakan analisis dengan jalan membandingkan satu pos dengan pos laporan keuangan yang lainnya baik secara individu maupun secara bersama-sama guna mengetahui hubungan diantara pos tertentu, baik dalam hubungan diantara pos tertentu, baik dalam neraca maupun laporan laba rugi.”
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, kajian pustakanya adalah bahwa rasio keuangan adalah membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan untuk mengetahui hubungan satu pos dengan pos lainnya yang ada dalam laporan keuangan perusahaan dalam satu periode tertentu.
Keunggulan dan kelemahan rasio keuangan
Keunggulan Rasio Keuangan
Keunggulan rasio keuangan menurut Harahap (2011:298)
Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan.
Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit.
Mengetahui posisi perusahaan ditengah industri lain.
Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan keputusan dan model prediksi.
Menstandarisir size perusahaan.
Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau “time series”.
Lebih mudah melihat tren perusahaan serta melakukan prediksi dimasa yang akan datang.
Kelemahan Rasio Keuangan
Kelemahan rasio keuangan menurut Harahap (2011:298)
Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk kepentingan pemakainya.
Keterbatasan yang dimiliki akuntansi atau laporan keuangan juga menjadi keterbatasan teknik ini seperti:
Bahan perhitungan rasio atau laporan keuangan itu banyak mengandung banyak taksiran dari judment yang dapat di nilai bisa atau subjektif.
Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dan rasio adalah nilai perolehan (cost) bukan harga pasar.
Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada angka rasio.
Metode pencatatan yang tergambar dalam standar akuntansi bisa diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia, akan menimbulkan kesulitan menghitung rasio.
Sulit jika data yang tersedia tidak sinkron.
Dua perusahaan dibandingkan bisa saja teknik dan standar akuntansi yang dipakai tidak sama. Oleh karenanya jika dilakukan perbandingan bisa menimbulkan kesalahan.
Bentuk-Bentuk Rasio Keuangan
Fahmi (2015:120) mendefinisikan bentuk bentuk Rasio Keuangan dalam 6 bentuk diantaranya :
Rasio Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu.
Rasio Leverage adalah mengukur seberapa besar perusahaan di biayai dengan hutang.
Rasio Profitabilitas adalah mengukur efektifitas secara keseluruhan yang ditunjukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungan dengan penjualan maupun investasi.
Rasio Pertumbuhan adalah rasio yang mengukur seberapaa besar kemampuan perusahaan dalam mempertahankan posisinya di dalam industri dan perkembangan ekonomi secara umum.
Rasio Nilai Pasar adalah rasio yang menggambarkan kondisi yang terjadi di pasar.
Rasio Aktivitas adalah rasio yang menggambarkan sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimiliki guna menunjang aktivitas perusahaan

Rasio Leverage
Hermanto dkk (2015:112) mendefinisikan bahwa :
“Rasio Leverage adalah rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang, rasio leverage yang mengukur perbandingan antara dana yang disediakan oleh pemilik dengan dana yang berasal dari pihak ketiga/pihak kreditor mengandung implikasi.”
Sujarweni (2017:61) mendefinisikan bahwa :
“Rasio Leverage adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber daya yang dimiliki, sumber daya yang dimaksud seperti piutang dan modal maupun aktiva.”
Berdasarkan pendapat para ahli diatas Rasio leverage adalah rasio yang mengukur seberapa besar perusahaan di biayai oleh hutang baik itu jangka pendek maupun jangka panjang dengan modal yang dimiliki oleh perusahaan.
Brigham et al (2014:141) terdapat 2 alasan dibalik dampak Leverage :
Karena bunga dapat menjadai pengurang pajak, penggunaan hutang akan mengurangi kewajiban pajak dan menyisakan laba operasi yang lebih besar bagi investor perusahaan.
Jika laba operasi sebagai persentase terhadap aset melebihi tingkat bunga atas hutang seperti yang umumnya diharapkan, maka perusahaan dapat menggunakan hutang untuk membeli aset, membayar bunga atas hutang dan masih mendapatkan sisanya sebagai “bonus” bagi pemegang saham.

Jenis-Jenis Rasio Leverage
Fahmi (2015:127-132) mendefinisikan beberapa jenis-jenis dalam Rasio leverage, antara lain :
Debt Ratio
Debt To Equity Ratio
Times Interest Earned
Cash Flow Coverage
Long Term Debt To Total capitalization
Fixed Charge Coverage
Cash Flow Adequancy

Berdasarkan jenis-jenis Rasio Leverage dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Debt To Equity Ratio dalam penelitian ini.
Debt To Equity
Harahap (2011:303) mendefinisikan bahwa :”Debt To Equity adalah Rasio yang menggambarkan sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi hutang-hutang kepada pihak luar.”
Hermanto dkk (2015:112) mendefinisikan bahwa
“Rasio total hutang terhadap total modal sendiri, mengukur presentase dana yang disediakan oleh para kreditor dengan modal yang dimiliki perusahaan hutang yang dimaksudkan di sini adalah hutang lancar dan hutang jangka panjang.”
Sujarweni (2017:61) mendefinisikan bahwa :
“Debt To Equity Ratio merupakan perbandingan antara hutang-hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukan kemampuan modal sendiri, perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya.”

Sumber : Sujarweni (2017:61)
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, kajian pustakanya bahwa Debt To Equity Ratio adalah rasio untuk mencari seberapa besar total hutang yang dibiayai oleh ekuitas (modal sendiri), semakin tinggi nilai rasio nya artinya semakin tinggi pendanaan yang di biayai oleh hutang, jika nilai rasionya semakin kecil maka ada jaminan dari pemilik perusahaan jika perusahaan di likuiditasi dan para kreditor akan senang karena ada jaminan dari pemilik atas investasi yang dikeluarkannya jika perusahaan di likuiditasi.
Rasio Profitabilitas
Brigham et al (2014:146) mendefinisikan Bahwa :”Rasio Profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukan kombinasi dari pengaruh likuiditas, manajemen aset, dan hutang pada hasil operasi.”
Hermanto dkk (2015:118) mendefinisikan bahwa : “Rasio profitabilitas merupakan hasil akhir bersih dari berbagai kebijakan dan keputusan dan rasio ini akan memberikan jawaban akhir tentang efektifitas manajemen perusahaan.”
Husnan dkk (2015:76) mendefinisikan bahwa : “Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk mengukur seberapa jauh kemampuan perusahaan menghasilkan laba penjualannya, dari aset-aset yang dimilikinya, atau dari ekuitas yang dimilikinya.”
Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa rasio profitabilitas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola aset-aset yang dimilikinya untuk menghasilkan laba perusahaan.

Jenis-Jenis Rasio Profitabilitas
Sujarweni (2017:64-66) mendefinisikan beberapa jenis-jenis Rasio Profitabilitas antara lain :
Gross Profit Margin
Net Profit Margin
Earning Power Of Total Invstment
Return On Equity
Operating Income Ratio
Net Earning Power Ratio
Berdasarkan jenis-jenis Rasio Profitabilitas dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Return On Equity dalam penelitian ini.
Return On Equity
Harahap (2011:305) mendefinisikan bahwa “Rasio ini menunjukan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik. Semakin besar semakin bagus”.
Hermanto dkk (2015:121) mendefinisikan bahwa “Return On Equity adalah rasio terhadap laba setelah pajak dengan modal sendiri”.
Fahmi (2015:137) mendefinisikan Rasio Return On Equity adalah “Rasio ini mengkaji sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimiliki untuk mampu memberikan laba atas ekuitas.”

Rumus untuk menghitung Return On Equity adalah :

Return On equity = (Earning After Tax)/(Modal Sendiri)
Fahmi (2015:137)
Dari pengertian para ahli diatas kajian pustakanya adalah bahwa Return On Equity adalah rasio untuk menghitung berapa besar laba bersih yang dihasilkan dengan membandingkan antara laba bersih setelah pajak dengan modal sendiri. Semakin tinggi nilai Return On Equity nya semakin baik artinya perusahaan mampu mendapatkan keuntungan dari modal sendiri, jika nilai Return On Equity nya kecil maka perusahaan belum mampu menghasilkan keuntungan dari modal sendiri.
Peneliti Terdahulu
Penelitian terdahulu adalah kumpulan dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu, yang mana penelitian tersebut memiliki kaitan dengan Debt To Equity Ratio, Return On Equity, dan Laba yang digunakan sebagai dasar acuan adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Nama Peneliti Judul Penelitian Variabel Hasil Penelitian
1 Bonifasius Omega Ricky Pratama, Farida Titik (2015) Pengaruh Current Ratio, Debt To Equity Ratio, dan Net Profit
Margin terhadap perubahan laba
(studi pada perusahaan property dan real estate yangterdaftar
Di bursa efek indonesia tahun 2011 – 2013) Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Net Profit Margin, Perubahan Laba Debt To Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh terhadap perubahan laba
2 Intan Sari, M Anang Firmansyah, dan Budi Wahyu Mahardika (2016) Pengaruh pertumbuhan penjualan dan Return On Equity Terhadap Perubahan laba pada perusahaan pertambangan Batu Bara yang terdaftar di BEI tahun 2010-2015 Sales Growth, Return On Equity, and Profit Change Return On Equity tidak berpengaruh terhadap perubahan Laba

3 Siti Mas’ulah (2016) Pengaruh Current Ratio dan Debt To Equity Ratio, Total Asset Turnover, Net Profit Margin terhadap perubahan laba pada perusahaan PT Alumindo Current Ratio, Debt To equity ratio, Total Asset Turnver, Net Profit Marin,, Perubahan Laba Debt To Equity Ratio berpengaruh terhadap Perubahan Laba
4. Astridina Ardya Permata Pengaruh Rasio Likuiditas dan profitabilitas terhadap Laba pada perusahaan Retail Trade Current Ratio, Return On Asset, Return On Equity, dan Laba Return On Equity berpengaruh signifikan terhadap Laba
5. Farah Fauziah dan Nona Jane Onoyi (2016) Pengaruh rasio solvabilitas dan rasio profitabilitas
Terhadap perubahan laba pada perusahaan real estate dan
Building construction yang listing di bursa efek indonesia Debt to Equity Ratio, Return on Equity, Earnings Changes Debt to Equity Ratio dan Return On Equity berpengaruh secara simultan terhadap perubahan
Laba
Sumber : Jurnal penelitian terdahulu
Kerangka Pemikiran dan Hipotesis
Pengaruh Debt To Equity Ratio Terhadap Perubahan Laba
Perusahaan dalam membangun usahanya biasanya membutuhkan modal. Modal bisa dari modal internal perusahaan ataupun dari pihak eksternal perusahaan. Modal dari pihak internal perusahaan contohnya bisa dari modal pemilik (ekuitas), sedangkan modal dari pihak eksternal bisa dari pinjaman dari pihak luar (utang). perusahaan dituntut lebih cermat dalam menentukan modal apakah dari pihak internal (ekuitas) ataupun pihak eksternal (utang) perusahaan karena perbandingan antara ekuitas dan hutang akan menentukan keberhasilan dan kegagalan perusahaan di kemudian hari.
Debt To Equity Ratio merupakan rasio untuk menghitung perbandingan antara hutang dengan ekuitas perusahaan. Jika nilai Debt To Equity Ratio nya tinggi berarti perusahaan memiliki resiko yang tinggi karena perusahaan tidak dapat menutupi hutangnya dengan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan.
Nilai Debt To Equity Ratio yang tinggi juga akan mempengaruhi penerimaan laba pada perusahaan karena pendapatan yang dihasilkan oleh aktivtas perusahaan untuk membayar hutang yang dimiliki oleh perusahaan dan penerimaan laba perusahaan pun akan berkurang.
Penelitian Tandirerung dkk (2016) menyatakan bahwa Debt To Equity Ratio berpengaruh terhadap laba. Berdasarkan hasil uraian logik peneliti dan hasil penelitian ilmiah terdahulu maka hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
H_1 : Terdapat pengaruh Debt To Equity Ratio terhadap perubahan laba.
Pengaruh Return On Equity Terhadap Perubahan Laba
Perusahaan dalam menjalankan bisnis salah satunya menginginkan adanya imbalan atau laba dari hasil operasional perusahaan selama satu periode. Perusahaan dalam menjalankan bisnisnya tidak selalu akan mendapatkan keuntungan bisa saja mengalami kerugian. Laba yang efektif adalah laba setelah dikurangi beban dan pajak.
Return On Equity adalah rasio antara laba bersih setelah pajak dengan ekuitas perusahaan. Dimana rasio ini digunakan untuk mengukur efektifitas sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan untuk mampu menghasilkan laba atas ekuitas. Semakin tinggi nilai Return On Equity berarti kinerja perusahaan semakin baik artinya perusahaan mampu memanfaatkan modal pemilik untuk dapat menghasilkan laba perusahaan dan dapat memprediksi penerimaan laba perusahaan dimasa yang akan datang.
Penelitian Permata (2016) menyatakan bahwa Return On Equity berpengaruh terhadap perubahan laba. Berdasarkan hasil uraian logik peneliti dan hasil penelitian ilmiah terdahulu maka hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
H_2 : Terdapat pengaruh Return On Equity terhadap perubahan laba.
Pengaruh Debt To Equity Dan Return On Equity Terhadap Perubahan Laba
Dalam penentuan modal perusahaan untuk menjalankan aktivitasnya, perusahaan bisa menggunakan modal sendiri atau menggunakan hutang dari pihak luar untuk mendapatkan modal perusahaan. Penentuan modal ini sangat penting bagi perusahaan karena berhubungan dengan penentuan besarnya laba bersih perusahaan dimasa yang akan datang.
Debt To Equity Ratio adalah rasio untuk menghitung hutang dengan ekuitas. Semakin tinggi nilai Debt To Equity Ratio nya semakin tinggi pula resiko perusahaan karena memiliki hutang yang lebih besar dari pada modal sendiri, dan akan mempengaruhi dalam penerimaan laba bersih di masa yang akan datang.
Besarnya laba bersih perusahaan bisa di dapatkan setelah dikurangi dengan beban-beban dan biaya perusahaan, besarnya laba perusahaan juga bisa didapatkan setelah dikurangi dengan hutang-hutang yang dimiliki perusahaan sehingga akan didapatakan laba bersihnya.
Return On equity adalah rasio untuk menghitung besarnya laba bersih perusahaan dengan membandingkan antara laba bersih setelah pajak dengan modal sendiri. Semakin tinggi nilai Return On Equity nya artinya perusahaan dapat memanfaatkan modal sendiri untuk menghasilkan laba perusahaan.
Debt To Equity Ratio dan Return On Equity akan mempengaruhi besarnya laba perusahaan, karena disamping perusahaan harus melihat besarnya hutang perusahaan juga harus melihat besarnya modal yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan laba perusahaan.
Penelitian Fauziah (2016) menyatakan bahwa Debt To Equity Ratio dan Return On Equity berpengaruh secara bersama-sama terhadap perubahan laba. Berdasarkan hasil uraian logik peneliti dan hasil penelitian ilmiah terdahulu maka hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
H_3 : Terdapat pengaruh Debt To Equity Ratio dan Return On Equity secara bersama-sama terhadap Peubahan Laba.

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pemikiran diatas, sehingga bila digambarkan kerangka pemikiran untuk penelitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

H_1
H_3
H_2

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kuantitatif. Sugiyono (2017:11) mengatakan bahwa :
“Metode Kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.”
Jenis metode kuantitatif dalam penelitian ini menggunakan jenis metode kuantitatif Asosiatif. Siregar (2013:7) mendefnisikan bahwa:
“Penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Dengan penelitian ini maka akan dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala.”
Operasional Variabel
Variabel menurut Sugiyono (2017:63) merupakan :
“Suatu atribut dalam penelitian. Variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut kemudian ditarik kesimpulannya.”
Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua macam variable diantaranya sebagai berikut:

Variabel Independen
Sugiyono (2016:64) mengatakan bahwa variabel independen ini sering disebut sebagai variabel stimulus,prediktor, antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai bebas. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Dalam penelitian ini yang menjadi Variabel Independen adalah:
Variabel Debt To Equity Ratio
Debt To Equity Ratio menurut Sujarweni (2016: 61) adalah “Merupakan perbandingan antara hutang-hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukan kemampuan modal sendiri, perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajibannya.”
Untuk kepentingan analisis variabel ini dikelompokan sebagai variabel independen dengan di beri simbol (X_1).
Variabel Return On Equity
Return On Equity menurut Fahmi (2015:137) adalah “Rasio ini mengkaji sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimiliki untuk mampu memberikan laba atas ekuitas”.
Untuk kepentingan analisis variabel ini dikelompokan sebagai variabel independen dengan di beri simbol (X_2).

Variabel Dependen
Sugiyono (2016:64) Variabel Dependen sering disebut variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah:
Perubahan Laba
Perubahan laba menurut Warsidi dan Pramuka dalam Fauziah (2016) “pergerakan laba perusahaan yang dihitung dengan cara mengurangkan laba periode sekarang dengan laba periode sebelumnya kemudian dibagi dengan laba pada periode sebelumnya.”
Untuk kepentingan analisis variabel ini di kelompokan sebagai variabel dependen dengan di beri simbol (Y)
Tabel 3.1 Tabel Operasional Variabel
Variabel Indikator Pengukuran Skala
Perubahan Laba (Y) Laba bersih Perubahan Laba = (laba tahun sekarang-laba tahun lalu)/(laba tahun lalu) Rasio
Debt To Equity Ratio (X_1) Total hutang,
Total Ekuitas
DER = (Total Hutang )/(Tatal Ekuitas) Rasio
Return On Equity (X_2) Laba Setelah Pajak,
Total Ekuitas
ROE = (Laba Setelah Pajak)/(Total Ekuitas) Rasio
Sumber : Harahap (2015:301), Sujarweni (2016:61), Fahmi (2015:137)

Populasi Dan Sampel
Populasi
Populasi menurut Sugiyono (2017:119) adalah ” Wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi yang diamati dalam penelitian ini adalah Perusahaan-Perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jumlah populasi yang menjadi dasar dalam penelitian ini adalah perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di BEI sebanyak 18 perusahaan. Berikut perusahaan yang menjadi populasi dalam penelitian ini.
Tabel 3.2 Populasi penelitian
No Nama Perusahaan Kode Emten
1 Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk AISA
2 Tri Banyak Tirta tbk ALTO
3 Campina Ice Cream Industri Tbk CAMP
4 Wilmar Cahaya Indonesia Tbk CEKA
5 Sariguna Primartirta Tbk CLEO
6 Delta Djakarta Tbk DLTA
7 Buyung Poetra Sembada Tbk HOKI
8 Indofood CBP Sukses Makmur Tbk ICBP
9 Indofood Sukses Makmur Tbk INDF
10 Multi Bintang Indonesia Tbk MLBI
11 Mayora Indah Tbk MYOR
12 Prima Cakrawala Abadi Tbk PCAR
13 Prashida Aneka Niaga Tbk PSDN
14 Nippon Indosari Corporindo Tbk ROTI
15 Sekar Bumi Tbk SKBM
16 Sekar Laut Tbk SKLT
17 Siantar Top Tbk STTP
18 Ultrajaya Milk Industry And Trading Company Tbk ULTJ

Sumber : Bursa Efek Indonesia tahun 2018

Sampel
Sampel menurut Sugiyono (2017:120) adalah “Bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.”
Pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan metode Purposive Sampling. Sugiyono (2017:126) mengatakan bahwa “Purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu”. Tujuannya agar mendapatkan sampel sesuai yang dibutuhkan dalam penelitian.
Adapun kriteria penentuan sampel sebagai berikut:
Perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar berturut-turut di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016.
Perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman yang telah menerbitkan dan mempublikasikan laporan keuangan auditannya per 31 desember 2012, 2013, 2014, 2015, dan 2016.
Perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman yang menghasilkan laba positif tahun 2012-2016
Adapun kriteria yang peneliti ajukan, berikut ini adalah tabel yang membahas mengenai proses dari populasi menjadi sampel :
Tabel 3.3 Hasil Seleksi Sampel
Kriteria Jumlah perusahaan
Jumlah populasi perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016 18
Perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang tidak mempublikasikan laporan keuangan lengkap per 31 desember selama tahun 2012-2016 (4)
Perusahaan sub sektor makanan dan minuman yang menghasilkan laba negatif tahun 2012-2016 (2)
Sampel perusahaan 12
Sampel data penelitian 12 x 5 = 60
Sumber : Data diolah tahun 2018
Sampel perusahaan pada penelitian ini sebanyak 12 perusahaan dan diteliti selama 5 tahun yaitu dari tahun 2012 sampai 2016. Jadi sampel pada penelitian ini sebanyak 60 sampel.

Berikut daftar nama perusahaan yang termasuk ke dalam sampel penelitian :
Tabel 3.4 Data Sampel Penelitian
No Nama Perusahaan Kode
1 PT. Wilmar Cahaya Indonesia Tbk CEKA
2 PT. Delta Djakarta Tbk DLTA
3 PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk ICBP
4 PT. Sekar Bumi Tbk SKBM
5 PT. Mayora Indah Tbk MYOR
6 PT. Nippon Indosari Corporindo Tbk ROTI
7 PT. Ultrajaya Milk Industry And Trading Company Tbk ULTJ
8 PT. Sekar Laut Tbk SKLT
9 PT. Siantar Top Tbk STTP
10 PT. Tiga Pilar Sejahtera AISA
11 PT. Indofood Sukses makmur Tbk INDF
12 PT. Multi Bintang Indonesia Tbk MLBI
Sumber : www.Sahamok.com
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilihat dari sumber datanya menurut Sugiyono (2017:187) di bagi menjadi 2 sumber yaitu sumber Primer dan sumber Sekunder, dalam penelitian ini teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengumpulan data sumber Sekunder. Menurut Sugiyono (2017:187) mendefinisikan bahwa ” Sumber Sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data.

Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Sumber Data Laporan keuangan Perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di BEI periode 2012-2106 melalui situs resmi internet yaitu www.idx.com.
Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data Kuantitatif. Menurut Sugiyono (2017:6) “Data Kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang di angkakan/scoring.”
Metode Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan 2 metode antara lain :
Penelitian Kepustakaan (Library Research) merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk memperoleh data sekunder yaitu data yang merupakan faktor penunjang yang bersifat teoritis kepustakaan. Dalam melakukan studi kepustakaan ini, penulis mengumpulkan data dengan membaca literatur dan buku-buku yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
Teknik dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan data Laporan Keuangan Perusahaan Makanan dan Minuman periode 2012-2016 dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Metode Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit – unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. (Sugiyono 2017:333)
Statistik Deskriptif
Statistik Deskriptif Menurut Sugiyono (2017:199) adalah:
“Statistik Deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.”

Pengujian Asumsi Klasik
Uji Asumsi Klasik ini bertujuan untuk memberikan kepastian bahwa persamaan regresi yang di dapatkan memiliki ketepatan dalam estimasi, konsisten dan tidak bias. Uji asumsi klasik dalam penelitian ini menggunakan Uji Normalitas, Multikolinearitas, Autokorelasi, dan Heteroskedastisitas. Masing-masing asumsi ini akan dijelaskan sebagai berikut:
Uji Normalitas
Salah satu cara mendeteksi normalitas adalah lewat pegamatan nilai residual. Cara lain dengan melihat distribusi dari variabel-variabel yang akan diteliti. Normalitas suatu variabel umumnya dideteksi dengan grafik atau uji statistik sedangkan normalitas nilai residual dideteksi dengan metode grafik. (Ghozali, 2016:154). Dalam penelitian ini analisis yang digunakan adalah uji statistik non parametik Kolmogorov-Smirnov.
Pedomannya adalah sebagai berikut :
Jika signifikan dengan data normal dibawah 0,05 berarti data tersebut tidak normal
Jika signifikan dengan data normal diatas 0,05 berarti data tersebut normal
Analisis statistik yang digunakan adalah uji statistik non parametik Kolmogorov-Smirnov (K-S). Uji K-S dilakukan dengan membuat hipotesis
H_0 : Data residual berdistribusi normal
H_1 : Data residual berdistribusi tidak normal
Uji Multikolinearitas
Ghozali (2016:103) mendefinisikan bahwa “Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen)”. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas didalam model regresi, digunakan pertama nilai Tolerance dan kedua Variance Inflation Factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Dalam pengertian sederhana setiap variabel independen menjadi variabel dependen dan diregresi terhadap variabel independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel bebas yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel bebas lainnya.
Krteria pengambilan keputusan suatu model regrsi bebas mulitikolinearitas adalah sebagai berikut :
Mempunyai nilai VIF dibawah 10
Mempunyai nilai Tolerance diatas 10
Jika variabel bebas dapat memenuhi kriteria tersebut maka variabel bebas tersebut mempunyai persoalan multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya.
Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penggunaan pada periode t dengan kesalahan penggunaan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu yang berkaitan satu sama lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan penganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Ghozali,(2016:107)
Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya korelasi adalah dengan uji :
Uji durbin – watson (DW test)
Uji durbin watson hanya digunakan untuk autolorelasi tingkat 1 (first order autocorelation) dan masyarakat adalah intercept (konstanta) dalam model regresi dan tidak ada variabel lain diantara variabel independen. Hipotesis yang diuji adalah :
H_0 : tidak ada autokorelasi (r = 0)
H_1 : ada autokorelasi (r ? 0)
Untuk mendiagnosis adanya autokorelasi dalam suatu regresi dilakukan uji durbin watson. Adapun nilai pengujian nilai durbin watson menurut Ghozali (2016:108) adalah sebagai berikut :
Tabel 9
Interval Durbin Watson
Hipotesis nol Keputusan Jika
Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0

x

Hi!
I'm Loren!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out