Esprit Rock

Simulasi Routing Policy pada Border Gateway Protocol

Simulasi Routing Policy pada Border Gateway Protocol (BGP) sebagai Exterior Gateway Protocol (EGP) dan Open Shortest Path First (OSPF) sebagai Interior Gateway Protocol (IGP) dalam Jaringan Indonesia Research and Education Network (IdREN)
SKRIPSI

Disusun oleh:
ILHAM APRILIAN
13/350076/TK/41243
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INFORMASI
DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO DAN TEKNOLOGI INFORMASI
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA 2018
HALAMAN PENGESAHANSimulasi Routing Policy pada Border Gateway Protocol (BGP) sebagai Exterior Gateway Protocol (EGP) dan Open Shortest Path First (OSPF) sebagai Interior Gateway Protocol (IGP) dalam Jaringan Indonesia Research and Education Network (IdREN)
SKRIPSI
71818518097500
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Teknik Program S-1
Pada Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Fakultas Teknik
Universitas Gadjah Mada
Disusun oleh :
ILHAM APRILIAN
13/350076/TK/41243
Telah disetujui dan disahkan
pada tanggal 11 Juli 2018
Dosen Pembimbing I
Widyawan, S.T., M.Sc., Ph.D.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

NIP 197312042002121001
Dosen Pembimbing II
Warsun Najib, S.T., M.Sc.

NIP 197311251998031003
HALAMAN PERSEMBAHANKATA PENGANTARPuji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik.

Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis telah banyak menerima bimbingan, ide, ataupun bantuan lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
Bapak Dr.Eng. Suharyanto, S.T., M.Eng., selaku Ketua Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Bapak Widyawan, S.T., M.Sc., Ph.D. selaku dosen pembimbing pertama yang telah membantu memberikan saran dan masukan pada penulisan serta penelitian ini.

Bapak Warsun Najib, S.T., M.Sc. selaku dosen pembimbing kedua yang telah membantu memberikan saran dan masukan pada penulisan serta penelitian ini
Bapak Ir., P. Insap Santosa, M.Sc., Ph.D. selaku dosen pembimbing akademik yang telah membantu dan membimbing penulis selama masa kuliah.

Seluruh Bapak dan Ibu Dosen serta Karyawan DTETI FT UGM karena telah membantu dan membimbing penelus selama masa kuliah.

Keluarga Penulis Ibu, Ayah, dan Mamah yang selalu memberikan semangat penulis untuk cepat selesai mengerjakan penulisan ini.

Adik penulis Izzan, Auliya dan Sunan yang selalu menemani penulis ketika jenuh.

Sahabat penulis dari SMP hingga saat ini Nanda, Ipul, Ikhsan dan Iqbal yang selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul ketika penulis di Jakarta.

Sahabat penulis selama perkuliahan Fikry dan Ihsan yang selalu membantu penulis selama masa perkuliahan baik dalam akademis maupun non-akademis.

Teman-teman IT UGM 2013 Fadhol, Dhanu, Hirzi, Zaky yang selalu membantu penulis dalam tugas kelompok.

Teman-teman Kudeta Squad Waode, Anto, Dewi, Yudi dan Resti yang selalu menyempatkan waktu untuk makan bersama ketika akhir bulan.

Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Yogyakarta, 20 Juni 2018
Penulis
DAFTAR ISI TOC o “1-3” h z u HALAMAN PENGESAHAN PAGEREF _Toc519018955 h iiHALAMAN PERSEMBAHAN PAGEREF _Toc519018956 h iiiKATA PENGANTAR PAGEREF _Toc519018957 h ivDAFTAR ISI PAGEREF _Toc519018958 h viDAFTAR TABEL PAGEREF _Toc519018959 h xDAFTAR GAMBAR PAGEREF _Toc519018960 h xiiDAFTAR SINGKATAN PAGEREF _Toc519018961 h xviiIntisari PAGEREF _Toc519018962 h xxiAbstract PAGEREF _Toc519018963 h xxiiBab I PAGEREF _Toc519018964 h 11.1Latar Belakang PAGEREF _Toc519018965 h 11.2Rumusan Masalah PAGEREF _Toc519018966 h 31.3Tujuan Penelitian PAGEREF _Toc519018967 h 31.4Batasan Masalah PAGEREF _Toc519018968 h 41.5Sistematika Penulisan PAGEREF _Toc519018969 h 5BAB II PAGEREF _Toc519018970 h 72.1Tinjauan Pustaka PAGEREF _Toc519018971 h 72.2Dasar Teori PAGEREF _Toc519018972 h 82.2.1Jaringan Komputer PAGEREF _Toc519018973 h 82.2.2Topologi Jaringan PAGEREF _Toc519018974 h 82.2.3Tipe Jaringan Berdasarkan Area PAGEREF _Toc519018975 h 102.2.4IPv6 PAGEREF _Toc519018976 h 122.2.4.1Format Header IPv6 PAGEREF _Toc519018977 h 122.2.4.2Perbandingan IPv4 dengan IPv6 PAGEREF _Toc519018978 h 142.2.4.3Fitur dan Kelebihan IPv6 PAGEREF _Toc519018979 h 142.2.4.4Pengalamatan IPv6 PAGEREF _Toc519018980 h 152.2.4.5Unicast, Anycast dan Multicast PAGEREF _Toc519018981 h 162.2.4.6Perkembangan IPv6 PAGEREF _Toc519018982 h 172.2.5Routing PAGEREF _Toc519018983 h 182.2.6Autonomous System (AS) PAGEREF _Toc519018984 h 222.2.7IGP dan EGP PAGEREF _Toc519018985 h 262.2.8Open Shortest Path First (OSPF) PAGEREF _Toc519018986 h 272.2.8.1Shortest Path First Algorithm PAGEREF _Toc519018987 h 282.2.8.2Areas and Border Router PAGEREF _Toc519018988 h 302.2.8.3OSPF Message Format PAGEREF _Toc519018989 h 302.2.9Border Gateway Protocol (BGP) PAGEREF _Toc519018990 h 322.2.9.1Format Message Header BGP PAGEREF _Toc519018991 h 332.2.9.2Atribut BGP PAGEREF _Toc519018992 h 362.2.9.3Proses Pemilihan Jalur BGP PAGEREF _Toc519018993 h 382.2.9.4Multihoming PAGEREF _Toc519018994 h 402.2.10Indonesia Research and Education Network (IdREN) PAGEREF _Toc519018995 h 412.2.11Simulasi PAGEREF _Toc519018996 h 442.2.12Simulator Jaringan PAGEREF _Toc519018997 h 452.2.12.1Cisco Packet Tracer PAGEREF _Toc519018998 h 452.2.12.2Mininet PAGEREF _Toc519018999 h 472.2.12.3GNS3 PAGEREF _Toc519019000 h 482.2.13Performa dan Kualitas Jaringan PAGEREF _Toc519019001 h 50BAB III PAGEREF _Toc519019002 h 523.1Sumber Data PAGEREF _Toc519019003 h 523.2Alat yang digunakan PAGEREF _Toc519019004 h 523.2.1Perangkat lunak PAGEREF _Toc519019005 h 523.2.2Perangakat keras PAGEREF _Toc519019006 h 533.3Diagram Alir Penelitian PAGEREF _Toc519019007 h 543.4Rancangan Topologi Jaringan PAGEREF _Toc519019008 h 553.5Rancangan Pengalamatan Jaringan PAGEREF _Toc519019009 h 563.6Konfigurasi OSPF PAGEREF _Toc519019010 h 603.7Rancangan Konfigurasi BGP PAGEREF _Toc519019011 h 623.6.1Konfigurasi iBGP pada Border Router PAGEREF _Toc519019012 h 623.6.1Konfigurasi eBGP pada seluruh Router PAGEREF _Toc519019013 h 673.8Konfogirasi Cost OSPF PAGEREF _Toc519019014 h 703.9Konfigurasi Atribut Weight PAGEREF _Toc519019015 h 723.10Konfigurasi Atribut Local preference PAGEREF _Toc519019016 h 743.11Rancangan Traffic Generator dalam Topologi PAGEREF _Toc519019017 h 743.12Rancangan Pengujian PAGEREF _Toc519019018 h 75BAB IV PAGEREF _Toc519019021 h 774.1Simulasi Pemilihan Jalur OSPF default, BGP default PAGEREF _Toc519019022 h 774.1.1Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Normal PAGEREF _Toc519019023 h 774.1.2Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Failover PAGEREF _Toc519019024 h 834.2Simulasi Pemilihan Jalur dengan adanya cost pada OSPF dan default BGP PAGEREF _Toc519019025 h 924.2.1Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Normal PAGEREF _Toc519019026 h 924.2.2Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Failover PAGEREF _Toc519019027 h 974.3Simulasi Pemilihan jalur dengan kondisi OSPF default dan BGP menggunakan atribut weight dan local preference PAGEREF _Toc519019028 h 1034.3.1Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Normal PAGEREF _Toc519019029 h 1034.3.2Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi Failover PAGEREF _Toc519019030 h 1084.4Simulasi pemilihan jalur dengan kondisi OSPF dengan menggunakan cost dan BGP menggunakan atribut weight dan local preference PAGEREF _Toc519019031 h 1144.4.1Pemilihan jalur dari router UI menuju router ITS dengan Kondisi Normal PAGEREF _Toc519019032 h 1144.4.2Pemilihan Jalur dari router UI menuju router ITS dengan Kondisi Failover PAGEREF _Toc519019033 h 1194.5Rangkuman Simulasi PAGEREF _Toc519019034 h 124BAB V PAGEREF _Toc519019035 h 1265.1Kesimpulan PAGEREF _Toc519019036 h 1265.2Saran PAGEREF _Toc519019037 h 127Daftar pustaka PAGEREF _Toc519019038 h 128Lampiran PAGEREF _Toc519019039 h 132
DAFTAR TABEL TOC h z c “Tabel 2.” Tabel 2. 1 Perbandingan IPv6 dengan IPv4 PAGEREF _Toc517583017 h 14Tabel 2. 2 ASN Peers yang terhubung dengan IdREN PAGEREF _Toc517583018 h 23Tabel 2. 3 Daftar ASN universitas di Indonesia PAGEREF _Toc517583019 h 25Tabel 2. 4 Perbandingan BGP dengan protokol routing lain PAGEREF _Toc517583020 h 32Tabel 2. 5 Protokol yang didukung Packet Tracer PAGEREF _Toc517583021 h 47 TOC h z c “Gambar 3.”
Gambar 3. 1 Diagram alir penelitian PAGEREF _Toc517583026 h 54Gambar 3. 2 Topologi IdREN PAGEREF _Toc517583027 h 56Gambar 3. 3 Pengalamatan router IdREN PAGEREF _Toc517583028 h 57Gambar 3. 4 Topologi cost OSPF PAGEREF _Toc517583029 h 72Gambar 3. 5 Iperf Client PAGEREF _Toc517583030 h 75 TOC h z c “Tabel 4.”
Tabel 4. 1 Jalur yang dilalui router UI menuju router ITS PAGEREF _Toc519019359 h 80Tabel 4. 2 Waktu konvergensi OSPF PAGEREF _Toc519019360 h 82Tabel 4. 3 Waktu konvergensi BGP PAGEREF _Toc519019361 h 82Tabel 4. 4 Jalur yang dilewati router UI menuju router ITS PAGEREF _Toc519019362 h 89Tabel 4. 5 Waktu konvergensi OSPF PAGEREF _Toc519019363 h 96Tabel 4. 6 Waktu konvergensi BGP PAGEREF _Toc519019364 h 96Tabel 4. 7 Jalur yang dilewati router UI menuju ITS PAGEREF _Toc519019365 h 100Tabel 4. 8 Jalur yang dilewati router UI menuju ITS PAGEREF _Toc519019366 h 105Tabel 4. 9 Tabel waktu konvergensi OSPF PAGEREF _Toc519019367 h 107Tabel 4. 10 Tabel waktu konvergensi BGP PAGEREF _Toc519019368 h 107Tabel 4. 11 Jalur yang dilewati router UI menuju ITS PAGEREF _Toc519019369 h 111Tabel 4. 12 Jalur yang digunakan dari UI menuju ITS PAGEREF _Toc519019370 h 116Tabel 4. 13 Tabel waktu konvergensi OSPF PAGEREF _Toc519019371 h 118Tabel 4. 14 Tabel Waktu konvergensi BGP PAGEREF _Toc519019372 h 118Tabel 4. 15 Jalur yang dilewati router UI menuju ITS PAGEREF _Toc519019373 h 121
DAFTAR GAMBAR TOC h z c “Gambar 2.” Gambar 2. 1 Topologi Bus PAGEREF _Toc517583124 h 9Gambar 2. 2 Topologi Ring PAGEREF _Toc517583125 h 9Gambar 2. 3 Topologi Star PAGEREF _Toc517583126 h 10Gambar 2. 4 Topologi Mesh PAGEREF _Toc517583127 h 10Gambar 2. 5 LAN PAGEREF _Toc517583128 h 11Gambar 2. 6 MAN PAGEREF _Toc517583129 h 12Gambar 2. 7 Format Header IPv6 PAGEREF _Toc517583130 h 13Gambar 2. 8 Hekstets PAGEREF _Toc517583131 h 15Gambar 2. 9 Jumlah Penggunaan IPv6 PAGEREF _Toc517583132 h 17Gambar 2. 10 Penggunaan Ipv6 di Indonesia PAGEREF _Toc517583133 h 18Gambar 2. 11 Path vector protocol PAGEREF _Toc517583134 h 21Gambar 2. 12 IGP versus EGP Routing Protocols PAGEREF _Toc517583135 h 27Gambar 2. 13 Cost OSPF PAGEREF _Toc517583136 h 29Gambar 2. 14 Area border router PAGEREF _Toc517583137 h 30Gambar 2. 15 Format Fixed Header OSPF PAGEREF _Toc517583138 h 31Gambar 2. 16 iBGP dan eBGP PAGEREF _Toc517583139 h 33Gambar 2. 17 Format Message Header BGP PAGEREF _Toc517583140 h 34Gambar 2. 18 Format OPEN message PAGEREF _Toc517583141 h 35Gambar 2. 19 Atribut-atribut BGP PAGEREF _Toc517583142 h 36Gambar 2. 20 Algoritme pemilihan jalur pada BGP PAGEREF _Toc517583143 h 39Gambar 2. 21 Contoh konsep multihoming BGP PAGEREF _Toc517583144 h 41Gambar 2. 22 Infrastruktur IdREN saat ini PAGEREF _Toc517583145 h 42Gambar 2. 23 Arsitekrut IdREN di masa depan PAGEREF _Toc517583146 h 43Gambar 2. 24 IdREN Gate dan Node 2016 PAGEREF _Toc517583147 h 43Gambar 2. 25 Tampilan antarmuka Cisco Packet Tracer PAGEREF _Toc517583148 h 46Gambar 2. 26 Tampilan antarmuka Mininet PAGEREF _Toc517583149 h 48Gambar 2. 27 Tampilan antarmuka GNS3 PAGEREF _Toc517583150 h 49 TOC h z c “Gambar 3.”
Gambar 3. 1 Diagram alir penelitian PAGEREF _Toc517583151 h 54Gambar 3. 2 Topologi IdREN PAGEREF _Toc517583152 h 56Gambar 3. 3 Pengalamatan router IdREN PAGEREF _Toc517583153 h 57Gambar 3. 4 Topologi cost OSPF PAGEREF _Toc517583154 h 72Gambar 3. 5 Iperf Client PAGEREF _Toc517583155 h 75 TOC h z c “Gambar 4.”
Gambar 4. 1 Traceroute router UI ke ITS PAGEREF _Toc519017983 h 76Gambar 4. 2 Tabel routing UI menuju ITS PAGEREF _Toc519017984 h 77Gambar 4. 3 BGP routing table router UI PAGEREF _Toc519017985 h 77Gambar 4. 4 BGP routing table longer-prefix router UI PAGEREF _Toc519017986 h 78Gambar 4. 5 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS PAGEREF _Toc519017987 h 78Gambar 4. 6 tabel routing BGP UI-IdREN PAGEREF _Toc519017988 h 79Gambar 4. 7 tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN PAGEREF _Toc519017989 h 79Gambar 4. 8 tabel routing ITS-IdREN menuju ITS PAGEREF _Toc519017990 h 80Gambar 4. 9 Jalur router UI menuju router ITS PAGEREF _Toc519017991 h 81Gambar 4. 10 Traceroute router UI menuju router ITS PAGEREF _Toc519017992 h 83Gambar 4. 11 Tabel routing router UI menuju ITS PAGEREF _Toc519017993 h 84Gambar 4. 12 tabel routing BGP UI menuju ITS PAGEREF _Toc519017994 h 84Gambar 4. 13 Tabel routing BGP UI-IdREN menuju ITS PAGEREF _Toc519017995 h 84Gambar 4. 14 tabel routing BGP UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN PAGEREF _Toc519017996 h 85Gambar 4. 15 Traceroute UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN PAGEREF _Toc519017997 h 86Gambar 4. 16 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN PAGEREF _Toc519017998 h 86Gambar 4. 17 tabel routing ITB-IdREN menuju loopback ITS-IdREN PAGEREF _Toc519017999 h 87Gambar 4. 18 Tabel routing BGP ITB-IdREN menuju loopback ITS-IdREN PAGEREF _Toc519018000 h 87Gambar 4. 19 Tabel routing BGP ITS-IdREN menuju ITS PAGEREF _Toc519018001 h 88Gambar 4. 20 tabel routing ITS-IdREN menuju ITS PAGEREF _Toc519018002 h 88Gambar 4. 21 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS PAGEREF _Toc519018003 h 90Gambar 4. 22 Traceroute dari router UI menuju router ITS PAGEREF _Toc519018004 h 91Gambar 4. 23 Tabel routing UI menuju ITS PAGEREF _Toc519018005 h 92Gambar 4. 24 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS PAGEREF _Toc519018006 h 92Gambar 4. 25 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN PAGEREF _Toc519018007 h 93Gambar 4. 26 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN PAGEREF _Toc519018008 h 93Gambar 4. 27 Alamat interface serial1/2 router UI-IdREN PAGEREF _Toc519018009 h 94Gambar 4. 28 Tabel routing ITS-IdREN menuju ITS PAGEREF _Toc519018010 h 94Gambar 4. 29 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS PAGEREF _Toc519018011 h 95Gambar 4. 30 Traceroute router UI menuju ITS PAGEREF _Toc519018012 h 97Gambar 4. 31 Tabel routing router UI menuju ITS PAGEREF _Toc519018013 h 97Gambar 4. 32 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS PAGEREF _Toc519018014 h 98Gambar 4. 33 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN PAGEREF _Toc519018015 h 98Gambar 4. 34 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN PAGEREF _Toc519018016 h 99Gambar 4. 35 Tabel routing Telkom-IdREN menuju loopback ITS-IdREN PAGEREF _Toc519018017 h 99Gambar 4. 36 Tabel routing ITS-IdREN menuju ITS PAGEREF _Toc519018018 h 100Gambar 4. 37 Jalur yang digunakan router UI menuju Router ITS PAGEREF _Toc519018019 h 101Gambar 4. 38 Traceroute router UI menuju router ITS PAGEREF _Toc519018020 h 102Gambar 4. 39 Tabel routing router UI menuju ITS PAGEREF _Toc519018021 h 103Gambar 4. 40 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS PAGEREF _Toc519018022 h 103Gambar 4. 41 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback router ITS-IdREN PAGEREF _Toc519018023 h 104Gambar 4. 42 Tabel routing ITS-IdREN menuju router ITS PAGEREF _Toc519018024 h 104Gambar 4. 43 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS PAGEREF _Toc519018025 h 106Gambar 4. 44 Traceroute router UI menuju ITS PAGEREF _Toc519018026 h 108Gambar 4. 45 Tabel routing UI-IdREN menuju ITS PAGEREF _Toc519018027 h 108Gambar 4. 46 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju router ITS PAGEREF _Toc519018028 h 109Gambar 4. 47 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN PAGEREF _Toc519018029 h 109Gambar 4. 48 Tabel routing BGP UI-IdREN menuju loopback UB-IdREN PAGEREF _Toc519018030 h 110Gambar 4. 49 Tabel routing ITS-IdREN menuju router ITS PAGEREF _Toc519018031 h 110Gambar 4. 50 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS PAGEREF _Toc519018032 h 112Gambar 4. 51 Traceroute router UI menuju router ITS PAGEREF _Toc519018033 h 113Gambar 4. 52 Tabel routing router UI menuju router ITS PAGEREF _Toc519018034 h 113Gambar 4. 53 Tabel routing UI-IdREN menuju router ITS PAGEREF _Toc519018035 h 114Gambar 4. 54 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback ITS PAGEREF _Toc519018036 h 114Gambar 4. 55 Tabel routing BGP UI-IdREN menuju loopback UB-IdREN PAGEREF _Toc519018037 h 114Gambar 4. 56 Tabel routing BGP ITS-IdREN menuju ITS PAGEREF _Toc519018038 h 115Gambar 4. 57 Tabel routing ITS-IdREN menuju ITS PAGEREF _Toc519018039 h 115Gambar 4. 58 Jalur router UI menuju router ITS PAGEREF _Toc519018040 h 117Gambar 4. 59 Traceroute router UI menuju router ITS PAGEREF _Toc519018041 h 119Gambar 4. 60 Tabel routing router UI menuju router ITS PAGEREF _Toc519018042 h 119Gambar 4. 61 Tabel routing router UI-IdREN menuju router ITS PAGEREF _Toc519018043 h 119Gambar 4. 62 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN PAGEREF _Toc519018044 h 120Gambar 4. 63 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN PAGEREF _Toc519018045 h 120Gambar 4. 64 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback UB-IdREN PAGEREF _Toc519018046 h 120Gambar 4. 65 Tabel routing ITS-IdREN menuju ITS PAGEREF _Toc519018047 h 121Gambar 4. 66 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS PAGEREF _Toc519018048 h 122Gambar 4. 67 Jalur yang digunakan UI menuju ITS pada kondisi normal PAGEREF _Toc519018049 h 123Gambar 4. 68 Diagram Waktu rata-rata konvergensi OSPF dan BGP PAGEREF _Toc519018050 h 124
DAFTAR SINGKATANA
ABR Area Boundary Router
ACK Acknowledgment
AD Administrative distance
AH Authentication Header
AS Autonomous System
ASBR Autonomous System Boundary Router
ASN Autonomous System Numer
B
BGP Border Gateway Protocol
C
CLI Command Line Interface
E
eBGP External Border Gateway Protocol
EGP Exterior Gatewal Protocol
ESP Encapsulation Security Payload
G
GNS3 Graphical Network Simulator 3
GUI Graphical User Interface
H
HAN Home Area Network
I
IANA Internet Assigned Number Authority
iBGP Internal Border Gateway Protocol
ID Identifier
IdREN Indonesian Research and Education Network
IETF Internet Engineering Task Force
IGP Interior Gateway Protocol
INHERENT Indonesia Higher Education and Research Network
IOS Internetworking Operating System
IP Internet Protocol
IPv4 Internet Protocol version 4
IPv6 Internet Protocol version 6
IR Internal Router
ISP Internet Service Provider
ITB Institut Teknologi Bandung
ITS Institut Teknologi Sepuluh November
L
LAN Local Area Network
M
MAN Metropolitan Area Network
MB Mega Byte
MED Multi Exit Discriminator
N
NREN National Research and Education Network
O
OSPF Open Shortest Path First
P
PAN Personal Area Network
PBR Policy Based Routing
Q
QoS Quality of Service
R
REN Research Education Network
RIP Routing Information Protocol
RFC Request for Comments
RTT Running Trip Time
T
TCP Transmission Control Protocol
TEIN Trans-Eurasia Information Network
TTL Time to Live
U
UB Universitas Brawijaya
UDP User Datagram Protocol
UGM Universitas Gadjah Mada
UI Universitas Indonesia
UNDIP Universitas Diponegoro
USU Universitas Sumatera Utara
UNTAN Universitas Tanjungpura
UNY Universitas Negeri Yogyakarta
W
WAN Wide Area Network
IntisariIdREN adalah sebuah jaringan berskala besar yang digunakan untuk keperluan penelitian dan pendidikan di Indonesia yang mengubungkan universitas-universitas dari berbagai kota maupun pulau di indonesia. Setiap universitas memiliki administrasi teknis jaringan yang berbeda-beda atau biasa dikenal dengan Autonomous System (AS). Oleh karena itu dibutuhkan sebuah protokol routing exterior (EGP) yang dapat bekerja pada AS berbeda seperti Border Gateway Protocol (BGP). BGP merupakan sebuah routing dinamis yang dapat bekerja antar AS maupun didalam AS. Selain protokol routing EGP dibutuhkan pula routing IGP yang dinamis seperti Open Shortest Path First (OSPF) agar memudahkan administrator mengkonfigurasi jaringan IdREN yang masih dalah tahap pengembangan sehingga sangat mungkin jaringan mengalami perubahan topologi seperti penambahan atau pengurangan router. Kedua routing dinamis ini dibutuhkan karena memiliki sifat scalibility, dan dapat mengoptimalkan pengiriman paket sesuai kebijakan dari administrator jaringan.

Pada penelitian ini dilakukan simulasi jaringan IdREN menggunakan perangkat lunak simulator jaringan GNS3. Simulasi ini berfokus pada proses kerja dari OSPF dan BGP dalam pemilihan jalur. Perubahan cost pada routing OSPF dan atribut seperti weight dan local preferences dalam konfigurasi router untuk mengetahui pengaruhnya pada proses pemilihan jalur. Selain itu digunakan pula parameter background traffic untuk menghasilkan latency, packet loss dan jitter pada simulasi agar jaringan memiliki beban seperti pada kondisi real. Simulasi dilakukan dengan beberapa skenario berbeda seperti melakukan pengujian dengan menggunakan atribut BGP atau cost OSPF maupun tidak.

Penelitian ini memperlihatkan hubungan antara IGP menggunakan OSPF dan EGP menggunakan BGP untuk membangun jaringan IdREN dengan menerapkan cost dan routing policy. Selain itu dapat dilihat pula waktu konvergensi OSPF tercepat terdapat pada simulasi dengan skenario tanpa adanya perubahan pada cost OSPF dan atribut BGP yaitu sebesar 30,4743 detik. Sedangkan waktu konvergensi BGP tercepat terdapat pada skenario tanpa adanya perubahan cost OSPF namun terdapat perubahan pada atribut BGP yaitu sebesar 26,9101 detik
Kata kunci: IdREN, AS, OSPF, BGP, GNS3
AbstractIdREN is a large network which is dedicated to research and education in Indonesia that connects universities from different cities and island in Indonesia. Each university has different network technical administration or known as Autonomous System (AS). Therefore it need an exterior gateway protocol (EGP) that can work on different AS like Border Gateway Protocol. BGP is a dynamic routing that can between AS although in the same AS. In addition to EGP, dynamic routing of IGP’s such as OSPF is required to make it easier for administrator to configure IdREN network that still in development stage which is possible that the network topology changes such as the addition or substraction of routers. Both dynamic routing is required because it has scalability and can optimize packet delivery according to the policy of the network administrator
In this research will be simulated IdREN network using network simulator software GNS3. This simulation will be focused on how is OSPF and BGP selected best path. The use cost of OSPF and attributes such as weight and local preference will be configured in router to determine the effect of the path selection process. In addition, the background traffic will be used to generate latency, packet loss and jitter on the network so that network has a load as real condition. The simulation will be done with several different scenarios such as testing with or without BGP’s attribute/OSPF’s cost.

This study shows the relationship between IGP using OSPF and EGP using BGP to build IdREN network by implementing cost and routing policy. It can also be seen as the fastest OSPF convergence time in the scenario without changing the cost of OSPF and BGP attributes that is equal to 30,4743 s. While the BGP convergence time is fastest in the scenario without changing the OSPF’s cost, but there is a change in the BGP’s attribute that is equal to 26,9101 s.

Keywords : IdREN, AS, OSPF, BGP, GNS3
Bab IPENDAHULUAN
Latar BelakangNational Research and Education Network (NREN) merupakan sebuah jejaring khusus antar perguruan tinggi nasional untuk pertukaran data penelitian dan juga sebagai tempat protokol dan teknologi baru diuji coba sebelum digunakan untuk publik. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas penelitian dan pendidikan di Indonesia, Pemerintah melalui Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Indonesia membangun jejaring NREN ini yang dikenal dengan IdREN (Indonesian Research and Education Network). IdREN merupakan sebuah jaringan yang digagas oleh 5 perguruan tinggi negeri yang memiliki 5 gateway di masing-masing perguruan tinggi negeri tersebut serta satu gateway tambahan yang dimiliki oleh PT.Telekomunikasi Indonesia (Telkom) sebagai pemberi fasilitas telekomunikasi untuk jaringan IdREN ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Suhardiman”, “given” : “Basuki”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “container-title” : “The 9th TEIN4 Project Meeting”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2016” }, “publisher” : “Bandung”, “publisher-place” : “Bandung”, “title” : “Indonesia Update ( ITB )”, “type” : “paper-conference” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=55a4607b-c9a8-44e5-b212-4e96da7ac935” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “1”, “plainTextFormattedCitation” : “1”, “previouslyFormattedCitation” : “1” }, “properties” : { “noteIndex” : 14 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }1. Kelima perguruan tinggi negeri yang menjadi penggagas dari IdREN adalah Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya dan Institut Teknologi Sepuluh November.

NREN tidak hanya dimiliki oleh Indonesia. NREN ini dimiliki oleh negara-negara lain di dunia yang tergabung dalam TEIN (Trans Eurasia Information Network). IdREN terhubung dengan TEIN melalui gateway yang berada di ITB. Dalam teorinya IdREN terdiri dari 6 buah border router yang berfungsi sebagai gateway yang akan terhubung dengan node-node universitas lain. Node tersebut merupakan jaringan lokal milik universitas anggota IdREN. Sehingga konfigurasi dan pengelolaannya dilakukan oleh masing-masing universitas tersebut sehingga memiliki administrasi teknis yang berbeda antar node satu dengan node yang lain atau biasa dikenal dengan sebutan Autonomous System (AS) ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “DOI” : “10.17487/rfc1771”, “ISBN” : “9788578110796”, “ISSN” : “1098-6596”, “PMID” : “25246403”, “URL” : “https://www.rfc-editor.org/info/rfc1771”, “abstract” : “applicability for this approach.”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “19” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Rekhter”, “given” : “Y.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Li”, “given” : “T.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2006” }, “title” : “A Border Gateway Protocol 4 (BGP-4) RFC 1771”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=7096c059-4355-490c-84aa-eb7f48c94826” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “2”, “plainTextFormattedCitation” : “2”, “previouslyFormattedCitation” : “2” }, “properties” : { “noteIndex” : 14 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }2. Untuk menghubungkan antar AS yang dimiliki tiap universitas dibutuhkan routing protocol khusus yang dapat berjalan pada AS yang berbeda-beda.

Routing merupakan teknik yang digunakan dalam membangun sebuah jaringan agar router dapat saling berkomunikasi. Routing sendiri memiliki arti proses pemilihan rute dalam pengiriman paket data dari suatu alamat asal ke alamat tujuan, yang menggunakan parameter/metric dalam menentukan jalur yang akan dilewati. IdREN merupakan sebuah jaringan berskala nasional yang tergolong sebagai Wide Area Network (WAN). Jaringan WAN menggunakan routing dinamis sebagai protokol routing utamanya, yang dapat membuat administrator tidak perlu mengkonfigurasi seluruh alamat yang ingin dituju oleh tiap perangkat dan apabila terdapat penambahan atau perubahan perangkat, jaringan akan melakukan konvergensi tabel routing secara otomatis. IdREN merupakan jaringan berskala besar yang memiliki AS yang berbeda-beda antar satu router atau sub-jaringan terhadap router atau sub-jaringan lainnya. Sehingga dibutuhkan sebuah protokol routing khusus yang dapat bekerja pada AS yang berbeda, protokol ini dikenal sebagai Border Gateway Protocol (BGP).

BGP merupakan protokol routing yang memungkinkan pertukaran informasi antar AS maupun didalam AS yang memiliki algoritme tersendiri dalam pemilihan jalur yang akan digunakan dalam proses pertukaran informasi AS tersebut. Sebagai Policy Based Routing (PBR), administrator jaringan dapat menentukan kebijakan dalam penentuan atau pemilihan jalur melalui atribut-atribut yang dimiliki BGP seperti weight, local preference, AS-path, origin dan multi-exit discriminator yang dapat memunculkan perbedaan gateway yang akan dilewati.

Selain itu terdapat pula routing yang berjalan didalam AS. Routing ini digolongkong pada kelompok routing Interior Gateway Protocol (IGP). Salah satu contoh dari routing ini adalah Open Shortest Path First (OSPF). OSPF merupakan sebuah routing IGP dinamis yang menggunakan cost dalam penentuan jalur yang digunakannya. Semakin kecil cost yang digunakan, semakin besar kemungkinan jalur digunakan. Nilai cost pada router dapat di atur secara langsung maupun hasil kalkulasi dari bandwidth yang digunakan jalur tersebut.

Dalam penelitian ini dilakukan simulasi untuk melakukan pengujian pada topologi jaringan IdREN terhadap pengaruh atribut-atribut yang ada pada BGP sebagai protokol routing yang berjalan berdasarkan kebijakan administrator atau Policy Based Routing (PBR) dan Open Shortest Path First (OSPF) sebagai Interior Gateway Protocol (IGP) yang memiliki cost pada tiap interfacenya. Simulasi dilakukan dengan beberapa skenario yaitu ketika seluruh gateway berfungsi secara normal dan ketika terdapat salah satu gateway yang mati. Selain itu pada simulasi ini ditambahkan parameter seperti traffic yang akan menghasilkan packet loss, latency dan jitter pada hasil pengujian, agar kondisi jaringan IdREN memiliki beban mendekati kondisi aslinya.

Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang muncul dirumuskan sebagai berikut:
Bagaimana routing policy diterapkan pada topologi jaringan IdREN.

Bagaimana pengaruh OSPF dalam topologi IdREN
Bagaimana peran dari atribut-atribut yang ditambahkan dalam routing policy tersebut dalam pemilihan jalur dengan parameter tambahan seperti background traffic
Bagaimana proses penerapan failover jika terdapat salah satu gateway yang mati.

Bagaimana performa dari simulasi jaringan IdREN berdasarkan waktu konvergensi.

Tujuan PenelitianBerdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dan manfaat penelitian ini meliputi:
Merancang dan menguji topologi IdREN menggunakan protokol routing OSPF dan BGP.

Memahami proses pemilihan jalur berdasarkan atribut-atribut BGP seperti weight, local preference dan cost pada OSPF dengan diberikan parameter background traffic untuk menyebabkan adanya latency dan packet loss dalam jaringan.

Menguji penerapan failover pada kondisi jaringan ketika terdapat salah satu gateway yang mati.

Mengetahui performa dari simulasi jaringan IdREN yang menerapkan routing policy maupun tidak berdasarkan waktu konvergensi OSPF dan BGP.

Batasan MasalahAgar pembahasan masalah dalam penetian ini tidak menyimpang dari apa yang telah ditentukan serta untuk menyederhanakan masalah yang akan diamati maka diperlukan batasan-batasan masalah yang akan dipecahkan. Berikut adalah batasan-batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Simulasi jaringan ini menggunakan perangkat lunak GNS3 2.1.0.

Router yang digunakan dalam simulasi ini adalah router Cisco 3660 seri c3600. Dengan versi IOS 12.4.

Topologi yang diuji adalah topologi IdREN dengan nomer AS sesuai dengan yang dimiliki tiap universitas tanpa menyertakan jaringan dari masing-masing universitas.

Protokol routing yang digunakan adalah BGP untuk antar AS berbeda dan OSPF pada AS gateway router IdREN.

Pengalamatan menggunakan IPv6 agar memiliki alokasi alamat yang lebih banyak untuk dapat digunakan
Menggunakan parameter traffic agar menghasilkan latency, packet loss dan jitter pada proses simulasi untuk memberikan hasil yang mendekati kondisi asli IdREN.

Pengujian performa hanya berdasarkan waktu konvergensi BGP dan OSPF yang terjadi dan tidak mengkaji mengenai cara peningkatan performa tersebut
Sistematika PenulisanSistematika dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:
BAB I: PENDAHULUAN
Bab ini memuat mengenai latar belakang masalah dari penelitian, rumusan masalah yang didapat, batasan masalah yang digunakan, tujuan penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI
Bab ini memuat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang dapat digunakan sebagai tinjauan dalam menjalankan penelitian ini dan juga memuat teori-teori yang memiliki relevansi dengan skripsi dan penelitian ini. Teori-tori yang dimuat dapat dijadikan dasar pengetahuan terhadap penelitian ini
BAB III: METODE PENELITIAN
Bab ini memuat langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian seperti pengambilan sumber data, alat yang digunakan dalam penelitian, rancangan alur penelitian, rancangan topologi jaringan, rancangan pengalamatan, rancangan konfigurasi routing protocol serta rancangan pengujian yang dilakukan.

BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi hasil simulasi dan pengujian terhadap skenario yang diteliti serta analisis dan pembahasan yang didapatkan dari pengujian.

BAB V: PENUTUP
Bab ini memuat kesimpulan akhir dari penelitian yang telah dilakukan dan memberikan saran-saran yang perlu disampaikan agar penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanju.

BAB IIDASAR TEORI
Tinjauan PustakaPenelitian mengenai BGP telah dilakukan sebelumnya oleh beberapa orang, diantaranya dilakukan oleh Pilihanto (2008). Penelitian tersebut melakukan perbaikan routing dengan melakukan perpindahan dari routing statis menjadi routing dinamis ke BGP, Namun penelitian tersebut tidak melakukan konfigurasi pada atribut yang dimiliki BGP, sehingga pemilihan jalur hanya berdasarkan pada atribut default yang dimiliki BGP yaitu AS_path. Penelitian ini tidak meneliti bagaimana pengaruh atribut utama pada BGP seperti weight, local preference dan atribut lainnya.

Peneliti lainnya yang meneliti mengenai BGP adalah Indah (2014), pada penelitiannya simulasi BGP dilakukan dengan membuat jaringan tidak nyata yang menghubungkan beberapa universitas semu yang memiliki nomer AS private. Pada penelitian ini digunakan atribut weight dan local preference di dalam routing policy, namun pengalamatan yang dilakukan masih menggunakan IPv4. Setelah itu penelitian ini dilanjutkan oleh Ramadhan (2015) dengan mensimulasikan jaringan nyata NREN yang dulu dikenal dengan nama INHERENT (Indonesia Higher Education Network). Pada penelitian ini telah digunakan IPv6 tetapi yang digunakan dalam routing policy hanya satu atribut yaitu weight. Selain itu pada simulasi tidak menggunakan parameter tambahan seperti traffic generator yang berfungsi untuk membuat router memiliki beban traffic seperti pada kondisi real saat melakukan simulasi.

Kemudian terdapat pula penelitian BGP yang dilakukan oleh Fikry (2017), pada penelitian ini simulasi menggunakan sudah menggunakan IPv6 dan telah menggunakan 2 atribut BGP yaitu weight dan local preference. Namun pada penelitian ini routing IGP (Interior Gateway Protocol) masih menggunakan routing statis.

Penelitian ini melanjutkan penelitian sebelum-sebelumnya yaitu dengan menggunakan routing OSPF (Open Short Path First) sebagai IGP (Interior Gateway Protocol) dan BGP (Border Gateway Protocol) sebagai EGP (Exterior Gateway Protocol) yang diharapkan dapat lebih memudahkan administrator dalam mengelola jaringannya. Selain itu akan digunakan pula atribut weight dan local preference di dalam routing policy agar dapat memberikan hasil yang lebih terperinci dalam pemilihan jalur routing, serta akan dilakukan pula pengalamatan dengan menggunakan IPv6 karena saat ini sudah dimulainya migrasi dari IPv4 menuju IPv6 ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “URL” : “http://www.google.com/intl/en/ipv6/statistics.html”, “abstract” : “We are continuously measuring the availability of IPv6 connectivity among Google users. The graph shows the percentage of users that access Google over IPv6.”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “19” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Google”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2014” }, “title” : “IPv6 Adoption”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=04e20792-59c3-4d9e-9638-adbdbb7bf9af” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “3”, “plainTextFormattedCitation” : “3”, “previouslyFormattedCitation” : “3” }, “properties” : { “noteIndex” : 21 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }3. Topologi yang disimulasikan merupakan topologi milik IdREN yang masih dalam tahap pengembangan, yang merupakan NREN pengganti INHERENT yang sudah tidak aktif lagi.
Dasar TeoriJaringan KomputerJaringan komputer adalah suatu sistem terdistribusi yang dapat saling berkomunikasi yang terdiri dari beberapa komputer maupun perangkat lain, dimana terdapat bagian yang bekerja sebagai transmitter dan sisi lainnya sebagai receiver. Perangkat ini saling berkomunikasi melalui suatu medium dengan menggunakan suatu protokol tertentu yang harus disetujui oleh perangkat dalam jaringan tersebut ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “9789797630034”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Syafrizal”, “given” : “Melwin”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issue” : “June”, “issued” : { “date-parts” : “2005” }, “number-of-pages” : “1-39”, “publisher” : “diglib.amikom.ac.id”, “publisher-place” : “Yogyakarta”, “title” : “Pengantar Jaringan Komputer”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=d4550e50-ef1a-4abd-a362-07961bc75c1e” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “4”, “plainTextFormattedCitation” : “4”, “previouslyFormattedCitation” : “4” }, “properties” : { “noteIndex” : 21 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }4.

Topologi JaringanTopologi jaringan atau arsitektur jaringan adalah gambaran perencanaan hubungan antarkomputer dalam suatu jaringan yang menggunakan media transmisi (biasanya menggunakan kabel). Beberapa contoh topologi adalah sebagai berikut:
Topologi Bus
Topologi ini merupakan bentangan satu kabel yang kedua ujungnya ditutup, dimana di sepanjang kabel terdapat node-node untuk sebuah perangkat yang akan terhubung ke jaringan. Signal dalam kabel ini hanya dilewati satu arah, sehingga memungkinkan sebuah collision terjadi.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 1 Topologi Bus ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “9789797630034”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Syafrizal”, “given” : “Melwin”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issue” : “June”, “issued” : { “date-parts” : “2005” }, “number-of-pages” : “1-39”, “publisher” : “diglib.amikom.ac.id”, “publisher-place” : “Yogyakarta”, “title” : “Pengantar Jaringan Komputer”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=d4550e50-ef1a-4abd-a362-07961bc75c1e” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “4”, “plainTextFormattedCitation” : “4”, “previouslyFormattedCitation” : “4” }, “properties” : { “noteIndex” : 22 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }4
Topologi Ring
Topologi jaringan ini berupa lingkaran tertutup yang berisi node-node. Signal mengalir dua arah sehingga dapat mengindarkan terjadinya collision.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 2 Topologi Ring ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “9789797630034”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Syafrizal”, “given” : “Melwin”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issue” : “June”, “issued” : { “date-parts” : “2005” }, “number-of-pages” : “1-39”, “publisher” : “diglib.amikom.ac.id”, “publisher-place” : “Yogyakarta”, “title” : “Pengantar Jaringan Komputer”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=d4550e50-ef1a-4abd-a362-07961bc75c1e” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “4”, “plainTextFormattedCitation” : “4”, “previouslyFormattedCitation” : “4” }, “properties” : { “noteIndex” : 22 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }4
Topologi Star
Topologi ini adalah node yang berkomunikasi langsung dengan node lain melalui central node yang berupa hub atau switch. Jika salah satu node terputus tidak akan mempengaruhi node lain

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 3 Topologi Star ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “9789797630034”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Syafrizal”, “given” : “Melwin”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issue” : “June”, “issued” : { “date-parts” : “2005” }, “number-of-pages” : “1-39”, “publisher” : “diglib.amikom.ac.id”, “publisher-place” : “Yogyakarta”, “title” : “Pengantar Jaringan Komputer”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=d4550e50-ef1a-4abd-a362-07961bc75c1e” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “4”, “plainTextFormattedCitation” : “4”, “previouslyFormattedCitation” : “4” }, “properties” : { “noteIndex” : 23 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }4
Topologi Mesh
Topologi ini menghubungkan setiap node terhubung secara langsung dengan node lain melalui kabel atau nirkabel sehingga jika terdapat salah satu node atau jalur yang mati, terdapat jalur pengganti yang dapat digunakan. Topologi ini cocok untuk kondisi jaringan yang memiliki traffic tinggi.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 4 Topologi Mesh ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “9789797630034”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Syafrizal”, “given” : “Melwin”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issue” : “June”, “issued” : { “date-parts” : “2005” }, “number-of-pages” : “1-39”, “publisher” : “diglib.amikom.ac.id”, “publisher-place” : “Yogyakarta”, “title” : “Pengantar Jaringan Komputer”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=d4550e50-ef1a-4abd-a362-07961bc75c1e” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “4”, “plainTextFormattedCitation” : “4”, “previouslyFormattedCitation” : “4” }, “properties” : { “noteIndex” : 22 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }4
Tipe Jaringan Berdasarkan AreaBerdasarakan luas area-nya jaringan komputer dibagi kedalam 4 kategori, diantaranya adalah Personal Area Network, Local Area Network, Metropolitan Area Network dan Wide Area Network ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “DOI” : “10.15680/IJIRCCE.2017.”, “ISSN” : “2320-9798”, “abstract” : “Over the past few decades, Machine Learning (ML) has evolved from the endeavour of few computer enthusiasts exploiting the possibility of computers learning to play games, and a part of Mathematics (Statistics) that seldom considered computational approaches, to an independent research discipline that has not only provided the necessary base for statistical-computational principles of learning procedures, but also has developedvarious algorithms that are regularly used for text interpretation, pattern recognition, and a many other commercial purposes and has led to a separate research interest in data mining to identify hidden regularities or irregularities in social data that growing by second. This paper focuses on explaining the concept and evolution of Machine Learning, some of the popular Machine Learning algorithms and try to compare three most popular algorithms based on some basic notions. Sentiment140 dataset was used and performance of each algorithm in terms of training time, prediction time and accuracy of prediction have been documented and compared.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Jyoti”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Saini”, “given” : “Himanshi”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “container-title” : “International Journal of Innovative Research in Computer and Communication Engineering”, “id” : “ITEM-1”, “issue” : “2”, “issued” : { “date-parts” : “2017” }, “page” : “1302-1309”, “title” : “A Survey on Machine Learning: Concept, Algorithms and Applications”, “type” : “article-journal”, “volume” : “5” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=dc27e851-90b1-45a9-a093-154de36cd1d1” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “5”, “plainTextFormattedCitation” : “5”, “previouslyFormattedCitation” : “5” }, “properties” : { “noteIndex” : 22 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }5.

Personal Area Network (PAN) adalah jaringan komputer yang mencakup satu bangunan yang diorganisir oleh satu orang, biasanya di dalam kantor atau rumah. Biasanya PAN terdiri dari satu komputer, telpon, konsol video game atau perangkat lain. Jika terdapat lebih dari satu orang yang menggunakan jaringan dalam satu rumah, maka jaringan tersebut menjadi home Area network (HAN).

Local Area Network adalah jaringan komputer yang dibatasia oleh area lokal yang relatif kecil seperti dalam suatu gedung atau ruangan dalam sekolah. Biasanya jangkauan area LAN hanya sampai 200 meter. LAN sangat berguna untuk saling berbagi koneksi perangkat lunak seperti printer. LAN dapat dibangun dengan peralatan yang tidak terlalu mahal seperti hub dan kabel Ethernet.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 5 LAN ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “9789797630034”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Syafrizal”, “given” : “Melwin”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issue” : “June”, “issued” : { “date-parts” : “2005” }, “number-of-pages” : “1-39”, “publisher” : “diglib.amikom.ac.id”, “publisher-place” : “Yogyakarta”, “title” : “Pengantar Jaringan Komputer”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=d4550e50-ef1a-4abd-a362-07961bc75c1e” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “4”, “plainTextFormattedCitation” : “4”, “previouslyFormattedCitation” : “4” }, “properties” : { “noteIndex” : 23 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }4
Metropolitan Area Network (MAN) merupakan jaringan komputer yang terdiri dari beberapa LAN biasanya jaringan yang dibangun dari beberapa jaringan antar gedung yang terhubung. Contohnya adalah jaringan bank di suatu kota yang terhubung dengan jaringan bank yang berada di kota lain.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 6 MAN ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “9789797630034”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Syafrizal”, “given” : “Melwin”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issue” : “June”, “issued” : { “date-parts” : “2005” }, “number-of-pages” : “1-39”, “publisher” : “diglib.amikom.ac.id”, “publisher-place” : “Yogyakarta”, “title” : “Pengantar Jaringan Komputer”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=d4550e50-ef1a-4abd-a362-07961bc75c1e” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “4”, “plainTextFormattedCitation” : “4”, “previouslyFormattedCitation” : “4” }, “properties” : { “noteIndex” : 23 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }4
Wide Area Network (WAN) adalah jaringan dengan skala yang sangat luas, bisa mencakup jaringan antar Negara bahkan benua. Jaringan ini biasanya terhubung menggunakan media nirkabel seperti satelit atau kabel serat optik. Salah satu contoh WAN yaitu IdREN milik Indonesia dan TEIN.

IPv6Pada tahun 1980 akhir, IPv4 dirasa mulai tidak akan mencukupi kebutuhan internet pada masa mendatang dikarenakan hanya dapat menampung alamat sebanyak 32 bit, maka pada awal tahun 1990 dimulai pengembangan generasi selanjutnya dari internet protokol oleh Internet Engineering Task Force (IETF) ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “0132433109”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Stallings”, “given” : “William”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “edition” : “eighth edi”, “editor” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Horton”, “given” : “Marcia J.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2007” }, “publisher” : “Pearson Education, Inc.”, “publisher-place” : “United States of Amerika”, “title” : “Data and Computer Communication”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=40e160ff-b10f-4951-b8bf-316b91c0e9f2” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “6”, “plainTextFormattedCitation” : “6”, “previouslyFormattedCitation” : “6” }, “properties” : { “noteIndex” : 24 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }6. IPv6 secara resmi diperkenalkan sebagai generasi lanjutan dari IPv4 pada tahun 1998 dan disertai dengan diluncurkannya dokumen mengenai IPv6 yang bernama RFC 2460 ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Deering”, “given” : “S”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Hinden”, “given” : “R”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “1998” }, “number-of-pages” : “1-39”, “publisher-place” : “United States of Amerika”, “title” : “Internet Protocol, Version 6 (IPv6) Specification Status”, “type” : “report” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=61745dd5-e712-4893-ad26-9367e995a603” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “7”, “plainTextFormattedCitation” : “7”, “previouslyFormattedCitation” : “7” }, “properties” : { “noteIndex” : 24 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }7.

Format Header IPv6Paket data IPv6 terdiri dari 2 bagian utama yaitu header dan payload dengan total panjang 40 oktet dimana 1 oktet terdiri dari 8 bit yang akan diisi oleh field-field yang mengidentifikasikan suatu paket.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 7 Format Header IPv6ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “URL” : “https://www.ipv6.com/general/ipv6-header-deconstructed/”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “5”, “20” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Das”, “given” : “K”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “title” : “IPV6 HEADER DECONSTRUCTED”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=a3b55fc3-e98d-45a1-bf73-c0e8f4d47ba0” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “8”, “plainTextFormattedCitation” : “8”, “previouslyFormattedCitation” : “8” }, “properties” : { “noteIndex” : 24 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }8
Gambar 2.7 di atas merupakan format header dari IPv6 dimana terdapat 8 bagian yang berbeda. 3 dari 8 bagian di atas sama seperti IPv4 yang merupakan basic field atau field dasar yang sama dengan header IPv4 dan 5 field tambahan yang hanya ada pada header IPv6. Berikut adalah field dalam header IPv6 ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Deering”, “given” : “S”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Hinden”, “given” : “R”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “1998” }, “number-of-pages” : “1-39”, “publisher-place” : “United States of Amerika”, “title” : “Internet Protocol, Version 6 (IPv6) Specification Status”, “type” : “report” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=61745dd5-e712-4893-ad26-9367e995a603” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “7”, “plainTextFormattedCitation” : “7”, “previouslyFormattedCitation” : “7” }, “properties” : { “noteIndex” : 24 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }7:
Version (4 bit): merupakan field yang berisi versi dari IP protokol yang digunakan, karena yang digunakan IPv6 maka nilai dari version akan selalu 6 (0110).

Traffic class (8bit): atau Packet priority adalah field yang memungkinkan pengirim mengidentifikasi nilai prioritas dari paket yang akan dikirimkan dibandingkan dengan paket paket lain yang akan dikirim.

Flow label (20bit): atau QoS management merupakan field yang digunakan oleh pengirim untuk memberi label pada rangkaian paket yang memerlukan penanganan khusus.

Payload Length (16 bit): adalah field yang menunjukan seberapa panjang payload yang mengikuti header.

Next header (8 bit): field ini mengidentifikasi tipe header yang akan mengikuti header IPv6 utama.

Hop limit (8 bit): atau Time To Live (TTL) pada IPv4 merupakan sejenis counter yang berisikan nilai tertentu dan akan terus berkurang setiap melewati satu node. Saat counter bernilai 0 maka paket otomatis akan dibuang.

Source address (128 bit): merupakan field yang menunjukan alamat asal dari paket.

Destination address (128 bit): merupakan field yang menunjukan alamat tujuan dari paket.

Perbandingan IPv4 dengan IPv6Berikut adalah perbandingan antara IPv4 dengan Ipv6 dalam bentuk tabel:
Tabel 2. SEQ Tabel_2. * ARABIC 1 Perbandingan IPv6 dengan IPv4IPv6 IPv4
Panjang alamat 128 bit Panjang alamat 32 bit
Alamat merupakan bilangan biner dalam bentuk heksadesimal Alamat merupakan bilangan biner dalam bentuk desimal
IPSec IPSec bersifat opsional
Tidak mendukung broadcast karena menggunakan banyak bandwidth Masih mendukung broadcast
Tidak ada field checksum pada header Terdapat field checksum pada header
IPv6 hanya mempunyai 8 field IPv4 mempunyai 13 field
Fitur dan Kelebihan IPv6Pemilihan penggunaan IPv6 dikarenakan terbatasnya IPv4 dan sedang dilakukannya migrasi IP dari IPv4 ke IPv6, namun selain itu terdapat beberapa fitur dan kelebihan lain yang ditawarkan oleh IPv6 diantaranya sebagai berikut ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “1587051192”, “abstract” : “The updated edition of the best-selling all-in-one networking reference provides coverage of essential and cutting-edge technologies Concise overviews of technologies essential to networking professionals at all levels, from novice to expert. New chapters include coverage of important topics like VoIP and EAP Coverage of cutting edge technologies like optical networking and storage Authored by Cisco Systems, worldwide leader in networking for the Internet. “Internetworking Technologies Handbook,” Fourth Edition, is a comprehensive reference that enables networking professionals to understand and implement contemporary internetworking technologies. Master the terms, concepts, technologies, and devices used in today’s networking industry. Learn how to incorporate internetworking technologies into a LAN/WAN environment. Complete with new and updated chapters on security, storage, optical networking, scalability, and speed, this book is a complete and up-to-date reference to the topics that are essential to all networking professionals, regardless of expertise. Readers will obtain a greater understanding of LAN and WAN networking, particularly the hardware, protocols, and services involved. Fundamental technology information is provided on a broad range of integral systems and services, including detailed descriptions, review questions to ensure concept comprehension and retention, and additional resources for further study. Coverage is also extended not only to new networking concepts, but also to older, legacy systems, providing a more realistic picture of the real-world networking environments in which professionals operate. Tools and guidelines for optimizing system performancewill increase productivity and improve efficiency, helping the reader make more intelligent, cost-efficient decisions for their networks. Cisco Systems, Inc. is the worldwide leader in networking for the Internet. Cisco solutions, which include industry-leading publications from Cisco Press, educate and a provide competitive advantage to customers through more efficient and timely exchange of information, leading to cost saving, process efficiencies, and closer business relationships. These solutions form the networking foundation for many organizations worldwide.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Cisco System”, “given” : “Inc”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “container-title” : “Review Literature And Arts Of The Americas”, “edition” : “Fourth edi”, “editor” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Kane”, “given” : “John”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2003” }, “number-of-pages” : “123-128”, “publisher” : “Cisco Press”, “publisher-place” : “United States of Amerika”, “title” : “Internetworking Technologies Handbook”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=61ce3acf-766d-4335-8b62-92809909b2b2” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “9”, “plainTextFormattedCitation” : “9”, “previouslyFormattedCitation” : “9” }, “properties” : { “noteIndex” : 26 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }9:
Ruang alamat yang lebih besar untuk reachability global dan skalabilitas.

Arsitektur jaringan hirarkis untuk efisiensi routing.

Format header disederhanakan dalam penanganan paket lebih efisien.

Autoconfiguration dan mendukung plug-and-play (PnP).

Mendukung berbagai protokol routing yang dapat digunakan.

Autoconfiguration dan mendukung plug-and-play (PnP).

Peningkatan mendukung untuk mobile IP dan mobile computing devices.

Faktor keamanan menggunakan Packet Encryption (ESP: Encapsulating Security Payload) dan Source Authentication (AH: Authentication Header).

Meningkatkan jumlah alamat multicast.

Kualitas layanan (QoS)
Pengalamatan IPv6IPv6 memiliki panjang alamat 128 bit yang artinya dapat menampung sebanyak 2128 halaman, jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan IPv4 yang hanya 32 bit. IPv4 dalam penulisannya dilakukan dengan angka desimal dari 0 hingga 255 yang dibagi kedalam 4 oktet, sedangkan pada IPv6 dalam penulisannya menggunakan angka heksadesimal yang dibagi ke dalam 8 heksatet.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 8 Hekstets ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “1-58720-284-0”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Stewart”, “given” : “Brent”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Donohue”, “given” : “Denise”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “edition” : “first edit”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2010” }, “number-of-pages” : “312”, “publisher” : “Cisco Press”, “publisher-place” : “United States of Amerika”, “title” : “CCNP Routing and Switching Quick Reference”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=5237c232-d8a0-406e-9dc4-64d3dba7fdce” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “10”, “plainTextFormattedCitation” : “10”, “previouslyFormattedCitation” : “10” }, “properties” : { “noteIndex” : 27 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }10
Terdapat 3 cara penulisan alamat pada IPv6, diantaranya:
Bentuk yang lebih sering digunakan adalah x:x:x:x:x:x:x:x, dimana “x” adalah bilangan heksadesimal yang berjumlah satu hingga empat digit. Contohnya : 2403:8000:10:fffe:0:0:12:1
Bentuk selanjutnya adalah Penyederhanaan dari bentuk yang pertama, dimana pada IPv6 akan sering ditemukan angka 0 yang berderet panjang sehingga penulisan menjadi tidak efisien. Oleh karena itu angka 0 yang berderet panjang harus didefinisikan dengan symbol lain untuk mengganti deretan angka 0 yang panjang tersebut. Deret 0 dapat digantikan dengan symbol “::” tetai hanya satu symbol “::” yang diperbolehkan untuk mengganti penulisan dalam sebuah alamat. Selain itu angka 0 yang terdapat pada awalan heksatet dapat dihilangkan dan heksatet yang berisikan angka “0000” dapat dipersingkat menjadi “0”. Contohnya:
223012012636500126492012636500845820135890001957705126365001677670135890002403:0800:0000:0000:0005:08AB:FFFE:102C
2403:0800:0000:0000:0005:08AB:FFFE:102C
1108710146050002403:800:0:0:5:8AB:FFFE:102C
2403:800: :5:8AB:FFFE:102C
Bentuk alterntif ini menyisipkan angka desimal di dalam penulisan IPv6 jika format seharusnya x:x:x:x:x:x:x:x, maka pada format ini bisa menjadi x:x:x:x:x:x:d.d.d.d dimana “d” merupakan angka decimal. Contohnya: 0:0:0:0:0:0:0:13.1.68.3.

Unicast, Anycast dan MulticastIPv6 memiliki 3 jenis pengalamatan. Berikut adalah 3 jenis pengalamatan yang dimiliki IPv6:
Unicast: adalah alamat unik yang mengidentifikasikan suatu interface pada perangkat yang menggunakan IPv6. Paket yang dikirimkan ke alamat unicast akan sampai ke interface yang teridentifikasi oleh alamat tersebut.

Anycast: adalah pengalamatan yang mirip dengan unicast, namun bedanya adalah alamat unicast digunakan oleh beberapa interface dan setiap paket yang dikirim ke alamat anycast akan terkirim ke interface anggota yang terdekat sesuai dengan protokol routing yang digunakan.

Multicast: digunakan untuk mengidentifikasikan sekumpulan grup interface. Paket yang dikirimkan ke alamat multicast akan sampai ke seluruh interface yang diidentifikasikan dengan alamat tersebut.

Perkembangan IPv6IPv6 adalah protokol internet yang akan menjadi pengganti dari IPv4 yang saat ini sudah mulai tidak mencukupi. Pada Juni 2018 tercatat jumlah situs yang menggunakan Ipv6 di dunia baru mencapai 23,65% dari seluruh situs yang ada ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “URL” : “http://www.google.com/intl/en/ipv6/statistics.html”, “abstract” : “We are continuously measuring the availability of IPv6 connectivity among Google users. The graph shows the percentage of users that access Google over IPv6.”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “19” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Google”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2014” }, “title” : “IPv6 Adoption”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=04e20792-59c3-4d9e-9638-adbdbb7bf9af” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “3”, “plainTextFormattedCitation” : “3”, “previouslyFormattedCitation” : “3” }, “properties” : { “noteIndex” : 28 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }3.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 9 Jumlah Penggunaan IPv6 ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “URL” : “http://www.google.com/intl/en/ipv6/statistics.html”, “abstract” : “We are continuously measuring the availability of IPv6 connectivity among Google users. The graph shows the percentage of users that access Google over IPv6.”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “19” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Google”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2014” }, “title” : “IPv6 Adoption”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=04e20792-59c3-4d9e-9638-adbdbb7bf9af” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “3”, “plainTextFormattedCitation” : “3”, “previouslyFormattedCitation” : “3” }, “properties” : { “noteIndex” : 29 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }3
Di Indonesia sendiri penggunaan IPv6 masih sangat sedikit dengan presentase pnegguna hanya sekitar 0.13% jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan adopsi Ipv6 di India yang sekitar 31,72% dan Malaysia yang sudah sekitar 27,07% per bulan Juni 2018 ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “URL” : “http://www.google.com/intl/en/ipv6/statistics.html”, “abstract” : “We are continuously measuring the availability of IPv6 connectivity among Google users. The graph shows the percentage of users that access Google over IPv6.”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “19” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Google”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2014” }, “title” : “IPv6 Adoption”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=04e20792-59c3-4d9e-9638-adbdbb7bf9af” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “3”, “plainTextFormattedCitation” : “3”, “previouslyFormattedCitation” : “3” }, “properties” : { “noteIndex” : 29 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }3.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 10 Penggunaan Ipv6 di Indonesia ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “URL” : “https://www.google.com/intl/en/ipv6/statistics.html#tab=per-country-ipv6-adoption&tab=per-country-ipv6-adoption”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “2” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Google”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “title” : “13 per-country IPv6 adoption”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=e7103529-ff45-4fc4-8b3d-aec5c2b65c7a” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “11”, “plainTextFormattedCitation” : “11”, “previouslyFormattedCitation” : “11” }, “properties” : { “noteIndex” : 30 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }11
RoutingRouting adalah teknik yang digunakan agar paket dapat melewati jalur jalur terbaik untuk mencapai tujuan. Proses routing menggunakan layer 3 (Network Layer) dalam OSI layer untuk pertukaran informasi ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “DOI” : “10.1007/978-3-642-15775-2_25”, “ISBN” : “0309058554”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Bast”, “given” : “Hannah”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Carlsson”, “given” : “Erik”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Eigenwillig”, “given” : “Arno”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Geisberger”, “given” : “Robert”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Harrelson”, “given” : “Chris”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Raychev”, “given” : “Veselin”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Viger”, “given” : “Fabien”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Control”, “given” : “Congestion”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Benn”, “given” : “Hp”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “container-title” : “Transit Cooperative Research Program, Transportation u2026”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2010” }, “page” : “290-301”, “title” : “Fast Routing in Very Large Public Transportation Networks Using Transfer Patterns”, “type” : “article-journal”, “volume” : “6346” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=6abd1e6e-024e-481d-b892-fe3a94623948” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “12”, “plainTextFormattedCitation” : “12”, “previouslyFormattedCitation” : “12” }, “properties” : { “noteIndex” : 30 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }12. Routing bekerja dengan cara bertukar informasi untuk membangun sebuah routing tables yang akan di gunakan untuk mencari jalur terbaik. Metode routing sendiri terbagi menjadi dua, yaitu routing statis dan routing dinamis
Routing Statis
Routing statis merupakan roting yang dilakukan untuk kondisi jaringan yang tetap atau statis, dimana hanya terjadi sedikit atau bahkan tidak ada perubahan pada jaringannya. Routing statis dilakukan dengan cara mengkonfigurasi secara manual satu per satu perangkat yang dikelola administrator agar dapat terhubung dengan jaringan. Routing ini biasa digunakan pada jaringan berskala kecil. Walaupun memiliki beberapa kekurangan, routing statis merupaka metode routing paling aman karena dilakukan secara langsung oleh administrator jaringan sehingga dapat dipercaya dibandingkan dengan protokol routing lain. Hal ini dibuktikan dengan nilai administrative distance sebesar 1.

Routing Dinamis
Routing dinamis merupakan kebalikan dari routing statis. Routing ini lebih mudah dalam melakukan konfigurasi perangkat yang memilik skala jaringan yang luas dan bersifat dimanis, dimana jaringan sering mengalami perubahan jaringan baik penambahan maupun pengurangan perangkat. Selain itu routing ini tidak harus melakukan konfigurasi satu per satu oleh administrator jaringan, cukup mengkonfigurasi di titik-titik tertentu dan sisanya akan ada algoritme khusus yang akan menukarkan informasi routing sesuai dengan protokol yang digunakanADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “URL” : “http://www.routeralley.com/guides/static_dynamic_routing.pdf.”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “2” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Balchunas”, “given” : “Aaron”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “container-title” : “routeralley.com”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2007” }, “page” : “1-4”, “title” : “Static vs . Dynamic Routing”, “type” : “webpage”, “volume” : “1.21” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=7deddc5d-7c84-48a0-ba31-b5eae440743f” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “13”, “plainTextFormattedCitation” : “13”, “previouslyFormattedCitation” : “13” }, “properties” : { “noteIndex” : 31 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }13. Berikut ini beberpa contoh algoritme yang banyak diterapkan adalah sebagai berikut:
Distance Vector Protocol
Distance vector protocol merupakan protokol routing paling tua, protokol ini menggunakan beberapa pendekatan algoritme dalam penerapannya seperti algoritme Bellman-ford yang digunakan pada Routing Informating Protocol (RIPv1 dan RIPv2) dan Diffusing Update Algorithm (DUAL) yang digunakan oleh protokol routing cisco yaitu Enhanced Interior Gateway Protocol (EIGRP) ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “0321127005”, “abstract” : “PRACTICAL BGP “”I would recommend this book to network engineers,\nInternet service providers, network software developers, and IT staff\nwho need to deal with network planning and routing.”” “-Enke Chen,\nRedback Networks” Hands-on guidance for deploying and optimizing\nBGP networks-enterprise and ISP Now there’s a practical guide to\ndeploying and managing BGPv4 in “any “environment-from small enterprises\nto the largest Tier 2 and Tier 3 service providers. A team of the\nworld’s leading BGP experts brings together powerful insights into\nnetwork design, configuration, and deployment with the latest version\nof BGP-including hands-on guidance for leveraging its key enhancements.\nCoverage includes – Best practices and diverse real-world scenarios\nfor applying BGPv4 – Understanding the impact of BGP design on local\nnetworks and the global Internet backbone – Building effective BGP\npolicies: aggregation, propagation, accounting, and more – Maximizing\nscalability and performance in BGPv4 networks – BGP and network security,\nincluding Secure Origin BGP – Deploying BGP/MPLS Layer 3 VPNs – “Extensive\ntroubleshooting guidance unavailable in any other book” If you’re\na network engineer or administrator looking to drive maximum reliability\nand performance from BGP-based networks, “Practical BGP “will help\nyou get the job done-from start to finish. RUSS WHITE is a Network\nProtocols Deployment Engineer in Cisco Systems Routing DNA Team specializing\nin routing protocols. A widely recognized expert in networking, he\nco-chairs the IETF Routing Protocols Security working group, and\nco-authored Advanced IP Network Design, IS-IS for IP Networks, and\nInside Cisco IOS Software Architecture. DANNY McPHERSON is a member\nof the Architecture Team at Arbor Networks. He has held technical\nleadership positions with several global ISPs, is active within the\nIETF, and is an acknowledged expert in Internet architecture and\nsecurity. He co-authored Internet Routing Architectures, Second Edition.\nSRIHARI SANGLI, Senior Manager for MPLS and routing development at\nProcket Networks, was formerly Senior Technical Leader in Cisco’s\nIOS Routing Protocols group. He, along with others at Cisco, coded\nthe industry-first implementation of BGP/MPLS based Layer-3 VPN.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “White”, “given” : “Russ”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “McPherson”, “given” : “Danny”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Srihari”, “given” : “Sangli”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “edition” : “first edit”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2005” }, “number-of-pages” : “434”, “publisher” : “Addison-Wesley”, “publisher-place” : “Boston”, “title” : “Practical BGP”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=c6753a91-a004-439c-880a-946964c9e83b” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “14”, “plainTextFormattedCitation” : “14”, “previouslyFormattedCitation” : “14” }, “properties” : { “noteIndex” : 31 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }14.

Distance vector protocol menggunakan jarak dan arah sebagai acuan dalam menentukan jalur mana yang akan dilewatkan. Beberapa karakteristik protokol ini adalah ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “URL” : “http://www.ciscopress.com/articles/article.asp?p=24090&seqNum=3”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “5”, “20” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Doyle”, “given” : “J”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “container-title” : “cisco press”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “title” : “Dynamic Routing Protocols”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=a4e427a5-8cf5-4505-8ae1-68ea4ec4f6a8” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “15”, “plainTextFormattedCitation” : “15”, “previouslyFormattedCitation” : “15” }, “properties” : { “noteIndex” : 31 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }15:
Protokol ini akan mengirimkan advertisement untuk mempertahankan table routing-nya dengan interval waktu yang tetap (30 detik untuk RIP dan 90 detik untuk EIGRP) walaupun tidak ada perubahan dalam tabel routing
Protokol ini selalu dipercaya oleh node terdekat karena informasi table routing yang diterima sangat bergantung pada router tetangga atau biasa dikenal dengan istilah routing by rumor, sehingga setiap update tabel routing yang diberikan akan selalu diterima. Akibatnya akan ada kemungkinan terjadinya infinite loop jika suatu saat terjadi kesalahan dalam isi tabel routing.

Saat melakukan update akan selalu mengirimkan seluruh tabel routing yang dimilikinya. Oleh karena itu bandwidth yang dibutuhkan akan sangat besar, ditambah dengan update yang dilakukan secara broadcast.

Ketika terdapat interface yang mati atau terjadi penambahan network maka akan langsung dilakukan update (triggered update).

Link State Protocol
Link state protocol merupakan algoritme yang biasa digunakan pada IS-IS dan OSPF. Algoritme ini mengandalkan tiap router yang ada di dalam suatu jaringan untuk melakukan advertise dari kondisi hubungan di tiap sambungan, yang nantinya akan menghasilkan sebuah peta topologi jaringan yang utuh atau yang disebut dengan shortest path treeADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “0321127005”, “abstract” : “PRACTICAL BGP “”I would recommend this book to network engineers,\nInternet service providers, network software developers, and IT staff\nwho need to deal with network planning and routing.”” “-Enke Chen,\nRedback Networks” Hands-on guidance for deploying and optimizing\nBGP networks-enterprise and ISP Now there’s a practical guide to\ndeploying and managing BGPv4 in “any “environment-from small enterprises\nto the largest Tier 2 and Tier 3 service providers. A team of the\nworld’s leading BGP experts brings together powerful insights into\nnetwork design, configuration, and deployment with the latest version\nof BGP-including hands-on guidance for leveraging its key enhancements.\nCoverage includes – Best practices and diverse real-world scenarios\nfor applying BGPv4 – Understanding the impact of BGP design on local\nnetworks and the global Internet backbone – Building effective BGP\npolicies: aggregation, propagation, accounting, and more – Maximizing\nscalability and performance in BGPv4 networks – BGP and network security,\nincluding Secure Origin BGP – Deploying BGP/MPLS Layer 3 VPNs – “Extensive\ntroubleshooting guidance unavailable in any other book” If you’re\na network engineer or administrator looking to drive maximum reliability\nand performance from BGP-based networks, “Practical BGP “will help\nyou get the job done-from start to finish. RUSS WHITE is a Network\nProtocols Deployment Engineer in Cisco Systems Routing DNA Team specializing\nin routing protocols. A widely recognized expert in networking, he\nco-chairs the IETF Routing Protocols Security working group, and\nco-authored Advanced IP Network Design, IS-IS for IP Networks, and\nInside Cisco IOS Software Architecture. DANNY McPHERSON is a member\nof the Architecture Team at Arbor Networks. He has held technical\nleadership positions with several global ISPs, is active within the\nIETF, and is an acknowledged expert in Internet architecture and\nsecurity. He co-authored Internet Routing Architectures, Second Edition.\nSRIHARI SANGLI, Senior Manager for MPLS and routing development at\nProcket Networks, was formerly Senior Technical Leader in Cisco’s\nIOS Routing Protocols group. He, along with others at Cisco, coded\nthe industry-first implementation of BGP/MPLS based Layer-3 VPN.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “White”, “given” : “Russ”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “McPherson”, “given” : “Danny”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Srihari”, “given” : “Sangli”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “edition” : “first edit”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2005” }, “number-of-pages” : “434”, “publisher” : “Addison-Wesley”, “publisher-place” : “Boston”, “title” : “Practical BGP”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=c6753a91-a004-439c-880a-946964c9e83b” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “14”, “plainTextFormattedCitation” : “14”, “previouslyFormattedCitation” : “14” }, “properties” : { “noteIndex” : 32 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }14.

Penentuan rute ini adalah dengan melihat titik yang memiliki total nilai cost (nilai yang dapat diatur oleh administrator jaringan untuk mencapai suatu router) terendah.

Protokol ini bekerja dengan cara membuat Link State Packet (LSP) yang berisi informasi tentang jaringan yang terhubung langsung (directly conncected) seperti neighbor ID, link type dan bandwidth oleh tiap router dan akan dikirimkan ke seluruh tetangga dari router tersebut hingga seluruh router menerima LSP dari masing-masing router yang ada di dalam jaringan. Berdasarkan data LSP yang sudah didapatkan, tiap router akan membuat peta topologi dari jaringannya sehingga dalam pengiriman paket, dapat diketahui rute mana yang mempunyai cost paling sedikit diantara yang lain. Berbeda dengan distance vector yang melakukan update tiap periode waktu tertentu, penyebaran LSP hanya dilakukan saat startup oleh router dan saat adanya perubahan dalam topologi jaringan sehingga lebih efisien dibandingkan dengan protokol distance vector.

Path Vector Protocol
Path vector protocol merupakan protokol terbaru jika dibandingkan dengan dua protokol sebelumnya yaitu distance vector dan link state. Protokol ini merupakan pengembangan dari protokol distance vector yang memiliki beberapa kelemahan seperti looping, infinite count dan informasi table routing yang tidak selalu akurat.

Protokol ini menjamin tidak akan ada looping dengan cara merekam tiap hop dari routing advertisement yang melintasi jaringan ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “0321127005”, “abstract” : “PRACTICAL BGP “”I would recommend this book to network engineers,\nInternet service providers, network software developers, and IT staff\nwho need to deal with network planning and routing.”” “-Enke Chen,\nRedback Networks” Hands-on guidance for deploying and optimizing\nBGP networks-enterprise and ISP Now there’s a practical guide to\ndeploying and managing BGPv4 in “any “environment-from small enterprises\nto the largest Tier 2 and Tier 3 service providers. A team of the\nworld’s leading BGP experts brings together powerful insights into\nnetwork design, configuration, and deployment with the latest version\nof BGP-including hands-on guidance for leveraging its key enhancements.\nCoverage includes – Best practices and diverse real-world scenarios\nfor applying BGPv4 – Understanding the impact of BGP design on local\nnetworks and the global Internet backbone – Building effective BGP\npolicies: aggregation, propagation, accounting, and more – Maximizing\nscalability and performance in BGPv4 networks – BGP and network security,\nincluding Secure Origin BGP – Deploying BGP/MPLS Layer 3 VPNs – “Extensive\ntroubleshooting guidance unavailable in any other book” If you’re\na network engineer or administrator looking to drive maximum reliability\nand performance from BGP-based networks, “Practical BGP “will help\nyou get the job done-from start to finish. RUSS WHITE is a Network\nProtocols Deployment Engineer in Cisco Systems Routing DNA Team specializing\nin routing protocols. A widely recognized expert in networking, he\nco-chairs the IETF Routing Protocols Security working group, and\nco-authored Advanced IP Network Design, IS-IS for IP Networks, and\nInside Cisco IOS Software Architecture. DANNY McPHERSON is a member\nof the Architecture Team at Arbor Networks. He has held technical\nleadership positions with several global ISPs, is active within the\nIETF, and is an acknowledged expert in Internet architecture and\nsecurity. He co-authored Internet Routing Architectures, Second Edition.\nSRIHARI SANGLI, Senior Manager for MPLS and routing development at\nProcket Networks, was formerly Senior Technical Leader in Cisco’s\nIOS Routing Protocols group. He, along with others at Cisco, coded\nthe industry-first implementation of BGP/MPLS based Layer-3 VPN.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “White”, “given” : “Russ”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “McPherson”, “given” : “Danny”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Srihari”, “given” : “Sangli”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “edition” : “first edit”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2005” }, “number-of-pages” : “434”, “publisher” : “Addison-Wesley”, “publisher-place” : “Boston”, “title” : “Practical BGP”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=c6753a91-a004-439c-880a-946964c9e83b” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “14”, “plainTextFormattedCitation” : “14”, “previouslyFormattedCitation” : “14” }, “properties” : { “noteIndex” : 33 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }14. Cara kerja path vector dapat dilihat pada gambar 2.11 berikut:

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 11 Path vector protocol ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “0321127005”, “abstract” : “PRACTICAL BGP “”I would recommend this book to network engineers,\nInternet service providers, network software developers, and IT staff\nwho need to deal with network planning and routing.”” “-Enke Chen,\nRedback Networks” Hands-on guidance for deploying and optimizing\nBGP networks-enterprise and ISP Now there’s a practical guide to\ndeploying and managing BGPv4 in “any “environment-from small enterprises\nto the largest Tier 2 and Tier 3 service providers. A team of the\nworld’s leading BGP experts brings together powerful insights into\nnetwork design, configuration, and deployment with the latest version\nof BGP-including hands-on guidance for leveraging its key enhancements.\nCoverage includes – Best practices and diverse real-world scenarios\nfor applying BGPv4 – Understanding the impact of BGP design on local\nnetworks and the global Internet backbone – Building effective BGP\npolicies: aggregation, propagation, accounting, and more – Maximizing\nscalability and performance in BGPv4 networks – BGP and network security,\nincluding Secure Origin BGP – Deploying BGP/MPLS Layer 3 VPNs – “Extensive\ntroubleshooting guidance unavailable in any other book” If you’re\na network engineer or administrator looking to drive maximum reliability\nand performance from BGP-based networks, “Practical BGP “will help\nyou get the job done-from start to finish. RUSS WHITE is a Network\nProtocols Deployment Engineer in Cisco Systems Routing DNA Team specializing\nin routing protocols. A widely recognized expert in networking, he\nco-chairs the IETF Routing Protocols Security working group, and\nco-authored Advanced IP Network Design, IS-IS for IP Networks, and\nInside Cisco IOS Software Architecture. DANNY McPHERSON is a member\nof the Architecture Team at Arbor Networks. He has held technical\nleadership positions with several global ISPs, is active within the\nIETF, and is an acknowledged expert in Internet architecture and\nsecurity. He co-authored Internet Routing Architectures, Second Edition.\nSRIHARI SANGLI, Senior Manager for MPLS and routing development at\nProcket Networks, was formerly Senior Technical Leader in Cisco’s\nIOS Routing Protocols group. He, along with others at Cisco, coded\nthe industry-first implementation of BGP/MPLS based Layer-3 VPN.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “White”, “given” : “Russ”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “McPherson”, “given” : “Danny”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Srihari”, “given” : “Sangli”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “edition” : “first edit”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2005” }, “number-of-pages” : “434”, “publisher” : “Addison-Wesley”, “publisher-place” : “Boston”, “title” : “Practical BGP”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=c6753a91-a004-439c-880a-946964c9e83b” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “14”, “plainTextFormattedCitation” : “14”, “previouslyFormattedCitation” : “14” }, “properties” : { “noteIndex” : 33 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }14
Dalam kasus di atas router A akan mengirimkan advertisement bahwa ia telah terhubung dengan jaringan 10.1.1.0/24 kepada router B. Kemudian router B akan menambahkan dirinya kedalam advertisement dari router A dan mengirimkannya kembali ke router C, kemudian router C juga akan menambahkan dirinya ke dalam advertisement yang dikirim oleh router B kemudian dikirimkan ke router D hingga jaringan 10.1.1.0/24 dapat tercapai oleh router D. Kemudian router D juga menambahkan dirinya ke dalam advertisement yang dikirimkan oleh router C lalu mengirimkannya ke router A. Namun router A akan menolak advertisement ini karena dirinya telah berada di dalam isi advertisement tersebut. Begitu juga saat router D mengirimkan advertisement ke router B akan selalu ditolak karena dirinya telah berada di dalam advertisement tersebut. Hal inilah yang akan menghindari terjadinya looping ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “0321127005”, “abstract” : “PRACTICAL BGP “”I would recommend this book to network engineers,\nInternet service providers, network software developers, and IT staff\nwho need to deal with network planning and routing.”” “-Enke Chen,\nRedback Networks” Hands-on guidance for deploying and optimizing\nBGP networks-enterprise and ISP Now there’s a practical guide to\ndeploying and managing BGPv4 in “any “environment-from small enterprises\nto the largest Tier 2 and Tier 3 service providers. A team of the\nworld’s leading BGP experts brings together powerful insights into\nnetwork design, configuration, and deployment with the latest version\nof BGP-including hands-on guidance for leveraging its key enhancements.\nCoverage includes – Best practices and diverse real-world scenarios\nfor applying BGPv4 – Understanding the impact of BGP design on local\nnetworks and the global Internet backbone – Building effective BGP\npolicies: aggregation, propagation, accounting, and more – Maximizing\nscalability and performance in BGPv4 networks – BGP and network security,\nincluding Secure Origin BGP – Deploying BGP/MPLS Layer 3 VPNs – “Extensive\ntroubleshooting guidance unavailable in any other book” If you’re\na network engineer or administrator looking to drive maximum reliability\nand performance from BGP-based networks, “Practical BGP “will help\nyou get the job done-from start to finish. RUSS WHITE is a Network\nProtocols Deployment Engineer in Cisco Systems Routing DNA Team specializing\nin routing protocols. A widely recognized expert in networking, he\nco-chairs the IETF Routing Protocols Security working group, and\nco-authored Advanced IP Network Design, IS-IS for IP Networks, and\nInside Cisco IOS Software Architecture. DANNY McPHERSON is a member\nof the Architecture Team at Arbor Networks. He has held technical\nleadership positions with several global ISPs, is active within the\nIETF, and is an acknowledged expert in Internet architecture and\nsecurity. He co-authored Internet Routing Architectures, Second Edition.\nSRIHARI SANGLI, Senior Manager for MPLS and routing development at\nProcket Networks, was formerly Senior Technical Leader in Cisco’s\nIOS Routing Protocols group. He, along with others at Cisco, coded\nthe industry-first implementation of BGP/MPLS based Layer-3 VPN.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “White”, “given” : “Russ”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “McPherson”, “given” : “Danny”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Srihari”, “given” : “Sangli”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “edition” : “first edit”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2005” }, “number-of-pages” : “434”, “publisher” : “Addison-Wesley”, “publisher-place” : “Boston”, “title” : “Practical BGP”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=c6753a91-a004-439c-880a-946964c9e83b” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “14”, “plainTextFormattedCitation” : “14”, “previouslyFormattedCitation” : “14” }, “properties” : { “noteIndex” : 34 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }14.

Path vector biasanya digunakan sebagai algoritme dalam penentuan jalur pada protokol routing EGP (Exterior Gateway Protocol) seperti BGP dimana pertukaran informasi routing dilakukan antar Autonomous System (AS) berbeda.

Autonomous System (AS)Autonomous System (AS) atau biasa dikenal dengan routing domain adalah sekumpulan jaringan atau router yang berada pada satu administrasi teknis yang sama seperti kebijakan routing dan alamat prefix yang sejenis, biasanya dimiliki oleh satu ISP maupun instansi atau perusahaan besar yang terhubung dengan ISP atau instansi lain. AS menggunakan IGP (Interior Gateway Protocol) dalam merutekan paket-paket yang akan dikirim di dalam AS tersebut dan EGP untuk merutekan paket yang dikirim antar AS ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “DOI” : “10.17487/rfc1771”, “ISBN” : “9788578110796”, “ISSN” : “1098-6596”, “PMID” : “25246403”, “URL” : “https://www.rfc-editor.org/info/rfc1771”, “abstract” : “applicability for this approach.”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “19” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Rekhter”, “given” : “Y.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Li”, “given” : “T.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2006” }, “title” : “A Border Gateway Protocol 4 (BGP-4) RFC 1771”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=7096c059-4355-490c-84aa-eb7f48c94826” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “2”, “plainTextFormattedCitation” : “2”, “previouslyFormattedCitation” : “2” }, “properties” : { “noteIndex” : 34 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }2. AS direpresentasikan menggunakan nomor yang disebut AS Number (ASN) antara 1- 65.535 yang sudah ditentukan oleh IANA terhadap kepemilikan dari tiap nomor tersebut ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “URL” : “http://www.iana.org/assignments/as-numbers/as-numbers.xhtml”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “2” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “IANA”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2017” }, “title” : “Autonomous System(AS) Numbers”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=aacf5b21-21d2-4834-af7c-d745ed8f02b7” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “16”, “plainTextFormattedCitation” : “16”, “previouslyFormattedCitation” : “16” }, “properties” : { “noteIndex” : 34 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }16. Pada IdREN dari 50 universitas yang sudah terhubung, ada 30 jaringan universitas yang sudah memiliki ASN nya sendiri. Selain universitas yang telah bergabung, IdREN sendiri memiliki ASN tersendiri yaitu AS64302, begitu pula INHERENT yang dulu merupakan NREN milik Indonesia menggunakan AS18007. Berikut adalah beberapa daftar ASN yang terhubung dengan IdREN dan sudah terdaftar di situs https://bgp.he.net/AS64302#_peers per tanggal 6 juni 2018:
Tabel 2. SEQ Tabel_2. * ARABIC 2 ASN Peers yang terhubung dengan IdRENRank Description IPv6    Peer   
1 INHERENT X AS18007
2 Universitas Negeri Yogyakarta X AS55674
3 Universitas Nusa Cendana   AS136059
4 Bogor Agricultural University   AS17553
5 Universitas Muhammadiyah Malang   AS46057
6 Institut Seni Indonesia Surakarta   AS136866
7 Universitas Malikussaleh   AS137299
8 UIN AR-RANIRY   AS137300
9 Universitas Hang Tuah   AS137327
10 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahin (UIN Maliki)   AS131781
11 Universitas Ahmad Dahlan   AS132642
12 Universitas Islam Negeri Suska Riau   AS133844
13 Universitas Hasanuddin   AS134614
14 Politeknik Negeri Sriwijaya X AS46047
15 Institut Teknologi Sumatera   AS45318
16 Universitas Negeri Padang   AS63499
17 Universitas Negeri Semarang   AS58400
18 Universitas Sebelas Maret   AS55684
19 Universitas Pendidikan Indonesia   AS18394
20 TELKOM UNIVERSITY   AS133357
21 Universitas Jember   AS132678
22 Universitas Negeri Surabaya   AS58822
23 Universitas Negeri Medan   AS58824
24 Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya X AS132645
25 Universitas Tadulako   AS131763
26 Politeknik Negeri Padang   AS133335
27 Universitas Udayana   AS58375
28 Syiah Kuala University (Unsyiah)   AS63510
29 Politeknik Manufaktur Negeri Bandung   AS133805
30 Universitas Sumatera Utara   AS55697
31 Institut Seni Indonesia Yogyakarta   AS63876
23 Universitas Negeri Medan   AS58824
24 Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya X AS132645
25 Universitas Tadulako   AS131763
26 Politeknik Negeri Padang   AS133335
27 Universitas Udayana   AS58375
28 Syiah Kuala University (Unsyiah)   AS63510
29 Politeknik Manufaktur Negeri Bandung   AS133805
30 Universitas Sumatera Utara   AS55697
31 Institut Seni Indonesia Yogyakarta   AS63876
32 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi   AS133826
33 Universitas Negeri Makassar   AS135481
34 Universitas Negeri Jakarta   AS131703
35 UNIVERSITAS SAM RATULANGI X AS136070
36 Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang   AS64316
37 Universitas Islam Negeri Mataram   AS136077
38 IAIN Imam Bonjol Padang   AS136104
39 Institut Teknologi Sepuluh Nopember   AS38331
40 PPTIK – UNIVERSITAS GADJAH MADA X AS45705
41 Universitas Brawijaya X AS46019
42 Universitas Diponegoro X AS46049
43 Kantor Sistem Informasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta X AS55680
44 PetraNet, Surabaya, Indonesia X AS45304
45 Universitas Tanjungpura   AS55687
46 Universitas Airlangga   AS38142
Berdasarkan tabel 2.2 di atas, sudah ada 46 jaringan universitas yang terhubung dengan IdREN, dimana baru 9 jaringan yang telah menerapkan IPv6. Berdasarkan sumber dari hasil rapat IdREN pada tanggal 10 Agustus 2016, hingga Jni 2016 sudah terdapat 29 universitas yang memiliki ASN sendiri diantaranya adalah ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “IdREN”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2016” }, “title” : “Rapat IdREN 10 Juni 2016”, “type” : “paper-conference” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=f3edc9e0-5f2b-45e3-b208-3e5ff7b667e3” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “17”, “plainTextFormattedCitation” : “17”, “previouslyFormattedCitation” : “17” }, “properties” : { “noteIndex” : 36 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }17:
Tabel 2. SEQ Tabel_2. * ARABIC 3 Daftar ASN universitas di Indonesia ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “IdREN”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2016” }, “title” : “Rapat IdREN 10 Juni 2016”, “type” : “paper-conference” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=f3edc9e0-5f2b-45e3-b208-3e5ff7b667e3” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “17”, “plainTextFormattedCitation” : “17”, “previouslyFormattedCitation” : “17” }, “properties” : { “noteIndex” : 36 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }17
No Node (ASN) Provinsi
1 UNY (55674) Yogyakarta
2 POLSRI (46047) Sumatera Selatan
3 UNSRI (132676) Sumatera Selatan
4 UNEJ (132678) Jawa Timur
5 UI (3382) Jawa Barat
6 ITB (4796) Jawa Barat
7 UB (46019) Jawa Timur
8 UGM (45705) Yogyakarta
9 ITS (33831) Jawa Timur
10 UNTAN (55687) Kalimantan Barat
11 UNG (132660) Gorontalo
12 USU (55697) Sumatera Utara
13 UAD (132642) Yogyakarta
14 UMY (58818) Yogyakarta
15 UAJY (55680) Yogyakarta
16 USD (55672) Yogyakarta
17 STIKUBANK (59138) Jawa Tengah
18 POLMAN (133805) Jawa Barat
19 TELKOM Univ. (133357) Jawa Barat
20 UNSYAH (63510) Aceh
21 ISI (63876) Yogyakarta
22 UINSUSKA (133844) Riau
23 UNRI (56254) Riau
24 UNDIP (46049) Jawa Tengah
25 UIN-Malang (131781) Jawa Timur
26 UKSW (134627) Jawa Tengah
27 UNLAM (58475) Kalimantan Selatan
28 UNHAS (134614) Sulawesi Selatan
29 UNILA (56237) Lampung
IGP dan EGPRouting dapat pula digolongkan menjadi 2 berdasarkan konsep Autonomous System (AS). Berikut adalah pembagian routing berdasarkan hubungannya dengan AS ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “9781587132063”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Graziani”, “given” : “Rick”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Johnson”, “given” : “Allan”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “edition” : “nineth”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2011” }, “number-of-pages” : “154-156”, “publisher” : “Cisco Press”, “publisher-place” : “United States of Amerika”, “title” : “Routing Protocols and Concepts CCNA Exploration Companion Guide”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=8ea07a19-3518-4a8f-a6bc-8f471a6f2344” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “18”, “plainTextFormattedCitation” : “18”, “previouslyFormattedCitation” : “18” }, “properties” : { “noteIndex” : 37 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }18:
Interior Gateway Protocol (IGP) adalah protokol yang bekerja di dalam AS. Sehingga proses pertukaran informasi routing hanya terjadi didalam satu autonomous system. IGP biasanya digunakan pada jaringan skala kecil seperti perusahaan, sekolah, bisnis dan universitas. Beberapa contoh routing bekerja pada satu AS adalah seperti Routing Information Protocol (RIP), Interior Gateway Routing protocol (IGRP), Enhanced Interior Gateway Routing protocol (EIGRP), Open Shortest Path First (OSPF) dan IS-IS.

Exterior Gateway Protocol (EGP) adalah protokol yang bekerja antar AS yang berbeda yang berada pada admnistrasi teknis yang berbeda pula. Sehingga proses penukaran informasi berada pada router antar AS. Contoh dari EGP adalah Border Gateway Protocol (BGP). BGP merupakan sebuah path vector protocol yang dapat menggunakan beberapa atribut berbeda untuk menentukan jalur mana yang akan dilewati. BGP biasanya digunakan pada level ISP atau antar perusahaan berbeda.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 12 IGP versus EGP Routing Protocols ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “9781587132063”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Graziani”, “given” : “Rick”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Johnson”, “given” : “Allan”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “edition” : “nineth”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2011” }, “number-of-pages” : “154-156”, “publisher” : “Cisco Press”, “publisher-place” : “United States of Amerika”, “title” : “Routing Protocols and Concepts CCNA Exploration Companion Guide”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=8ea07a19-3518-4a8f-a6bc-8f471a6f2344” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “18”, “plainTextFormattedCitation” : “18”, “previouslyFormattedCitation” : “18” }, “properties” : { “noteIndex” : 38 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }18
Open Shortest Path First (OSPF)Open Shortest Path First (OSPF) adalah salah satu routing protokol yang termasuk dalam kategori Interior Gateway Protocol (IGP) ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Moy”, “given” : “John”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “1998” }, “number-of-pages” : “1-244”, “publisher-place” : “Westford”, “title” : “OSPF Version 2”, “type” : “report” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=ba474834-2bc6-4589-9e10-c1dd21574d9f” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “19”, “plainTextFormattedCitation” : “19”, “previouslyFormattedCitation” : “19” }, “properties” : { “noteIndex” : 38 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }19. Routing ini merupakan routing yang dikembangkan untuk jaringan Internet Protocol (IP) pada grup protokol IGP oleh Internet Engineering Task Force (IETF). OSPF merupakan juga merupakan salah satu contoh dari Link-state routing yang didefinisikan pada RFC2328. OSPF merupakan perkembangan dari algoritme bellman-ford seperti yang digunakan RIP. Berikut ini adalah beberapa keunggulan OSPF dibandingkan dengan RIP ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Cisco”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “publisher-place” : “United States of Amerika”, “title” : “Information, Background Path, Shortest Algorithm,”, “type” : “report” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=d16765be-5ece-4c3e-9459-58df8359dc1f” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “20”, “plainTextFormattedCitation” : “20”, “previouslyFormattedCitation” : “20” }, “properties” : { “noteIndex” : 39 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }20:
OSPF tidak memiliki limit pada hop count seperti RIP, RIP memiliki nilai limit hop count sebesar 15. Jika router yang dilewati lebih dari 15 maka paket akan dibuang (unreachable).

OSPF mendukung VLSM
OSPF menggunakan multicast untuk mengirimkan link-state updates. Hal ini menyebabkan proses yang terjadi pada router berkurang. Update hanya akan terjadi ketika terjadi perubahan pada routing sehingga pemakaian bandwidth lebih baik.

OSPF dapat berkonvergensi lebih cepat karena terjadi sesaat terjadinya perubahan sedangkan RIP melakukan perubahan secara periodik.

OSPF dapat melakukan load balancing dengan lebih baik
OSPF adalah sebuah protokol link-state, link yang dimaksud seperti interface pada sebuah router dan state dari link tersebut adalah deskripsi dari interface tersebut dan hubunganya dengan router tetangganya. Deskripsi dari interface dapat berupa alamat IP address dari interface, net-mask, jaringannya terhubung ke mana maupun router tersebut terhubung dengan jaringan yang mana. Seluruh link-state ini disebut link-state database.

Shortest Path First AlgorithmSeperti protokol routing link-state lainnya, OSPF mempunya beberapa fitur ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “URL” : “http://www.nptel.ac.in/courses/106105080/pdf/Module7.pdf”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “2” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Khargpur”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “title” : “Routing and Congestion Control”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=9c789a98-c63f-4e78-a7e8-dc547075d094” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “21”, “plainTextFormattedCitation” : “21”, “previouslyFormattedCitation” : “21” }, “properties” : { “noteIndex” : 39 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }21:
Advertisement: mengirim seluruh routing tabel, setiap router akan mengirim routing tabel yang dia miliki kemudian mengirimkannya kembali ke router tetangganya
Flooding: setiap router mengirim informasi ke semua router pada seluruh jaringan, tidak hanya pada router tetangganya saja. Setiap router akan mengirim pesan ke tetangganya dan setiap router akan menerima paket dan membuat salinan paket tersebut lalu mengirimnya kembali ke tetangganya hingga semua router memiliki salinan informasi yang sama.

Active response: setiap router akan mengirimkan informasi ketika terjadinya perubahan
OSPF menggunakan algoritme Shortest Path First (SPF) untuk membuat dan menghitung jalur terpendek ke semua tujuan yang router tersebut ketahui. SPF menggunakan algoritme Djikstra untuk menemukan jalur terpendeknya. Berikut ini adalah langkah yang dilakukan pada SPF algorithm ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Cisco”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “publisher-place” : “United States of Amerika”, “title” : “Information, Background Path, Shortest Algorithm,”, “type” : “report” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=d16765be-5ece-4c3e-9459-58df8359dc1f” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “20”, “plainTextFormattedCitation” : “20”, “previouslyFormattedCitation” : “20” }, “properties” : { “noteIndex” : 39 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }20:
Ketika terjadinya inisiasi (saat pertama kali router menyala) atau saat terjadinya perubahan informasi routing, router akan membangkitkan link-state advertisement. Advertisement ini merupakan representasi dari kumpulan seluruh link-state pada router.

Kemudian setiap router akan saling bertukar informasi link-state dengan cara flooding. Setiap router yang menerima update haru menyimpan salinannya pada link-state database dan mengirimnya kembali ke router lain
Setelah database pada seluruh router lengkap atau seluruh router telah memiliki database yang sama, router akan mengkalkulasi sebuah pohon (Shortest Path Tree) yang berisi ke seluruh tujuan router. Router menggunakan algoritme Djikstra untuk menghitung pohon terpendek. Algoritme menghitung cost dan next hop untuk mencapai tujuan dari tabel routing IP.

Jika tidak terjadi perubahan pada jaringan OSPF seperti penambahan atau pengurangan jaringan, OSPF akan sangat pasif. Setiap perubahan akan selalu di informasikan melalui link-state packet dan algoritme Djikstra akan menghitung ulang untuk mencari jalur terpendek.

OSPF menggunakan cost atau biasa disebut metric pada interface merupakan acuan untuk mengirimkan paket melalui interface tersebut. Nilai cost selalu berbanding terbaling dengan bandwidth yang digunakan interface tersebut. Semakin besar bandwidthnya maka nilai costnya akan semakin kecil.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 13 Cost OSPFSecara umum, cost pada interface dapat dihitung melalu bandwidth, namun cost dapat pula didefinisikan pada interface dengan menggunakan perintah “ip ospf cost <value>” pada mode sub-konfigurasi interface.

Areas and Border RouterArea adalah sekumpulan jaringan, host dan router yang semuanya terdapat pada satu AS. Setiap area dalam suatu AS harus memiliki area spesial yang disebut backbone area. Router yang berada pada backbone area disebut backbone router. Area lain yang terdapat pada satu AS harus terhuhung memiliki hubungan langsung dengan backbone router ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Companies”, “given” : “McGraw-Hill”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2000” }, “title” : “Chapter 13 Routing Protocols ( RIP , OSPF , and BGP )”, “type” : “report” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=d9ccaf27-dcfd-4867-b09b-a57aa642fe78” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “22”, “plainTextFormattedCitation” : “22”, “previouslyFormattedCitation” : “22” }, “properties” : { “noteIndex” : 40 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }22.

OSPF menggunakan flooding untuk saling bertukan link-state updates antar router. Area digunakan untuk menahan ledakan dari link-state update. Proses flooding dan algoritme djikstra akan dibatasi oleh areanya. Semua router pada satu area akan memiliki link-state database yang sama. Router yang berada pada area lebih dari satu dan terhubung dengan backbone area disebut Area Border Router (ABR). Sedangkan sekumpulan router yang berada pada satu area disebut dengan Internal Router (IR). Selain itu terdapat pula router yang bekerja sebagai gateway (redistribution) antara protokol OSPF dan routing lain seperti BGP disebut dengan Autonomous System Boundary router (ASBR) ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Cisco”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “publisher-place” : “United States of Amerika”, “title” : “Information, Background Path, Shortest Algorithm,”, “type” : “report” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=d16765be-5ece-4c3e-9459-58df8359dc1f” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “20”, “plainTextFormattedCitation” : “20”, “previouslyFormattedCitation” : “20” }, “properties” : { “noteIndex” : 41 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }20.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 14 Area border router ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Cisco”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “publisher-place” : “United States of Amerika”, “title” : “Information, Background Path, Shortest Algorithm,”, “type” : “report” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=d16765be-5ece-4c3e-9459-58df8359dc1f” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “20”, “plainTextFormattedCitation” : “20”, “previouslyFormattedCitation” : “20” }, “properties” : { “noteIndex” : 41 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }20
OSPF Message FormatOSPF memiliki bermacam-macam format pesan yang digunakan, namun terdapat beberapa format yang selalu digunakan pesan-pesan OSPF yang biasa dikenal dengan Fixed Header. Fixed Header merupakan header yang digunakan seluruh paket OSPF yang berukuran 24-byte.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 15 Format Fixed Header OSPF ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “URL” : “http://www.nptel.ac.in/courses/106105080/pdf/Module7.pdf”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “2” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Khargpur”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “title” : “Routing and Congestion Control”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=9c789a98-c63f-4e78-a7e8-dc547075d094” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “21”, “plainTextFormattedCitation” : “21”, “previouslyFormattedCitation” : “21” }, “properties” : { “noteIndex” : 41 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }21
Version number: berisi versi yang digunakan OSPF
Type: mengidentifikasikan salah satu paket OSPF
Hello Packet: paket yang menjalin untuk mengelola neighbor relationships
Database Description: paket yang berisikan topological database. Pesan ini akan dikirim ketika telah terjadinya adjacency.

Link-State request: pesan yang dikirim ketika router menginginkan rute yang spesifik. Pesan ini dikirim sebagai balasan untuk database description.

Link-State Update: pesan balasan untuk Link-state request
Link-State Ack: Ack link-state updates packet
Message length: menentukan panjang paket, termasuk OSPF header
Source Router IP Address: mengidentifikasi asal paket
Area ID: berisikan informasi di area mana paket berada
Checksum: mendeteksi adanya eror pada paket
Autentication type: berisikan tipe otentikasi yang digunakan
Authentication: berisikan informasi otentikasi.

Data: berisikan informasi dari layer transport
Border Gateway Protocol (BGP)IdREN adalah jaringan yang berskala besar yang menghubungkan beberapa universitas yang berada pada berbagai macam pulau di indonesia dan masing masing universitas memiliki administrasi teknis yang berbeda-beda, oleh karena itu dibutuhkan suatu protokol routing yang dapat menghubungkan antar Autonomous System (AS) berbeda tersebut. Protokol yang dapat melakukanya disebut Border Gateway Protokol (BGP). Selain itu dengan rencana pengembangan IdREN yang akan menggunakan 2 atau lebih ISP atau multihoming dalam menunjang performa jaringan, BGP menjadi protokol routing yang tepat untuk mengelola jaringan ini. Berikut adalah table perbandingan BGP dengan protokol routing lainnya.

Tabel 2. SEQ Tabel_2. * ARABIC 4 Perbandingan BGP dengan protokol routing lainProtokol Routing Lingkup Kerja Skala Kompatibilitas Multihoming
BGP Antar Autonomous System Jaringan skala besar Semua perangkat Mendukung
OSPF Dalam Autonomous System Jaringan skala menengah Semua perangkat Tidak mendukung
RIP Dalam Autonomous System Jaringan skala menengah Semua perangkat Tidak mendukung
EIGRP Dalam Autonomous System Jaringan skala menengah Hanya perangkat Cisco Tidak mendukung
BGP memainkan peran penting dalam pembentukan komunikasi di internet. BGP memungkinkan terjadinya pertukaran informasi dalam jaringan antar AS maupun didalam AS. BGP merupakan protokol satu satunya yang dapat bekerja antar AS yang merupakan pengembangan dari EGP. BGP menggunakan TCP port 179 dalam proses pengiriman paket.

BGP sendiri terdiri dari 2 jenis, yaitu Internal BGP (iBGP) dan External BGP (eBGP). iBGP berperan dalam pertukaran informasi routing di dalam AS sedangkan eBGP berperan dalam pertukaran informasi antar AS. Berikut adalah gambar ilustrasi iBGP dan eBGP:

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 16 iBGP dan eBGP ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “abstract” : “Penerapan Dynamic Routing pada jaringan berskala besar menjadi perhatian penting dalam perkembangan teknologi dewasa ini khususnya dalam bidang jaringan. Namun, ada kalanya suatu jaringan mengalami gangguan seperti suatu router terputus koneksinya sehingga router-router yang lain harus melakukan update table routing. Border Gateway Protocol (BGP) menjadi sebuah metode routing protocol untuk menjamin performance routing backbone internet karena sifat scalability dan kecepatan konvergensinya yang mampu bekerja baik dalam sebuah Autonomous System (AS) maupun antar Autonomous System (AS). Di sisi lain, infrastruktur sistem routing internet telah dibangun berdasar identitas alamat Internet Protocol version 4 (IPv4) yang menjadi tulang punggung jaringan internet dunia selama bertahun-tahun. Akan tetapi, IPv4 memiliki beberapa kelemahan yaitu kurangnya alokasi alamat IP, tidak memiliki sistem perutean global dan model pengalokasian blok-blok alamat IP publik masih terpusat pada Internet Assigned Number Authority (IANA). Hal ini menjadi salah satu alasan dikembangkannya protokol internet terbaru yaitu Internet Protocol version 6 (IPv6) atau disebut Internet Protocol next generation (IPng) untuk menggantikan IPv4 yang alokasi blok alamat IP-nya mulai terbatas. Pada penelitian ini, akan dirancang dan dibuat simulasi jaringan menggunakan routing protocol BGP kemudian dilakukan analisis perbandingan antara proses path selection (pemilihan jalur) BGP pada alamat IPv6 antar Autonomous System (AS) dengan bantuan simulator jaringan GNS3. Hasil simulasi dan analisis jaringan BGP tersebut diharapkan dapat membantu pemahaman mengenai proses path selection pada BGP dan juga dapat mengidentifikasi permasalah-permasalahan yang ada pada BGP maupun IPv6 tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa proses pemilihan jalur pada topologi jaringan yang diterapkan menggunakan routing protocol BGP berdasarkan pada algoritma pemilihan jalur BGP. Penambahan atribut weight juga dapat mempengaruhi proses pemilihan jalur, sehingga atribut ini dapat digunakan untuk mengatur routing dan juga trafik masing-masing jalur sesuai kebutuhan. Kata kunci : Border Gateway Protocol, IPv6, Protokol Internet, Weight, GNS3”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Hafiz”, “given” : “Muhammad Ramadhan”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2015” }, “page” : “298231”, “title” : “Simulasi Border Gateway Protocol (Bgp) Pada Ipv6 Dalam Proses Pemilihan Jalur Routing”, “type” : “article-journal” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=338e69d1-76ea-43b6-84fc-8fe07db085ac” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “23”, “plainTextFormattedCitation” : “23”, “previouslyFormattedCitation” : “23” }, “properties” : { “noteIndex” : 40 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }23
Format Message Header BGPPesan yang dikirim BGP akan dikirim melalu koneksi TCP dengan menggunakan port 179. Pesan hanya akan diproses jika seluruh informasinya sudah diterima. Besaran maksimum dari suatu pesan yang dapat di kirim adalah adalah 4096 oktet sedangkan besar minimum pesan yang bisa di kirim adalah 19 oktet ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “DOI” : “10.17487/rfc1771”, “ISBN” : “9788578110796”, “ISSN” : “1098-6596”, “PMID” : “25246403”, “URL” : “https://www.rfc-editor.org/info/rfc1771”, “abstract” : “applicability for this approach.”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “19” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Rekhter”, “given” : “Y.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Li”, “given” : “T.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2006” }, “title” : “A Border Gateway Protocol 4 (BGP-4) RFC 1771”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=7096c059-4355-490c-84aa-eb7f48c94826” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “2”, “plainTextFormattedCitation” : “2”, “previouslyFormattedCitation” : “2” }, “properties” : { “noteIndex” : 40 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }2.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 17 Format Message Header BGP ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “DOI” : “10.17487/rfc1771”, “ISBN” : “9788578110796”, “ISSN” : “1098-6596”, “PMID” : “25246403”, “URL” : “https://www.rfc-editor.org/info/rfc1771”, “abstract” : “applicability for this approach.”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “19” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Rekhter”, “given” : “Y.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Li”, “given” : “T.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2006” }, “title” : “A Border Gateway Protocol 4 (BGP-4) RFC 1771”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=7096c059-4355-490c-84aa-eb7f48c94826” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “2”, “plainTextFormattedCitation” : “2”, “previouslyFormattedCitation” : “2” }, “properties” : { “noteIndex” : 40 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }2
Berdasarkan gambar 2.17 di atas header pesan pada BGP terdiri dari 3 field, yaitu marker, length dan typeADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “DOI” : “10.17487/rfc1771”, “ISBN” : “9788578110796”, “ISSN” : “1098-6596”, “PMID” : “25246403”, “URL” : “https://www.rfc-editor.org/info/rfc1771”, “abstract” : “applicability for this approach.”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “19” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Rekhter”, “given” : “Y.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Li”, “given” : “T.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2006” }, “title” : “A Border Gateway Protocol 4 (BGP-4) RFC 1771”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=7096c059-4355-490c-84aa-eb7f48c94826” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “2”, “plainTextFormattedCitation” : “2”, “previouslyFormattedCitation” : “2” }, “properties” : { “noteIndex” : 41 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }2. Marker adalah field berukuran 16 oktet yang biasanya bernilai 1 dan berisi informasi yang menunjukan apakah pengirim dan penerima masih tersinkronisasi atau tidak, apabila penerima menerima nilai selain 1 maka sudah terjadi kesalahan sehingga penerima akan mengirimkan peringatan eror dan memutus koneksi. Sedangkan field length berukuran 2 oktet yang berisi panjang dari pesan BGP dimana panjang minimumnya adalah 19 oktet dan maksimum 4096 oktet. Field type berukuran 1 oktet berisikan keterangan dari jenis pesan yang dibawa apakah OPEN, UPDATE, NOTIFICATION atau KEEPALIVE ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “0596002548”, “abstract” : “1st ed. Includes index. 1. The Internet, Routing, and BGP — 2. IP Addressing and the BGP Protocol — 3. Physical Design Considerations — 4. IP Address Space and AS Numbers — 5. Getting Started with BGP — 6. Traffic Engineering — 7. Security and Integrity of the Network — 8. Day-to-Day Operation of the Network — 9. When Things Start to Go Down: Troubleshooting — 10. BGP in Larger Networks — 11. Providing Transit Services — 12. Interconnecting with Other Networks — A. Cisco Configuration Basics — B. Binary Logic, Netmasks, and Prefixes — C. Notes on the IPv4 Address Space.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Beijnum”, “given” : “Iljitsch van.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “edition” : “First Edit”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2002” }, “number-of-pages” : “272”, “publisher-place” : “Sebastopol”, “title” : “Building Reliable Networks with the Border Gateway Protocol”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=dfbef792-c27f-4816-845d-75439cd9d5fb” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “24”, “plainTextFormattedCitation” : “24”, “previouslyFormattedCitation” : “24” }, “properties” : { “noteIndex” : 41 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }24.

OPEN Message
Saat koneksi TCP terbangun pesan yang pertama kali dikirimkan adalah OPEN dimana pengirim dan penerima akan saling mengirimkan pesan ini. Dalam field type pada format pesan BGP, pesan yang berjenis OPEN akan bernilai 1. Pesan ini berisi informasi penting dari konfigurasi BGP speaker. Adapun format OPEN message adalah sebagai berikut:

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 18 Format OPEN message ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “DOI” : “10.17487/rfc1771”, “ISBN” : “9788578110796”, “ISSN” : “1098-6596”, “PMID” : “25246403”, “URL” : “https://www.rfc-editor.org/info/rfc1771”, “abstract” : “applicability for this approach.”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “19” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Rekhter”, “given” : “Y.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Li”, “given” : “T.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2006” }, “title” : “A Border Gateway Protocol 4 (BGP-4) RFC 1771”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=7096c059-4355-490c-84aa-eb7f48c94826” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “2”, “plainTextFormattedCitation” : “2”, “previouslyFormattedCitation” : “2” }, “properties” : { “noteIndex” : 41 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }2
Field pertama yaitu Version berukuran 1 oktet berisi versi dari BGP yang digunakan, karena saat ini BGP yang aktif adalah versi BGP4 maka nilainya akan selalu 4. Selanjutnya field My Autonomous System berukuran 2 oktet berisi nomor AS dari pengirim. Field Hold Time berukuran 2 oktet berisi waktu maksimum dari masa idle suatu sesi sebelum akhirnya akan putus karena timeout, idle merupakan kondisi dimana router tidak akan membuat sesi BGP dan jika router tetangga mencoba untuk membuat sesi baru, koneksi TCP nya akan ditolak. BGP Identifier berukuran 4 oktet berisi identitas berupa alamat IP dari BGP speaker. Kemudian field Opt Parm Len bersifat opsional yang menunjukan ada atau tidaknya optional parameters, dan field terakhir yaitu Optional Parameters berisi kumpulan parameter tambahan yang digunakan ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “0596002548”, “abstract” : “1st ed. Includes index. 1. The Internet, Routing, and BGP — 2. IP Addressing and the BGP Protocol — 3. Physical Design Considerations — 4. IP Address Space and AS Numbers — 5. Getting Started with BGP — 6. Traffic Engineering — 7. Security and Integrity of the Network — 8. Day-to-Day Operation of the Network — 9. When Things Start to Go Down: Troubleshooting — 10. BGP in Larger Networks — 11. Providing Transit Services — 12. Interconnecting with Other Networks — A. Cisco Configuration Basics — B. Binary Logic, Netmasks, and Prefixes — C. Notes on the IPv4 Address Space.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Beijnum”, “given” : “Iljitsch van.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “edition” : “First Edit”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2002” }, “number-of-pages” : “272”, “publisher-place” : “Sebastopol”, “title” : “Building Reliable Networks with the Border Gateway Protocol”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=dfbef792-c27f-4816-845d-75439cd9d5fb” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “24”, “plainTextFormattedCitation” : “24”, “previouslyFormattedCitation” : “24” }, “properties” : { “noteIndex” : 42 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }24.
UPDATE Message
Pesan ini digunakan untuk mentransfer informasi routing antar BGP peers. Informasi dari pesan ini dapat dibentuk menjadi sebuah grafik yang menunjukan hubungan antar AS yang berbeda. Pada field type utama UPDATE message akan bernilai 2.
NOTIFICATION Message
Pesan ini hanya dikirimkan jika kondisi error terdeteksi dan akan menyebabkan terputusnya koneksi BGP. Pada field type utama NOTIFICATON message bernilai 3.

KEEPALIVE Message
Pesan ini berfungsi selayaknya mekanisme keep alive yang ada pada TCP untuk terus memperbarui hold time agar tidak habis (expired). Nilai dari pesan ini biasanya satu pertiga dari nilai hold time. Pada field type utama pesan berjenis ini bernilai 4.

Atribut BGPBorder Gateway Protocol merupakan Policy Based Routing yang bekerja berdasarkan atribut-atribut yang dimilikinya, jika pada protokol routing lain dikenal dengan sebutan metric, RIP menggunakan hop, OSPF menggunakan cost, sedangkan IS-IS menggunakan bandwidth. BGP memiliki beberapa atribut yang terbagi menjadi 4 kategori ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Shaik”, “given” : “Sikandar”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “page” : “1-325”, “publisher” : “Network Online Academy”, “publisher-place” : “India”, “title” : “CCIE Routing & Switching v5 BGP Workbook”, “type” : “article” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=f4b4f224-9c41-49ae-be15-b8cba82c0608” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “25”, “plainTextFormattedCitation” : “25”, “previouslyFormattedCitation” : “25” }, “properties” : { “noteIndex” : 42 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }25.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 19 Atribut-atribut BGP ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Shaik”, “given” : “Sikandar”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “page” : “1-325”, “publisher” : “Network Online Academy”, “publisher-place” : “India”, “title” : “CCIE Routing & Switching v5 BGP Workbook”, “type” : “article” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=f4b4f224-9c41-49ae-be15-b8cba82c0608” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “25”, “plainTextFormattedCitation” : “25”, “previouslyFormattedCitation” : “25” }, “properties” : { “noteIndex” : 43 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }25
Well-Known Mandatory
Atribut ini harus dikenali oleh seluruh router BGP, harus ada pada seluruh BGP Updates Messege dan harus dilewatkan router BGP lain. Atribut ini terdiri dari AS path, next hop dan origin.

Well-Known Discretionary
Atribut ini harus dikenali oleh seluruh router BGP dan dilewatkan ke router BGP yang lain tetapi tidak perlu ada di dalam UPDATE messege. Atribut ini antara lain adalah Local preferences dan Automic Aggregate.

Optional Transitive
Atribut ini bisa dikenali atau tidak dikenali oleh router BGP tetapi harus tetap dilewatkan ke BGP peers, contohnya adalah aggregrator dan community
Optional non-Transitive
BGP mungkin mengenali atribut ini dan tidak harus dilewatkan ke BGP peers. Contoh atribut ini adalah multi exit discriminator (MED) dan originator.

Berdasarkan kategori di atas terdapat beberapa atribut penting yang biasa digunakan antara lain adalah local preference, AS path, next hop, Multi Exit Discriminator (MED) dan origin ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “9780120885886”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Medhi”, “given” : “Deepankar”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Ramasamy”, “given” : “Karthikeyan”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2007” }, “publisher” : “Morgan Kaufmann”, “title” : “Network Routing Algorithms, Protocols and Architectures”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=7d3947a8-f090-4cb3-ba14-592c81854943” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “26”, “plainTextFormattedCitation” : “26”, “previouslyFormattedCitation” : “26” }, “properties” : { “noteIndex” : 44 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }26.

Local preference merupakan atribut yang termasuk dalam katagori well-known discretionary dimana atribut ini harus selalu ada di dalam pesan UPDATE yang diberikan oleh BGP speakers kepada peers internal. BGP akan selalu memilih nilai local preference yang paling tinggi. Pada perangkat cisco nilai maksimum dari atribut ini adalah 4294967295 namun jika tidak dilakukan konfigurasi nilai dasar atribut ini adalah 100 ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Cisco System”, “given” : “Inc”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issue” : “6387”, “issued” : { “date-parts” : “2006” }, “title” : “Command Reference Volume 2 of 3: Routing Protocols, Release 12.2”, “type” : “article-journal”, “volume” : “2” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=335d05d6-4ff8-4fe5-86ce-1366358dba6d” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “27”, “plainTextFormattedCitation” : “27”, “previouslyFormattedCitation” : “27” }, “properties” : { “noteIndex” : 44 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }27.

As path merupakan atribut yang termasuk dalam well-known mandatory sehingga harus dikenali oleh setiap router. Atribut ini menyimpan kumpulan nomor AS yang berada di dalam informasi routing dan sudah dilewati oleh pesan UPDATES.
Next hop merupakan atribut well-known mandatory yang menentukan alamat IP dari router yang harus digunakan sebagai next hop sesuai ke tujuan yang terdapat pada pesan UPDATE
Multi Exit Discriminator (MED) adalah atribut yang digunakan untuk antar AS. Atribut ini bergunakan untuk membedakan atau memisahkan multiple entry points yang masuk kedalam satu AS.

Origin merupakan tempat asal dari rute BGP baik itu rute yang berasal dari router IGP, maupun router BGP lainnya. Walaupun termasuk kategori mandatory, atribut ini tidak benar-benar memiliki fungsi dalam penerapannya.

Selain atribut di atas, terdapat satu buah atribut khusus yang hanya dimiliki oleh perangkat Cisco, yaitu weight. Pada perangkat Cisco weight merupakan atribut pertama yang akan dilihat dalam menentukan jalur terbaik. Bobot weight berkisar 0-65535 dimana nilai terbesar yang akan dipilih sebagai jalur terbaik.
Proses Pemilihan Jalur BGPBGP sebagai Policy Based Routing dalam pemilihan jalurnya tidak terlepas dari kebijakan administrator. Administrator BGP dapat mengkonfigurasi nilai-nilai pada atribut agar pemilihan jalur dapat dilakukan sesuai keinginan administrator. Untuk urutan algoritme pemilihan jalur pada BGP adalah sebagai berikut ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “156592942X”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Boney”, “given” : “James”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2001” }, “title” : “Cisco IOS in a Nutshell”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=43febd17-a521-49f8-9934-e5bdfe1e2128” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “28”, “plainTextFormattedCitation” : “28”, “previouslyFormattedCitation” : “28” }, “properties” : { “noteIndex” : 45 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }28.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 20 Algoritme pemilihan jalur pada BGPADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “156592942X”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Boney”, “given” : “James”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2001” }, “title” : “Cisco IOS in a Nutshell”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=43febd17-a521-49f8-9934-e5bdfe1e2128” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “28”, “plainTextFormattedCitation” : “28”, “previouslyFormattedCitation” : “28” }, “properties” : { “noteIndex” : 45 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }28
Pada perangkat Cisco, atribut yang akan pertama kali dilihat adalah weight. Router akan memilih jalur dengan nilai weight yang paling besar.

Pada perangkat selain Cisco, atribut yang pertama kali dilihat adalah local preference, namun atribut ini akan dicek setelah atribut weight saat perangkat yang digunakan adalah cisco. Router akan beralih dari weight ke local preference jika weight bernilai sama pada 2 atau lebih jalur. Router akan memilih AS dengan local preference yang paling besar.

Kemudian ketika local preference bernilai sama, router akan memilih default route. Kondisi ini berlaku hanya pada router cisco saja.

Jika router tidak memiliki default route, atribut yang akan dicek selanjutnya adalah AS path. Router akan mencari AS path yang paling pendek.

Atribut selanjutnya yang akan dicek adalah Origin. Router akan memilih jalur yang berasal dari IGP dibandingkan jalur yang berasal dari EGP. Kondisi ini juga hanya berlaku pada perangkat cisco
Atribut yang akan dicek selanjutnya adalah Multi Exit Discriminator (MED). Router akan memilih jalur dengan nilai MED yang paling kecil.

Jika Router memiliki nilai MED yang sama, maka router akan memilih jalur eksternal(e-BGP) daripada jalur internal (iBGP).

Kemudian jika router masih memiliki jalur yang sama, maka akan dipilih jalur yang paling dekat dengan IGP neighbor.

Jika jaraknya masih sama, maka jalur dengan router ID BGP paling kecil yang akan dipilih. Router ID adalah alamat IP yang didaftarkan ke loopback interface atau alamat IP paling tinggi yang ada pada interface yang aktif.
MultihomingMultihoming adalah kondisi dimana router atau jaringan terhubung dengan lebih dari satu ISP. Hal ini dimaksudkan untuk melakukan backup dan mempertahankan jaringan agar dapat berfungsi dengan normal saat salah satu ISP mati atau biasa dikenal dengan istilah redundancy. BGP merupakan protokol yang digunakan untuk membuat koneksi multihoming ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “1-58720-284-0”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Stewart”, “given” : “Brent”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Donohue”, “given” : “Denise”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “edition” : “first edit”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2010” }, “number-of-pages” : “312”, “publisher” : “Cisco Press”, “publisher-place” : “United States of Amerika”, “title” : “CCNP Routing and Switching Quick Reference”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=5237c232-d8a0-406e-9dc4-64d3dba7fdce” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “10”, “plainTextFormattedCitation” : “10”, “previouslyFormattedCitation” : “10” }, “properties” : { “noteIndex” : 47 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }10.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 21 Contoh konsep multihoming BGP ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISBN” : “0596002548”, “abstract” : “1st ed. Includes index. 1. The Internet, Routing, and BGP — 2. IP Addressing and the BGP Protocol — 3. Physical Design Considerations — 4. IP Address Space and AS Numbers — 5. Getting Started with BGP — 6. Traffic Engineering — 7. Security and Integrity of the Network — 8. Day-to-Day Operation of the Network — 9. When Things Start to Go Down: Troubleshooting — 10. BGP in Larger Networks — 11. Providing Transit Services — 12. Interconnecting with Other Networks — A. Cisco Configuration Basics — B. Binary Logic, Netmasks, and Prefixes — C. Notes on the IPv4 Address Space.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Beijnum”, “given” : “Iljitsch van.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “edition” : “First Edit”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2002” }, “number-of-pages” : “272”, “publisher-place” : “Sebastopol”, “title” : “Building Reliable Networks with the Border Gateway Protocol”, “type” : “book” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=dfbef792-c27f-4816-845d-75439cd9d5fb” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “24”, “plainTextFormattedCitation” : “24”, “previouslyFormattedCitation” : “24” }, “properties” : { “noteIndex” : 47 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }24
Indonesia Research and Education Network (IdREN)IdREN adalah salah satu contoh dari NREN (National Research Education Network) yang berupa jaringan dengan komunikasi data berkecepatan tinggi yang diperuntukkan untuk kebutuhan komunitas pendidikan dan penelitian yang berskala nasional. NREN memungkinkan peneliti, tenaga pengajar dan mahasiswa untuk saling berbagi informasi secara digital dengan sangat cepat dan juga memungkinkan untuk bekerja bersama secara efisien ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Hashem”, “given” : “M.M.A.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2012” }, “title” : “Understanding the Research and Education Networks”, “type” : “article-journal” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=2c38f152-d8c5-4670-8a1a-39fde605f999” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “29”, “plainTextFormattedCitation” : “29”, “previouslyFormattedCitation” : “29” }, “properties” : { “noteIndex” : 47 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }29. NREN dikelompokkan ke dalam regional-regional yang diatur oleh satu organisasi khusus seperti GEANT yang merupakan kumpulan NREN di kawasan eropa, RedCLARA di kawasan Amerika Latin, TEIN3 di kawasan Asia-Pasifik, CAREN di kawasan Asia Tengah EUMEDCONNECT2 di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah dan Ubuntu Net Alliace di kawasan Afrika Selatan dan Afrika Timur. NREN bukan digunakan untuk organisasi nonprofit karena biasanya pengembangan nya dilakukan melalui pendanaan Negara dan dikelola oleh organisasi nonprofit seperti DANTE yang mengelola GEANT, yang merupakan jaringan REN kawasan eropa yang menghubungkan lebih dari 40 juta pengguna di lebih dari 40 negara di eropa ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Hashem”, “given” : “M.M.A.”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2012” }, “title” : “Understanding the Research and Education Networks”, “type” : “article-journal” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=2c38f152-d8c5-4670-8a1a-39fde605f999” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “29”, “plainTextFormattedCitation” : “29”, “previouslyFormattedCitation” : “29” }, “properties” : { “noteIndex” : 47 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }29.

IdREN sendiri merupakan jaringan yang digagas pada tahun 2015 untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia. IdREN merupakan NREN baru milik Indonesia. Sebelumnya Indonesia memiliki NREN yang bernama INHERENT namun sudah berhenti beroperasi sejak tahun 2013. IdREN mengubungkan antar institusi penelitian dan pendidikan serta universitas sebagai sarana pertukaran data penelitian dan pendidikan serta dapat pula dijadikan sebagai tempat uji coba protokol atau teknologi baru sebelum diimplementasikan ke publik.

IdREN digagas oleh 5 perguruan tinggi yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan Universitas Brawijaya (UB) dimana kelima perguruan tinggi tersebut berperan sebagai border gateway dan ditambah satu gateway yang dimiliki oleh PT. Telekomunikasi Indonesia sebagai penyedia fasilitas telekomunikasi yang membentuk jaringan IdREN. Keenam gateway tersebut akan menjadi titik yang akan menghubungkan universitas-universitas lain yang akan bergabung dengan IdREN.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 22 Infrastruktur IdREN saat ini ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Dwiharyanto”, “given” : “Yustinus”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Ediansyah”, “given” : “Pories”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2016” }, “title” : “Indonesian Updates INHERENT to IdREN”, “type” : “article-journal” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=ca69f2b7-6999-475b-97c1-1c9b69470745” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “30”, “plainTextFormattedCitation” : “30”, “previouslyFormattedCitation” : “30” }, “properties” : { “noteIndex” : 48 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }30
IdREN saat ini hanya menggunakan satu ISP sebagai fasilitator jaringan, namun dalam pengembangannya direncanakan akan menambahkan 2 ISP sebagai fasilitator IDREN. Untuk itu diperlukan protokol BGP yang mendukung konsep multihoming sehingga jaringan IdREN dapat terkoneksi ketika terdapat salah satu ISP mati.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 23 Arsitekrut IdREN di masa depan ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Suhardiman”, “given” : “Basuki”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “container-title” : “The 9th TEIN4 Project Meeting”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2016” }, “publisher” : “Bandung”, “publisher-place” : “Bandung”, “title” : “Indonesia Update ( ITB )”, “type” : “paper-conference” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=55a4607b-c9a8-44e5-b212-4e96da7ac935” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “1”, “plainTextFormattedCitation” : “1”, “previouslyFormattedCitation” : “1” }, “properties” : { “noteIndex” : 49 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }1
IdREN tidak terhubung dengan internet tetapi dapat mengakses NREN milik negara-negara lain melalui sambungan dengan TEIN (Trans Eurasia Information Network) yang terhubung melalui gateway milik ITB. Hingga Agustus 2016 sudah ada lebih dari 50 universitas yang terhubung dengan IdREN ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Suhardiman”, “given” : “Basuki”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “container-title” : “The 9th TEIN4 Project Meeting”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2016” }, “publisher” : “Bandung”, “publisher-place” : “Bandung”, “title” : “Indonesia Update ( ITB )”, “type” : “paper-conference” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=55a4607b-c9a8-44e5-b212-4e96da7ac935” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “1”, “plainTextFormattedCitation” : “1”, “previouslyFormattedCitation” : “1” }, “properties” : { “noteIndex” : 49 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }1.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 24 IdREN Gate dan Node 2016 ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “IdREN”, “given” : “”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2016” }, “title” : “Rapat IdREN 10 Juni 2016”, “type” : “paper-conference” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=f3edc9e0-5f2b-45e3-b208-3e5ff7b667e3” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “17”, “plainTextFormattedCitation” : “17”, “previouslyFormattedCitation” : “17” }, “properties” : { “noteIndex” : 49 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }17
Berdasarkan Gambar 2.24 di atas, IdREN menggunakan topologi mesh yang setiap routernya saling terhubung secara langsung sehingga membentuk jaringan IdREN. Tujuan penggunaan topologi mesh adalah agar ketika terjadi gangguan pada salah satu jalur atau interface-nya, jaringan tetap bisa hidup tanpa ada gangguan karena memiliki banyak jalur alternatif lain yang dapat digunakan. Istilah ini dikenal dengan failover. Selain itu berdasarkan gambar 2.24 di atas jumlah bandwidth yang dialokasikan untuk IdREN berbeda-beda tergantung posisinya, untuk gateway diberikan bandwidth 100-500 Mbps dan untuk node-node yang terhubung akan memiliki bandwidth yang berbeda pula. Sedangkan khusus untuk gateway ITB diberikan bandwidth sebesar 622 Mbps karena terhubung secara langsung ke TEIN3.

SimulasiMenurut khosnevis (1994) simulasi adalah suatu proses membangun model dari sistem nyata atau usulan sistem, melakukan eksperimen dengan model tersebut untuk menjelaskan perilaku sistem, mempelajari kinerja sistem atau untuk membangun sistem baru sesuai dengan kinerja yang diinginkan. Sedangkan menurut Hoover dan Perry (1990), simulasi adalah proses perancangan model matematis atau logis dari sistem nyata, melakukan eksperimen dengan model dengan menggunakan komputer untuk menggambarkan, menjelaskan dan memprediksi perilaku sistem.

Simulasi dilakukan sebagai cara bagi perancang, pengembang sistem maupun pembuat keputusan untuk menciptakan sistem kinerja tertentu baik dalam tahap perancangan sistem (berupa usulan) maupun sistem yang berada dalam tahap operasional (sistem yang sedang berjalan).

Berikut beberapa kelebihan simulasi dibandingkan dengan percobaan secara langsung:
Tidak semua sistem dapat direpresentasikan dalam model matematis.

Dapat bereksperimen tanpa adanya resiko pada sistem nyata.

Dapat menggunakan input data alternatif
Simulasi dapat mengestimasi kinerja sistem pada kondisi tertentu dan dapat memberikan alternative desain.

Hemat biaya dan waktu pengerjaan.

Simulator JaringanPerancangan jaringan memilki tingkat kesulitan yang beragam, untuk membangun sebuah jaringan berskala luas atau WAN memiliki kesulitan yang tinggi dan juga memerlukan sumber daya yang besar, seperti banyaknya perangkat jaringngan yang dibutuhkan seperti router, switch, server dan lainnya. Untuk itu diciptakanlah perangkat lunak yang dapat digunakan untuk mensimulasikan proses-proses dalam perancangan jaringan. Saat ini sudah terdapat banyak simulator jaringan yang biasa digunakan, baik untuk penelitian, uji coba maupun tujuan lainnya. Simulator yang biasa digunakan untuk simulasi jaringan antara lain adalah Cisco Packet Tracer, GN3 dan Mininet.

Cisco Packet TracerCisco Packet Tracer adalah perangkat lunak simulasi jaringan yang diciptakan oleh Cisco (perusahaan IT dan jaringan asal Amerika Serikat) yang dapat digunakan untuk membuat topologi jaringan yang terdiri dari perangkat-perangkat seperti router, switch, server dan lainnya yang merupakan produk Cisco. Packet Tracer biasa digunakan oleh pelajar maupun mahasiswa yang ingin mempelajari jaringan dalam lingkup lab virtual. Packet Tracer tidak disebarkan secara umum namun dapat didapatkan secara gratis khusus bagi siswa Cisco Networking Academy.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 25 Tampilan antarmuka Cisco Packet TracerCisco Packet Tracer merupakan perangkat lunak yang sangat berguna bagi seseorang yang ingin mendapatkan sertifikasi dari Cisco atau sekedar belajar mengenai jaringan computer, karena terdapat banyak IOS yang tersedia dalam simulator ini. Selain itu Packet Tracer mendukung GUI (Graphical User Interface) dan hanya membutuhkan spesifikasi computer dengan RAM sebesar 512 MB ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISSN” : “21535965”, “abstract” : “My teaching interests include networking and security. I also enjoy teaching emerging technology classes and working with the Internet of Things. My background includes twenty years of IT experience with both the private and public sectors. I try to bring real-world examples into my classroom, and provide students with a well-rounded view of expectations in the workforce. Abstract Packet Tracer (PT) is an official Cisco software simulator for exercising Cisco network equipment. Graphical Network Simulator (GNS3) is a free emulator software which allows running actual networking software images on a computer. Both provide good Graphic User Interface (GUI) design and have been intensively used for learners to build, configure, and troubleshoot networks in a virtualized network environment. In this paper, PT and GNS3 will be compared from the perspectives of capability and complexity. Strengths and weaknesses of each will be discussed. In addition, networks will be built in order to illustrate the points of our discussion.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Chou”, “given” : “Te-Shun”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Baker”, “given” : “Steve Keith”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Vega-Herrera”, “given” : “Miguel”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “container-title” : “American Society for Engineering Education”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2016” }, “title” : “A Comparison of Network Simulation and Emulation Virtualization Tools”, “type” : “article-journal” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=f4ca8b8d-254c-4a8b-aec0-8e41b68b6eaf” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “31”, “plainTextFormattedCitation” : “31”, “previouslyFormattedCitation” : “31” }, “properties” : { “noteIndex” : 52 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }31, sehingga akan memudahkan bagi orang-orang yang baru mempelajari jaringan komputer. Namun simulator ini memiliki beberapa kekurangan dibandingkan simulator lainnya, antara lain keterbatasan dalam penggunaan perangkat, simulator ini hanya mendukung produk Cisco, tidak dapat mensimulasikan produk lain seperti Mikrotik, JunOS maupun perangkat milik vendor lain. Selain itu lingkup simulasi terbatas di dalam simulator saja, tidak dapat dihubungkan dengan jaringan nyata yang terhubung ke host. Packet Tracer hanya mendukung beberapa protokol saja, diantaranya adalah sebagai berikut:
Tabel 2. SEQ Tabel_2. * ARABIC 5 Protokol yang didukung Packet Tracer ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISSN” : “21535965”, “abstract” : “My teaching interests include networking and security. I also enjoy teaching emerging technology classes and working with the Internet of Things. My background includes twenty years of IT experience with both the private and public sectors. I try to bring real-world examples into my classroom, and provide students with a well-rounded view of expectations in the workforce. Abstract Packet Tracer (PT) is an official Cisco software simulator for exercising Cisco network equipment. Graphical Network Simulator (GNS3) is a free emulator software which allows running actual networking software images on a computer. Both provide good Graphic User Interface (GUI) design and have been intensively used for learners to build, configure, and troubleshoot networks in a virtualized network environment. In this paper, PT and GNS3 will be compared from the perspectives of capability and complexity. Strengths and weaknesses of each will be discussed. In addition, networks will be built in order to illustrate the points of our discussion.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Chou”, “given” : “Te-Shun”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Baker”, “given” : “Steve Keith”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Vega-Herrera”, “given” : “Miguel”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “container-title” : “American Society for Engineering Education”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2016” }, “title” : “A Comparison of Network Simulation and Emulation Virtualization Tools”, “type” : “article-journal” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=f4ca8b8d-254c-4a8b-aec0-8e41b68b6eaf” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “31”, “plainTextFormattedCitation” : “31”, “previouslyFormattedCitation” : “31” }, “properties” : { “noteIndex” : 53 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }31
Layer Protokol yang didukung Packet Tracer
Application FTP , SMTP, POP3, HTTP, TFTP, Telnet, SSH, DNS, DHCP, NTP, SNMP, AAA, ISR VOIP, SCCP config and calls ISR command support, Call Manager Express
Transport TCP and UDP, TCP Nagle Algorithm ; IP Fragmentation, RTP
Network BGP, IPv4, ICMP, ARP, IPv6, ICMPv6, IPSec, RIPv1/v2/ng, MultiArea OSPF, OSPFv3, EIGRP, EIGRPv6, Static Routing, Route Redistribution, Multilayer Switching, L3 QoS, NAT, CBAL, Zone-based policy firewall and Intrusion Protection System on the ISR, GRE VPN, IPSec VPN, HSRP, CEF
Network Access / Interface Ethernet (802.3), 802.11, HDLC, Frame Relay, PPP, PPPoE, STP, RSTP, VTP, DTP, CDP, 802.1q, PAgP, L2 QoS, SLARP, Simple WEP, WPA, EAP, VLANs, CSMA/CD, Etherchannel, DSL, ¾ G network support
MininetMininet adalah perangkat lunak simulator jaringan yang diciptakan oleh kumpulan professor di Stanford University sebagai alat penelitian dan media pengajaran jaringan komputer ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Natalia”, “given” : “Rvachova”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Cassongo”, “given” : “Acurio Balao”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “title” : “THE COMPARISON OF NETWORK SIMULATORS FOR SDN Network”, “type” : “article-journal” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=36fb7057-6992-49d7-aeb1-fb9be645c364” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “32”, “plainTextFormattedCitation” : “32”, “previouslyFormattedCitation” : “32” }, “properties” : { “noteIndex” : 57 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }32. Sama seperti GNS3, Mininet merupakan perangkat lunak open source yang dapat digunakan oleh publik, namun Mininet hanya dapat berjalan pada sistem operasi Linux saja.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 26 Tampilan antarmuka MininetKelebihan Mininet adalah dalam mensimulasikan sotware-defined network (SDN), karena simulator ini menciptakan jaringan virtual OpenFlow yang merupakan standar milik SDN. Simulator ini dapat menjalankan host, switch, link, controller dan perangkat lain yang dibutuhkan dalam SDN yang kemudian dijalankan menggunakan script dalam bahas Python. Namun Mininet memiliki kekurangan dibandingkan simulator lain yaitu masih belum mampu untuk menghasilkan performa dan kualitas yang sama seperti jaringan asli yang disimulasikan, hal ini disebabkan karena Mininet sangat bergantung pada sumber daya yang dimiliki oleh komputer induk yang menjalankan simulasinya ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Natalia”, “given” : “Rvachova”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Cassongo”, “given” : “Acurio Balao”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “title” : “THE COMPARISON OF NETWORK SIMULATORS FOR SDN Network”, “type” : “article-journal” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=36fb7057-6992-49d7-aeb1-fb9be645c364” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “32”, “plainTextFormattedCitation” : “32”, “previouslyFormattedCitation” : “32” }, “properties” : { “noteIndex” : 58 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }32.

GNS3GNS3 (Graphical Network Simulator 3) adalah perangkat lunak simulasi jaringan yang berbasis open source yang dapat digunakan pada sistem operasi Linux dan Windows. Selain sebagai simulator jaringan GNS3 dapat pula berfungsi sebagai emulator jaringan karena GNS3 menggunakan program bernama Dynagen yang berguna untuk mengemulasi Cisco IOSADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Natalia”, “given” : “Rvachova”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Cassongo”, “given” : “Acurio Balao”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “title” : “THE COMPARISON OF NETWORK SIMULATORS FOR SDN Network”, “type” : “article-journal” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=36fb7057-6992-49d7-aeb1-fb9be645c364” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “32”, “plainTextFormattedCitation” : “32”, “previouslyFormattedCitation” : “32” }, “properties” : { “noteIndex” : 58 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }32. Seperti halnya Packet Tracer yang digunakan pada ujian sertifikasi Cisco, GNS3 biasa digunakan sebagai simulator untuk persiapan ujian sertifikasi professional untuk jaringan komputer oleh perusahaan-perusahaan umum seperti Exxon, Walmart, AT;T, NASA dan lainnya.

Gambar 2. SEQ Gambar_2. * ARABIC 27 Tampilan antarmuka GNS3Dibandingkan dengan Cisco Packet Tracer, GNS3 menyediakan fungsi yang jauh lebih kompleks, antara lain dapa menggunakan perangkat selain produk Cisco seperti Mikrotik dan JunOS. Selain itu GNS3 juga dapat terintegrasi dengan perangkat lunak virtualisasi seperti VirtualBox, VMWare dan Qemu jika pengguna hendak menghubungkan server virtual kedalam topologi yang telah dibuat. GNS3 selain berperan sebagai simulator dapat pula berperan sebagai emulator. Hal ini dikarenakan GNS3 memungkinkan topologi jaringan yang berada di dalam simulator untuk terhubung dengan jaringan nyata yang sedang terhubung dengan computer pengguna, sehingga dapat menggantikan peran perangkat asli yang dibutuhkan seperti router jika diinginkan.

Untuk menjalankan GNS3, spesifikasi computer yang dibutuhkan tergantung pada berapa banyak da nada saja perangkat yang disimulasikan sehingga performa dan kualitas yang dihasilkan dari simulasi GNS3 akan sesuai dengan kondiri real ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Natalia”, “given” : “Rvachova”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Cassongo”, “given” : “Acurio Balao”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “0” }, “title” : “THE COMPARISON OF NETWORK SIMULATORS FOR SDN Network”, “type” : “article-journal” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=36fb7057-6992-49d7-aeb1-fb9be645c364” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “32”, “plainTextFormattedCitation” : “32”, “previouslyFormattedCitation” : “32” }, “properties” : { “noteIndex” : 59 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }32, semakin besar jaringan yang akan disimulasikan maka akan membutuhkan RAM dan prosesor yang besar.

GNS3 memiliki keterbatasan dalam mensimulasikan produk-produk Cisco, karena perangkat lunak ini bukan dikembangkan oleh Cisco. Saat ini GNS3 baru bisa mensimulasikan beberapa perangkat Cisco seperti router seri 1700, 2600, 2691, 3600, 3640, 3725, 3745 dan 7200, serta Cisco PIX Firewall, Cisco ASA Firewall dan Cisco IDS Sensors. Sedangkan untuk switch Cisco, GNS3 belum bisa mensimulasiknanya ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “ISSN” : “21535965”, “abstract” : “My teaching interests include networking and security. I also enjoy teaching emerging technology classes and working with the Internet of Things. My background includes twenty years of IT experience with both the private and public sectors. I try to bring real-world examples into my classroom, and provide students with a well-rounded view of expectations in the workforce. Abstract Packet Tracer (PT) is an official Cisco software simulator for exercising Cisco network equipment. Graphical Network Simulator (GNS3) is a free emulator software which allows running actual networking software images on a computer. Both provide good Graphic User Interface (GUI) design and have been intensively used for learners to build, configure, and troubleshoot networks in a virtualized network environment. In this paper, PT and GNS3 will be compared from the perspectives of capability and complexity. Strengths and weaknesses of each will be discussed. In addition, networks will be built in order to illustrate the points of our discussion.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Chou”, “given” : “Te-Shun”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Baker”, “given” : “Steve Keith”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” }, { “dropping-particle” : “”, “family” : “Vega-Herrera”, “given” : “Miguel”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “container-title” : “American Society for Engineering Education”, “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2016” }, “title” : “A Comparison of Network Simulation and Emulation Virtualization Tools”, “type” : “article-journal” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=f4ca8b8d-254c-4a8b-aec0-8e41b68b6eaf” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “31”, “plainTextFormattedCitation” : “31”, “previouslyFormattedCitation” : “31” }, “properties” : { “noteIndex” : 55 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }31.

Performa dan Kualitas JaringanPerforma dan kualitas jaringan dapat diukur menggunakan beberapa parameter, diantaranya adalah bandwidth, throughput dan latency ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “URL” : “http://www.tcpipguide.com/free/t_PerformanceMeasurementsSpeedBandwidthThroughputand.htm”, “accessed” : { “date-parts” : “2018”, “6”, “20” }, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “M. Kozierok”, “given” : “Charles”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2005” }, “title” : “Performance Measurements: Speed, Bandwidth, Throughput and Latency”, “type” : “webpage” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=326b4352-4688-4fc0-b675-2a2a9ae66312” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “33”, “plainTextFormattedCitation” : “33”, “previouslyFormattedCitation” : “33” }, “properties” : { “noteIndex” : 63 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }33. Selain itu terdapat pula jitter dan packet loss yang dapat digunakan sebagai parameter pengukur.

Bandwidth adalah besarnya kapasitas data yang dapat dibawa oleh suatu medium penghantar data atau jaringan
Througput adalah nilai rata-rata dari paket yang berhasil dikirim melalui komunikasi jaringan. Througput biasa didefinisikan dengan satuan bits per second (bps) atau data pakets per second ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “abstract” : “Wireless Mesh Networks provide an organisation or a community with the means to extend or create a network independent of infrastructure. However, the network’s dynamic topology along with the fact that de-vices in the network might be mobile and move randomly, brings to light various kind of problems on the network, with the most common being the routing. In this report, the problem of routing is examined in terms of throughput, routing overhead, end-to-end delay and packet delivery ratio on two chosen algorithms, namely the Dynamic MANET On-demand (DYMO) 1 and the Better Approach To Mobile Adhoc Networking (B.A.T.M.A.N.) 2. Furthermore, this thesis examines also a Transmission Control Protocol (TCP) connection and compares it against several TCP congestion control mechanisms, two of which, were implemented, namely TCP-Illinois and TCP-FIT, to address the effects that different TCP congestion mechanisms have on an ad-hoc network, when reliable connections are needed. The results show that DYMO is more stable, performs good overall and has the lowest routing overhead, however in a situation with lim-ited mobility or no mobility (as in high mobility they perform poorly) proactive protocols like B.A.T.M.A.N. are worthy protocols, should the extra penalty of routing overhead in the network traffic is not caus-ing any problems. Furthermore, regarding the TCP results, it was ob-served that TCP congestion algorithms designed specifically for Wire-less networks, do offer better performance and should be considered, when designing an ad-hoc network.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Marinis”, “given” : “Spyridon”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2015” }, “title” : “Thesis Project Performance evaluation of routing protocols for Wireless Mesh Networks”, “type” : “article-journal” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=31925386-d847-49aa-b695-3024571a1abb” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “34”, “plainTextFormattedCitation” : “34”, “previouslyFormattedCitation” : “34” }, “properties” : { “noteIndex” : 63 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }34.

Latency adalah waktu yang dibutuhkan saat proses pengiriman data dalam suatu jaringan atau kanal komunikasi. Semakin kecil nilai latency suatu jaringan maka semakin baik kualitas jaringannya.

Packet Loss merupakan jumlah paket yang gagal dalam proses pengiriman paket, semakin kecil nilainya maka semakin baik kualitas jaringan tersebt ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “Santosa”, “given” : “Budi”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “id” : “ITEM-1”, “issued” : { “date-parts” : “2004” }, “page” : “1-30”, “title” : “MANAJEMEN BANDWIDTH INTERNET DAN INTRANET Quality of Service”, “type” : “article-journal” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=dba9d0f7-2545-4808-937e-4f22ff9e870b” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “35”, “plainTextFormattedCitation” : “35”, “previouslyFormattedCitation” : “35” }, “properties” : { “noteIndex” : 63 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }35
Jitter adalah variasi delay yang diakibatkan oleh panjang antrian dalam suatu pengolahan datan dan penyusunan kembali paket data di akhir pengiriman akibat kegagalan sebelumnya ADDIN CSL_CITATION { “citationItems” : { “id” : “ITEM-1”, “itemData” : { “DOI” : “10.1017/CBO9781107415324.004”, “ISBN” : “9788578110796”, “ISSN” : “1098-6596”, “PMID” : “25246403”, “abstract” : “applicability for this approach.”, “author” : { “dropping-particle” : “”, “family” : “T. H. Cormen, C. E. Leiserson, R. L. Riverst”, “given” : “C. Stein”, “non-dropping-particle” : “”, “parse-names” : false, “suffix” : “” } , “container-title” : “The MIT Press”, “edition” : “Second edi”, “id” : “ITEM-1”, “issue” : “9”, “issued” : { “date-parts” : “2001” }, “number-of-pages” : “1689-1699”, “publisher” : “The MIT Press”, “publisher-place” : “United States of Amerika”, “title” : “Introduction to algorithms”, “type” : “book”, “volume” : “53” }, “uris” : “http://www.mendeley.com/documents/?uuid=9907cd87-49ae-4d6f-9d6b-81d9cd1904c6” } , “mendeley” : { “formattedCitation” : “36”, “plainTextFormattedCitation” : “36”, “previouslyFormattedCitation” : “36” }, “properties” : { “noteIndex” : 63 }, “schema” : “https://github.com/citation-style-language/schema/raw/master/csl-citation.json” }36.

BAB IIIMETODE PENELITIAN
Sumber DataPenelitian ini menggunakan sumber data untuk mendukung pelaksanaannya, antara lain:
Studi literatur dan informasi seperti buku, jurnal, mkalah dan situs-situs internet yang berhubungan dengan penelitian.

Hasil diskusi dengan dosen pembimbing dan pihak-pihak ahli di bidang terkait topik penelitian.

Sumber informasi dan hasil rapat mengenai IdREN yang diperoleh dari Direktorat Sistem dan Sumber Daya Informasi UGM
Alat yang digunakanAlat yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 jenis, yaitu perangkat lunak dan perangkat keras.

Perangkat lunakPenelitian ini menggunakan beberapa perangkat lunak yang mendukung simulasi jaringan, diantaranya adalah GNS3 2.1.0 (Graphic Network Simulator 3), VMWare Workstation 12, Ubuntu Server 14.04 dan Iperf.

GNS3, merupakan perangkat lunak yang berbasis open-source yang dapat melakukan simulasi jaringan dalam sebuah perangkat lunak yang dapat terhubung langsung dengan jaringan nyata. GNS3 tidak menyertakan perangkat-perangkat virtual untuk digunakan di dalam aplikasinya, sehingga perangkat virtual tersebut harus diunduh terlebih dahulu dalam bentuk file image dari perangkat yang dibutuhkan. Dalam penelitian ini dibutuhkan perangkat virtual router Cisco 3660.

VMWare merupakan perangkat lunak yang dapat membuat sebuah virtual machine. Dalam penelitian ini VMWare digunakan untuk membuat sebuah server virtual yang terhubung dengan router yang ada pada router yang terdapat di simulator GNS3.

Ubuntu Server 14.04 merupakan sistem operasi server yang berbasis open source yang digunakan sebagai sistem operasi untuk server virtual yang telah dibuat menggunakan VMWare.

Iperf merupakan perangkat lunak yang dipasang pada server virtual dan digunakan sebagai pembangkit background traffic yang pada topologi IdREN yang dirancang di dalam GNS3 untuk memberikan parameter-paramater agar hasil simulasi mendekati kondisi pada kenyataannya seperti delay, packet loss dan jitter.

Perangakat kerasPerangkat keras yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebuah laptop. Untuk menjalankan GNS3 dibutuhkan komputer atau laptop dengan spesifikasi minimum sebagai berikut:
Tabel 3. SEQ Tabel_3. * ARABIC 1 Spesifikasi minimum dan laptop penulis
  Spesifikasi Minimum Laptop penulis
Sistem Operasi Windows 7 64bit Windows 10 64bit
Processor dual core Intel Core i5-7200
RAM 4 GB 8 GB
Storage 500 GB 1 TB
86614030099000Diagram Alir Penelitian-3175285115Gambar 3. SEQ Gambar_3. * ARABIC 1 Diagram alir penelitian00Gambar 3. SEQ Gambar_3. * ARABIC 1 Diagram alir penelitian
Penelitian dimulai dengan identifikasi masalah dan studi literature. Identifikasi maslah dilakukan untuk mengidentifikasi masalah yang melatarbelakangi penelitian dan simulasi ini. Setalah masalah diidentifikasi, proses selanjutnya adalah melakukan studi literatur terkait dengan penelitian ini sebagai solusi dari masalah-masalah yang ada. Setelah itu dilanjutkan dengan perancangan topologi yang disimulasikan pada penelitian ini. Setelah merancang topologi, kemudian topologi tersebut diterapkan pada GNS3. Topologi yang dirancang merupakan topologi yang digunakan IdREN berdasarkan literatur yang sudah didapatkan. Kemudian simulasi dilanjutkan dengan mengkonfigurasi tiap router dengan menggunakan routing OSPF dan BGP agar komunikasi antar perangkat dapat terjalin. Selanjutnya ditambahkan 2 buah virtual server dan menambahkan iperf pada server tersebut. Iperf digunakan untuk memberikan background traffic untuk memberikan hasil pemilihan jalur routing yang yang mendekati keadan asli. Kemudian menguji beberapa skenario dimana terdapat beberapa interface gateway yang mati untuk diamati waktu konvergensi routingnya. Setelah itu dianalisis mengenai performa dari waktu konvergensi ini. Setelah pelaksanaan selesai dapat dilakukan penarikan kesimpulan dan penulisan laporan
Rancangan Topologi JaringanIdREN merupakan NREN (National Reasearch and Education Network) yang dimiliki Indonesia yang saat ini masih dalam tahap pengembangan. Jaringan ini menghubungkan jaringan-jaringan lokal universitas anggota IdREN di seluruh Indonesia. IdREN bertujuan untuk pertukaran informasi penelitian maupun pendidikan.

IdREN memiliki 5 router gateway yang dimiliki 5 universitas penggagas dan 1 router gateway yang dimiliki PT. Telekomunikasi Indonesia yang berperan sebagai border router yang dimana tiap border tersebut akan terhubung dengan node dimiliki oleh universitas lain yang ingin terhubung ke dalam jaringan IdREN. Setiap node yang dimiliki universitas memiliki nomor AS-nya masing-masing yang digunakan sebagai dasar routing menggunakan BGP. Topologi jaringan IdREN yang dirancang di dalam software GNS3 adalah sebagai berikut
12703668395Gambar 3. SEQ Gambar_3. * ARABIC 2 Topologi IdREN00Gambar 3. SEQ Gambar_3. * ARABIC 2 Topologi IdREN1270-15430500
Rancangan Pengalamatan JaringanPada penerapannya saat ini IdREN masih menggunakan IPv4 namun dalam pengembangannya IdREN akan menggunakan pengalamatan dengan IPv6. Sehingga pada penelitian ini simulasi jaringan IdREN menggunakan pengalamatan IPv6. Berikut adalah gambar dan tabel pengalamatan pada setiap interface perangkat berdasarkan topologi IdREN.

1045210-67310000
-177165300545500
15716252757805Gambar 3. SEQ Gambar_3. * ARABIC 3 Pengalamatan router IdREN00Gambar 3. SEQ Gambar_3. * ARABIC 3 Pengalamatan router IdREN
Tabel 3. SEQ Tabel_3. * ARABIC 2 Pengalamatan IPv6 pada tiap interface
Nomor AS Router Interface Alamat IP
18007 ITB-IDREN Serial1/0 2403:8000:10:FFFE::1:1
Serial1/1 2403:8000:10:FFFE::6:1
Serial1/2 2403:8000:10:FFFE::11:1
Serial1/3 2403:8000:10:FFFE::13:1
Serial2/0 2403:8000:10:FFFE::7:1
Serial2/1 2001:8000:10:2::1
Serial2/2 2001:8000:10:1::1
Loopback 1 2001::10
UGM-IDREN Serial1/0 2403:8000:10:FFFE::1:2
Serial1/1 2403:8000:10:FFFE::12:1
Serial1/2 2403:8000:10:FFFE::14:1
Serial1/3 2403:8000:10:FFFE::8:1
Serial2/0 2403:8000:10:FFFE::2:1
Serial2/1 2001:8000:10:3::1
Loopback 1 2001::12
UI-IDREN Serial1/0 2403:8000:10:FFFE::2:2
Serial1/1 2403:8000:10:FFFE::7:2
Serial1/2 2403:8000:10:FFFE::15:1
Serial1/3 2403:8000:10:FFFE::9:1
Serial2/0 2403:8000:10:FFFE::3:1
Serial2/1 2001:8000:10:5::1
Serial2/2 2001:8000:10:4::1
Loopback 1 2001::11
UB-IDREN Serial1/0 2403:8000:10:FFFE::8:2
Serial1/1 2403:8000:10:FFFE::13:2
Serial1/2 2403:8000:10:FFFE::10:1
Serial1/3 2403:8000:10:FFFE::4:1
Serial2/0 2403:8000:10:FFFE::3:2
Serial2/1 2001:8000:10:6::1
Loopback 1 2001::14
TELKOM-IDREN Serial1/0 2403:8000:10:FFFE::14:2
Serial1/1 2403:8000:10:FFFE::11:2
Serial1/2 2403:8000:10:FFFE::5:1
Serial1/3 2403:8000:10:FFFE::4:2
Serial2/0 2403:8000:10:FFFE::9:2
Serial2/1 2001:8000:10:9::1
Serial2/2 2001:8000:10:8::1
Loopback 1 2001::13
Ethernet3/0 10:10:10:2::1
ITS-IDREN Serial1/0 2403:8000:10:FFFE::12:2
Serial1/1 2403:8000:10:FFFE::6:2
Serial1/2 2403:8000:10:FFFE::5:2
Serial1/3 2403:8000:10:FFFE::10:2
Serial2/0 2403:8000:10:FFFE::15:2
Serial2/1 2001:8000:10:11::1
Loopback 1 2001::15
4796 ITB Serial1/0 2001:8000:10:1::2
USU Serial1/0 2001:8000:10:2::2
45705 UGM Serial1/0 2001:8000:10:3::2
Serial1/1 1000::2
UGM-Core Serial1/0 1000::1
Ethernet2/0 1001::1
UGM-Server Eth0 1001::2
3382 UI Serial1/0 2001:8000:10:4::2
UNTAN Serial1/0 2001:8000:10:5::2
46019 UB Serial1/0 2001:8000:10:6::2
64302 UNDIP Serial1/0 2001:8000:10:8::2
UNY Serial1/0 2001:8000:10:9::2
Telkom-Server Eth0 10:10:10:2::2
38331 ITS Serial1/0 2001:8000:10:11::2
Konfigurasi OSPFJaringan IdREN terdiri dari router 5 router gateway milik universitas penggagas IdREN dan 1 router milik PT.Telekomunikasi Indonesia yang berperan sebagai penyedia layanan. Keenam router ini saling terhubung menggunakan topologi mesh. Keenam router ini diberikan sebuah protokol IGP agar semua jaringan yang terdapat pada router IdREN dapat saling berkomunikasi menggunakan protokol IGP. Protokol yang digunakan adalah OSPF.

Untuk menjalankan OSPF pada router, tiap router diberikan Router-ID, dan Process-ID. Berikut adalah konfigurasi di tiap routernya:
Tabel 3. SEQ Tabel_3. * ARABIC 3 Konfigurasi Process-ID dan Router-ID
ITB-IdREN #ipv6 router ospf 10
#router-id 10.10.10.10
UI-IdREN #ipv6 router ospf 11
#router-id 11.11.11.11
UGM-IdREN #ipv6 router ospf 12
#router-id 12.12.12.12
Telkom-IdREN #ipv6 router ospf 13
#router-id 13.13.13.13
UB-IdREN #ipv6 router ospf 14
#router-id 14.14.14.14
ITS-IdREN #ipv6 router ospf 15
#router-id 15.15.15.15
Selanjutnya untuk menambahkan area dan interface yang dimasukkan dalam OSPF database dapat dilakukan dengan cara mengkonfigurasi pada tiap interface routernya sebagai berikut:
Tabel 3. SEQ Tabel_3. * ARABIC 4 Konfigurasi interface OSPF
Router Interface Alamat IP
ITB-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf 10 area 0
Serial1/1 #ipv6 ospf 10 area 0
Serial1/2 #ipv6 ospf 10 area 0
Serial1/3 #ipv6 ospf 10 area 0
Serial2/0 #ipv6 ospf 10 area 0
Loopback 1 #ipv6 ospf 10 area 0
UI-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf 11 area 0
Serial1/1 #ipv6 ospf 11 area 0
Serial1/2 #ipv6 ospf 11 area 0
Serial1/3 #ipv6 ospf 11 area 0
Serial2/0 #ipv6 ospf 11 area 0
Loopback 1 #ipv6 ospf 11 area 0
UGM-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf 12 area 0
Serial1/1 #ipv6 ospf 12 area 0
Serial1/2 #ipv6 ospf 12 area 0
Serial1/3 #ipv6 ospf 12 area 0
Serial2/0 #ipv6 ospf 12 area 0
Loopback 1 #ipv6 ospf 12 area 0
Telkom-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf 13 area 0
Serial1/1 #ipv6 ospf 13 area 0
Serial1/2 #ipv6 ospf 13 area 0
Serial1/3 #ipv6 ospf 13 area 0
Serial2/0 #ipv6 ospf 13 area 0
Loopback 1 #ipv6 ospf 13 area 0
UB-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf 14 area 0
Serial1/1 #ipv6 ospf 14 area 0
Serial1/2 #ipv6 ospf 14 area 0
Serial1/3 #ipv6 ospf 14 area 0
Serial2/0 #ipv6 ospf 14 area 0
Loopback 1 #ipv6 ospf 14 area 0
ITS-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf 15 area 0
Serial1/1 #ipv6 ospf 15 area 0
Serial1/2 #ipv6 ospf 15 area 0
Serial1/3 #ipv6 ospf 15 area 0
Serial2/0 #ipv6 ospf 15 area 0
Loopback 1 #ipv6 ospf 15 area 0
Rancangan Konfigurasi BGPJaringan IdREN merupakan gabungan dari berbagai macam jaringan yang memiliki nomor AS berbeda, dimana router-router dengan nomor AS berbeda tidak dapat melakukan komunikasi data tanpa adanya routing yang dapat berkomunikasi antar AS. Routing yang dapat melakukan komunikasi antar AS adalah BGP. Pada AS berbeda eBGP akan menjalankan proses routing agar dapat berkomunikasi, sedangkan di dalam AS iBGP yang akan menjalankan proses routing agar informasi dari luar AS dapat berjalan.

Konfigurasi iBGP pada Border RouteriBGP dikonfigurasikan pada router-router border yang memiliki AS yang sama. Pada simulasi ini router IdREN memiliki AS yang sama yaitu bernomor AS 18007. Router-router tersebut merupakan 5 router milik universitas penggagas dan 1 router milik PT. Telekomunikasi Indonesia. Router-router tersebut antara lain UGM-IdREN, ITB-IdREN, Telkom-IdREN, ITS-IdREN, UB-IdREN dan UI-IdREN. Berikut adalah perintah yang digunakan pada CLI router IdREN:
UGM-IdREN #router bgp 18007
#bgp router-id 12.12.12.12
#neighbor 2001::11 remote-as 18007
#neighbor 2001::10 remote-as 18007
#neighbor 2001::13 remote-as 18007
#neighbor 2001::14 remote-as 18007
#neighbor 2001::15 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001::11 activate
#neighbor 2001::10 activate
#neighbor 2001::13 activate
#neighbor 2001::14 activate
#neighbor 2001::15 activate
#network 2403:8000:10:fffe::/64
#redistribute ospf 12
ITB-IdREN #router bgp 18007
#bgp router-id 10.10.10.10
#neighbor 2001::11 remote-as 18007
#neighbor 2001::12 remote-as 18007
#neighbor 2001::13 remote-as 18007
#neighbor 2001::14 remote-as 18007
#neighbor 2001::15 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001::11 activate
#neighbor 2001::12 activate
#neighbor 2001::13 activate
#neighbor 2001::14 activate
#neighbor 2001::15 activate
#network 2403:8000:10:fffe::/64
#redistribute ospf 10
ITS-IdREN #router bgp 18007
#bgp router-id 15.15.15.15
#neighbor 2001::11 remote-as 18007
#neighbor 2001::12 remote-as 18007
#neighbor 2001::13 remote-as 18007
#neighbor 2001::14 remote-as 18007
#neighbor 2001::10 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001::11 activate
#neighbor 2001::12 activate
#neighbor 2001::13 activate
#neighbor 2001::14 activate
#neighbor 2001::10 activate
#network 2403:8000:10:fffe::/64
#redistribute ospf 15
Telkom-IdREN #router bgp 18007
#bgp router-id 13.13.13.13
#neighbor 2001::11 remote-as 18007
#neighbor 2001::12 remote-as 18007
#neighbor 2001::10 remote-as 18007
#neighbor 2001::14 remote-as 18007
#neighbor 2001::15 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001::11 activate
#neighbor 2001::12 activate
#neighbor 2001::10 activate
#neighbor 2001::14 activate
#neighbor 2001::15 activate
#network 2403:8000:10:fffe::/64
#redistribute ospf 13
UB-IdREN #router bgp 18007
#bgp router-id 14.14.14.14
#neighbor 2001::11 remote-as 18007
#neighbor 2001::12 remote-as 18007
#neighbor 2001::13 remote-as 18007
#neighbor 2001::10 remote-as 18007
#neighbor 2001::15 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001::11 activate
#neighbor 2001::12 activate
#neighbor 2001::13 activate
#neighbor 2001::10 activate
#neighbor 2001::15 activate
#network 2403:8000:10:fffe::/64
#redistribute ospf 14
UI-IdREN #router bgp 18007
#bgp router-id 11.11.11.11
#neighbor 2001::10 remote-as 18007
#neighbor 2001::12 remote-as 18007
#neighbor 2001::13 remote-as 18007
#neighbor 2001::14 remote-as 18007
#neighbor 2001::15 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001::10 activate
#neighbor 2001::12 activate
#neighbor 2001::13 activate
#neighbor 2001::14 activate
#neighbor 2001::15 activate
#network 2403:8000:10:fffe::/64
#redistribute ospf 11
Tiap router memiliki router-id yang berbeda sebagai identitas saat router-router tersebut mengirimkan informasi routing table ke router lainnya. Karena pada jaringan IdREN menggunakan topologi mesh dimana seluruh router terhubung secara langsung satu sama lain, maka seluruh router IdREN merupakan neighbor bagi router lainnya.

Konfigurasi eBGP pada seluruh RouterJaringan IdREN tidak hanya memiliki satu AS, IdREN terdiri dari beberapa AS berbeda yang saling terhubung. Oleh karena itu dibutuhkan routing eBGP untuk menghubungkan AS yang berbeda. Pada simulasi ini tiap universitas memiliki nomor AS nya masing-masing dan dikonfigurasikan eBGP agar antar AS dapat saling bertukar informasi. Berikut adalah perintah untuk konfigurasi eBGP pada seluruh router:
UGM-IdREN #router bgp 18007
#neighbor 2001:8000:10:3::2 remote-as 45705
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:3::2 activate
#network 2001:8000:10:3::/64
UGM #router bgp 45705
#bgp router-id 22.22.22.22
#neighbor 2001:8000:10:3::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:3::1 activate
#network 2001:8000:10:3::/64
ITB-IdREN #router bgp 18007
#neighbor 2001:8000:10:1::2 remote-as 4796
#neighbor 2001:8000:10:2::2 remote-as 55697
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:1::2 activate
#neighbor 2001:8000:10:2::2 activate
#network 2001:8000:10:1::/64
#network 2001:8000:10:2::/64
ITB #router bgp 4796
#bgp router-id 30.30.30.30
#neighbor 2001:8000:10:1::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:1::1 activate
#network 2001:8000:10:1::/64
USU #router bgp 55697
#bgp router-id 20.20.20.20
#neighbor 2001:8000:10:2::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:2::1 activate
#network 2001:8000:10:2::/64
ITS-IdREN #router bgp 18007
#neighbor 2001:8000:10:11::2 remote-as 38331
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:11::2 activate
#network 2001:8000:10:11::/64
ITS #router bgp 38331
#bgp router-id 5.5.5.5
#neighbor 2001:8000:10:11::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:11::1 activate
#network 2001:8000:10:11::/64
Telkom-IdREN #router bgp 18007
#neighbor 2001:8000:10:8::2 remote-as 46049
#neighbor 2001:8000:10:9::2 remote-as 55674
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:8::2 activate
#neighbor 2001:8000:10:9::2 activate
#network 2001:8000:10:8::/64
#network 2001:8000:10:9::/64
UNDIP #router bgp 46049
#bgp router-id 23.23.23.23
#neighbor 2001:8000:10:8::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:8::1 activate
#network 2001:8000:10:8::/64
UNY #router bgp 55674
#bgp router-id 33.33.33.33
#neighbor 2001:8000:10:9::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:9::1 activate
#network 2001:8000:10:9::/64
UB-IdREN #router bgp 18007
#neighbor 2001:8000:10:6::2 remote-as 46019
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:6::2 activate
#network 2001:8000:10:6::/64
UB #router bgp 46019
#bgp router-id 6.6.6.6
#neighbor 2001:8000:10:6::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:6::1 activate
#network 2001:8000:10:6::/64
UI-IdREN #router bgp 18007
#neighbor 2001:8000:10:4::2 remote-as 3382
#neighbor 2001:8000:10:5::2 remote-as 55687
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:4::2 activate
#neighbor 2001:8000:10:5::2 activate
#network 2001:8000:10:4::/64
#network 2001:8000:10:5::/64
UI #router bgp 3382
#bgp router-id 31.31.31.31
#neighbor 2001:8000:10:4::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:4::1 activate
#network 2001:8000:10:4::/64
UNTAN #router bgp 55687
#bgp router-id 21.21.21.21
#neighbor 2001:8000:10:5::1 remote-as 18007
#address-family ipv6 unicast
#neighbor 2001:8000:10:5::1 activate
#network 2001:8000:10:5::/64
Konfogirasi Cost OSPFOSPF merupakan protokol link-state yang menggunakan cost/metric sebagai acuan dalam membuat shortest path tree. Pada simulasi ini interface pada Telkom-IdREN diberikan nilai cost paling kecil diantara router lain untuk melihat pengaruhnya terhadap EGP. Berikut adalah konfigurasi yang dilakukan untuk memberikan cost pada OSPF:
Tabel 3. SEQ Tabel_3. * ARABIC 5 Konfigurasi cost OSPF
Router Interface Alamat IP
ITB-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf cost 12
Serial1/1 #ipv6 ospf cost 12
Serial1/2 #ipv6 ospf cost 10
Serial1/3 #ipv6 ospf cost 12
Serial2/0 #ipv6 ospf cost 12
Loopback 1 #ipv6 ospf cost 200
UI-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf cost 13
Serial1/1 #ipv6 ospf cost 12
Serial1/2 #ipv6 ospf cost 13
Serial1/3 #ipv6 ospf cost 10
Serial2/0 #ipv6 ospf cost 13
Loopback 1 #ipv6 ospf cost 200
UGM-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf cost 12
Serial1/1 #ipv6 ospf cost 13
Serial1/2 #ipv6 ospf cost 13
Serial1/3 #ipv6 ospf cost 10
Serial2/0 #ipv6 ospf cost 13
Loopback 1 #ipv6 ospf cost 200
Telkom-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf cost 10
Serial1/1 #ipv6 ospf cost 10
Serial1/2 #ipv6 ospf cost 10
Serial1/3 #ipv6 ospf cost 10
Serial2/0 #ipv6 ospf cost 10
Loopback 1 #ipv6 ospf cost 200
UB-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf cost 13
Serial1/1 #ipv6 ospf cost 12
Serial1/2 #ipv6 ospf cost 13
Serial1/3 #ipv6 ospf cost 10
Serial2/0 #ipv6 ospf cost 13
Loopback 1 #ipv6 ospf cost 200
ITS-IDREN Serial1/0 #ipv6 ospf cost 13
Serial1/1 #ipv6 ospf cost 12
Serial1/2 #ipv6 ospf cost 10
Serial1/3 #ipv6 ospf cost 13
Serial2/0 #ipv6 ospf cost 13
Loopback 1 #ipv6 ospf cost 200

Gambar 3. SEQ Gambar_3. * ARABIC 4 Topologi cost OSPFKonfigurasi Atribut WeightBGP merupakan routing protocol yang bekerja berdasarkan Policy Based Routing. Administrator dapat menentukan pemilihan jalur yang dilewatinya sesuai dengan kondisi spesifikasi tiap gateway. Pada simulasi kali ini router UB-IdREN diberikan weight paling besar, sebesar 32768 dan jalur lainnya sebesar 20000. Berikut ini adalah tabel konfigurasi weight pada router untuk setiap neighbor nya.
Tabel 3. SEQ Tabel_3. * ARABIC 6 Konfigurasi atribut weight
Router Router Neighbor Command
ITB-IdREN UGM-IdREN #neighbor 2001::12 weight 20000
UI-IdREN #neighbor 2001::11 weight 20000
UB-IdREN #neighbor 2001::14 weight 32768
Telkom-IdREN #neighbor 2001::13 weight 20000
ITS-IdREN #neighbor 2001::15 weight 20000
UGM-IdREN ITB-IdREN #neighbor 2001::10 weight 20000
UI-IdREN #neighbor 2001::11 weight 20000
UB-IdREN #neighbor 2001::14 weight 32768
Telkom-IdREN #neighbor 2001::13 weight 20000
ITS-IdREN #neighbor 2001::15 weight 20000
UI-IdREN ITB-IdREN #neighbor 2001::10 weight 20000
UGM-IdREN #neighbor 2001::12 weight 20000
UB-IdREN #neighbor 2001::14 weight 32768
Telkom-IdREN #neighbor 2001::13 weight 20000
ITS-IdREN #neighbor 2001::15 weight 20000
UB-IdREN ITB-IdREN #neighbor 2001::10 weight 20000
UGM-IdREN #neighbor 2001::12 weight 20000
UI-IdREN #neighbor 2001::11 weight 20000
Telkom-IdREN #neighbor 2001::13 weight 20000
ITS-IdREN #neighbor 2001::15 weight 20000
Telkom-IdREN ITB-IdREN #neighbor 2001::10 weight 20000
UGM-IdREN #neighbor 2001::12 weight 20000
UI-IdREN #neighbor 2001::11 weight 20000
UB-IdREN #neighbor 2001::14 weight 32768
ITS-IdREN #neighbor 2001::15 weight 20000
ITS-IdREN ITB-IdREN #neighbor 2001::10 weight 20000
UGM-IdREN #neighbor 2001::12 weight 20000
UI-IdREN #neighbor 2001::11 weight 20000
UB-IdREN #neighbor 2001::14 weight 32768
Telkom-IdREN #neighbor 2001::13 weight 20000
Konfigurasi Atribut Local preferenceSelain atribut weight proses pemilihan jalur routing dapat pula berdasarkan atribut local preference, dengan kondisi 2 atau lebih jalur yang memiliki nilai atribut weight yang sama sehingga di perlukan parameter lain untuk menentukan jalur mana yang akan digunakan sebagai jalur pengganti saat jalur utama mati. Berikut adalah konfigurasi atribut local preference pada tiap router, berbeda dengan atribut weight yang harus ditentukan pada tiap neighbor, atribut local preference hanya dikonfigurasikan pada tiap router-nya saja.

Tabel 3. SEQ Tabel_3. * ARABIC 7 Konfigurasi atribut local preference
Router Command
ITB-IdREN #bgp default local-preference 500
UGM-IdREN #bgp default local-preference 500
UI-IdREN #bgp default local-preference 500
UB-IdREN #bgp default local-preference 700
Telkom-IdREN #bgp default local-preference 600
ITS-IdREN #bgp default local-preference 500
Rancangan Traffic Generator dalam TopologiPada simulasi ini juga ditambahkan parameter traffic agar hasil mendekati pada kondisi real. Pada topologi agan di tambahkan 2 node yang merupakan 2 buah server virtual yang berada pada ujung node UGM dan node TELKOM. Server virtual tersebut diciptakan melalui perangkat lunak VMWare, yang kemudian menjalankan kan program Iperf sebagai aplikasi traffic generator. Kedua VM saling berkomunikasi selama simulasi berlangsung dan mengirimkan paket sebesar 10Mbps dengan bandwidth 100Mbps.

Gambar 3. SEQ Gambar_3. * ARABIC 5 Iperf ClientRancangan PengujianPada penelitian ini dilakukan pengujian untuk melihat proses pemilihan jalur routing saat sebelum dan sesudah menerapkan routing policy dan cost. Kemudian akan dilakukan pengujian saat proses pemilihan jalur berubah ketika salah satu interface dimatikan untuk menguji proses failover.
Tabel 3. SEQ Tabel_3. * ARABIC 8 Rancangan pengujian
Traceroute Cost Atribut Kondisi Normal Failover
Weight LocPref UI ke ITS – – – V –
UI ke ITS – – – – V
UI ke ITS V – – V –
UI ke ITS V – – – V
UI ke ITS – V V V –
UI ke ITS – V V – V
UI ke ITS V V V V –
UI ke ITS V V V – V
BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN
Simulasi Pemilihan Jalur OSPF default, BGP defaultSimulasi pemilihan jalur pada kondisi pertama adalah dengan mengkonfigurasi router pada simulator jaringan IdREN dengan OSPF sebagai IGP dan BGP sebagai EGP. Kedua routing protokol tersebut dikonfigurasi tanpa menambahkan konfigurasi atribut pada BGP dan metric pada OSPF. Pengujian dilakukan dengan melakukan perintah traceroute untuk mengamati jalur yang dilewati dari router UI menuju router ITS. Pada simulasi ini dilakukan dua skenario, skenario pertama adalah ketika semua router bekerja dengan kondisi normal atau semua interface pada router dalam keadaan hidup dan skenario kedua adalah ketika salah satu interface pada router diubah kondisinya menjadi mati sehingga jalur tersebut tidak dapat digunakan.

Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi NormalPada skenario pertama dilakukan simulasi dengan kondisi seluruh router berfungsi normal kemudian diamati jalur yang dilewati dari router UI ke router ITS. Untuk melihat jalur yang dilewati dilakukan memasukkan perintah traceroute dari router UI dengan alamat interface serial1/0 milik router ITS. Berikut adalah hasil traceroute-nya:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 1 Traceroute router UI ke ITSTerlihat pada gambar 4.1 di atas bahwa rute pertama yang di tuju adalah interface router yang memiliki alamat 2001:8000:10:4::1 milik router UI-IdREN. Kemudian menuju alamat 2403:8000:10:FFFE::15:2 milik router ITS-IdREN dan terakhir menuju alamat 2001:8000:10:11::2 milik router ITS. Untuk melihat routing yang digunakan adalah dengan perintah “show ipv6 route” ditambahkan dengan alamat tujuan. Berikut adalah hasil dari perintah tersebut:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 2 Tabel routing UI menuju ITSPada gambar 4.2 di atas terlihat bahwa router UI mendapatkan informasi routing network 2001:8000:10:11::/64 melalui interface Serial1/0 milik router UI. Routing ini memiliki nilai Administrative distance sebesar 20. Nilai ini merupakan nilai default untuk eBGP. Untuk melihat jalur yang BGP yang dipilih untuk menuju interface 2001:8000:10:11::2 digunakan perintah “show ip bgp ipv6 unicast alamat_interface_yang_dituju/prefix” atau dapat pula ditambahkan perintah “l (longer-prefixes)”. Hasil dari kedua perintah tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 3 BGP routing table router UI
Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 4 BGP routing table longer-prefix router UIPada gambar 4.4 di atas dapat dilihat bahwa untuk mencapai network 2001:8000:10:11::/64 router dapat melalui interface yang ditunjukkan pada Next hop. Pada kondisi ini router UI akan menuju interface 2001:8000:10:4::1 milik UI-IdREN untuk menuju network 2001:8000:10:11::/64. Selain itu dapat dilihat pula path yang dilalui untuk mencapai tujuan adalah melalui AS 18007 yang merupakan AS IdREN.

Selanjutnya routing akan diamati pada router yang memiliki interface 2001:8000:10:4::1 yaitu router UI-IdREN. UI-IdREN mengenal network 2001:8000:10:11::2/64 melalui routing protokol BGP. Hal ini dapat dilihat dari gambar berikut:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 5 Tabel routing UI-IdREN menuju ITSRouter UI-IdREN mendapatkan informasi mengenai network 2001:8000:10:11::/64 melalui interface 2001::15 yang merupakan interface loopback milik ITS-IdREN dan memiliki administrative distance sebesar 200. Nilai ini merupakan nilai default untuk iBGP. Selanjutnya untuk melihat interface yang dituju oleh router UI-IdREN menggunakan perintah “show ip bgp ipv6”. Hasil dari perintah tersebut dapat dilihat dari gambar berikut:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 6 tabel routing BGP UI-IdRENPada gambar 4.6 di atas terlihat bahwa untuk mencapai interface 2001::15 terdapat 6 jalur. Namun untuk UI-IdREN jalur terbaik yang dapat dilewati adalah jalur yang melalui interface lokal yang didapat dari routing OSPF. Jalur ini dipilih karena memiliki bobot weight yang paling tinggi yaitu 32768, bobot tersebut merupakan bobot default yang didapatkan ketika menggunakan perintah “redistribute” pada saat konfigurasi BGP. Untuk melihat jalur yang digunakan dapat dilihat dengan perintah “show ipv6 route 2001::15” dan hasilnya dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 7 tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdRENPada gambar 4.7 di atas terlihat UI-IdREN untuk mencapai interface 2001::15 menggunakan jalur serial1/2 yang didapatkan dari routing OSPF. Hal ini dapat dilihat bahwa metric yang digunakan pada OSPF dan BGP adalah sama yaitu 64. Informasi routing ini kemudian diredistribusikan ke routing protokol BGP dengan perintah “Redistribute OSPF process_ID”. Hal ini lah yang menyebabkan weight pada jalur ini bernilai 32768.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 8 tabel routing ITS-IdREN menuju ITSSetelah melawati router ITS-IdREN, untuk menuju router ITS hanya melalui satu jalur yaitu melalui serial2/1 yang tehubung secara langsung dengan network 2001:8000:10:11::/64.
Alamat Asal Jalur yang dilewati Alamat Tujuan
1 2 2001:8000:10:4::2 2001:8000:10:4::1 2403:8000:10:fffe::15:2 2001:8000:10:11::2
UI UI-IdREN ITS-IdREN ITS
Tabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 1 Jalur yang dilalui router UI menuju router ITS241490512058650060890152899410001115695122174000607695-650240003213104704080Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 9 Jalur router UI menuju router ITS00Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 9 Jalur router UI menuju router ITS
Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi FailoverSimulasi selanjutnya dilakukan dengan skenario ketika salah satu interface router mati dengan konfigurasi BGP dan OSPF default atau tanpa mengkonfigurasi atribut BGP dan cost/metric OSPF. Pada skenario ini, interface yang dimatikan adalah interface serial2/0 milik router ITS-IdREN. Interface ini merupakan interface yang terhubung langsung dengan interface milik router UI-IdREN. Waktu rata-rata konvergensi BGP yang dibutuhkan untuk proses failover pada skenario ini adalah 38,532 detik sedangkan untuk waktu rata-rata konvergensi OSPF adalah 30,4743 detik yang didapatkan dari 6 kali percobaan pernghitungan waktu konvergensi, dengan screenshot hasil debug terdapat dalam lampiran.

Tabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 2 Waktu konvergensi OSPFPercobaan Waktu konvergensi Durasi (detik)
1 05:40,359 – 06:10,467 30,108
2 23:50,175 – 24:18,263 28,088
3 32:15,432 –32:50,785 35,353
4 40:27,628-40:45,209 27,581
5 47:56,657 – 48:26,635 29,978
6 55:34,007 – 56:05,745 31,738
Rata-rata 30,4743
Tabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 3 Waktu konvergensi BGPPercobaan Waktu konvergensi Durasi (detik)
1 05:30,003 – 06:09,263 39,26
2 23:39,859 – 24:23,819 33,96
3 32:05,473 –32:45,871 40,398
4 40:16,862-40:53,785 36,923
5 47:16,024 – 47:56,128 39,888
6 55:24,534 – 56:05,302 40,768
Rata-rata 38,532
Selanjutnya adalah mengamati jalur yang dipilih dengan melakukan traceroute dari router UI menuju alamat yang sama seperti percobaan sebelumnya, yaitu 2001:8000:10:11::2 yang merupakan alamat interface1/0 milik router ITS. Berikut adalah hasil dari perintah “traceroute”:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 10 Traceroute router UI menuju router ITSPada gambar 4.10 terlihat bahwa jalur yang pertama dilewati masih tetap sama yaitu melalui 2001:8000:10:4::1 yang dimiliki router UI-IdREN. Hal ini dikarenakan hanya ada satu jalur yang dapat dilewati UI. Kemudian untuk melihat routing yang digunakan dapat dilakukan dengan menggunakan perintah show ipv6 route. Berikut adalah hasilnya:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 11 Tabel routing router UI menuju ITSPada tahap ini hasil yang didapatkan masih sama seperti percobaan sebelumnya dikarenakan hanya dapat melalui satu jalur, yaitu melalui serial1/0 yang memiliki alamat IP 2001:8000:10:4::2. Informasi routing tersebut didapatkan router UI melaui routing BGP. Sehingga untuk mengetahui jalur selanjutnya dapat digunakan perintah show ip bgp ipv6 unicast. Berikut adalah hasil dari perintah tersebut:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 12 tabel routing BGP UI menuju ITSPada Gambar 4.12 di atas dapat terlihat untuk mencapai jaringan 2001:8000:10:11::/64 router UI dapat melalui interface 2001:8000:10:4::1 dengan AS Path 18007 yang dimiliki router IdREN.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 13 Tabel routing BGP UI-IdREN menuju ITSSelanjutnya pada UI-IdREN dilakukan hal yang sama pula yaitu melihat next hop yang akan digunakan untuk mencapai alamat 2001:8000:10:11::2. Berdasarkan gambar 4.13 di atas, untuk mencapai network 2001:8000:10:11::/64 adalah melalui interface 2001::15. Selanjutnya dilakukan perintah show ip bgp ipv6 unicast kembali dengan tujuan interface 2001::15. Berikut adalah hasil yang didapatkan:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 14 tabel routing BGP UI-IdREN menuju loopback ITS-IdRENPada gambar 4.14 di atas dapat terlihat bahwa hasil yang didapatkan hampir sama seperti pada simulasi pertama namun terdapat perbedaan pada metric yang digunakan pada kondisi failover, metric yang digunakan adalah 128. Hal ini dikarenakan, untuk mencapai interface 2001::15, Router UI-IdREN harus melalui 2 jalur terlebih dahulu agar dapat mencapai interface 2001::15. Untuk membuktikannya dapat digunakan perintah traceroute dan show ipv6 route dengan tujuan 2001::15. Berikut adalah hasil dari kedua perintah tersebut:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 15 Traceroute UI-IdREN menuju loopback ITS-IdREN
Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 16 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdRENPada gambar 4.16 di atas terlihat bahwa untuk mencapai interface 2001::15 UI-IdREN harus melalui 2 jalur agar dapat mencapai alamat 2001::15. Pada jalur pertama terdapat 3 pilihan jalur tercepat yang dapat dilewati untuk mencapai interface 2001::15. Jalur tersebut adalah melalui serial1/0, serial1/3 dan serial1/1 seperti yang terlihat pada gambar 4.16. Informasi routing ini didapat melalui routing OSPF. Sehingga secara default satu jalur yang dilewati memiliki nilai metric sebesar 64. Pada tahap ini akan diumpamakan jika jalur yang dipilih adalah 2403:8000:10:FFFE::7:1 sebagai jalur terbaik. Sehingga router yang dituju selanjutnya adalah router ITB-IdREN. Selanjutnya kembali diamati jalur yang digunakan router ITB-IdREN untuk mencapai alamat 2001::15. Berikut adalah hasilnya:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 17 tabel routing ITB-IdREN menuju loopback ITS-IdRENPada gambar 4.17 di atas terlihat bahwa untuk mencapai alamat 2001::15 router ITB-IdREN dapat melalui serial1/1 dengan metric 64. Hal ini membuktikan bahwa jalur yang dilewati hanya 1 kali yaitu melalui serial 1/1 melalui router ITB. Kemudian dapat dilihat pula perubahan metric yang dilalui pada routing BGP dengan menggunakan perintah show ip bgp ipv6 unicast dengan tujuan 2001::15

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 18 Tabel routing BGP ITB-IdREN menuju loopback ITS-IdRENPada gambar 4.18 di atas terlihat bahwa jalur terbaik yang digunakan memiliki bobot sebesar 32768. Hal ini menandakan bahwa route-map didapatkan dari perintah redistribute OSPF sehingg metric yang digunakan sama seperti metric yang dimiliki router ITB-IdREN untuk mencapai alamat 2001::15 yang berada pada router ITS-IdREN.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 19 Tabel routing BGP ITS-IdREN menuju ITSSelanjutnya pada router ITS-IdREN dilakukan pengamatan pada hasil show ip bgp ipv6 unicast. Hasil nya masih sama seperti pada kondisi sebelumnya. Hal ini dikarenakan hanya satu jalur yang dapat dilalui router ITS-IdREN untuk menuju router ITS. Pada gambar 4.19 kembali terlihat bahwa jalur terbaik yang digunakan menggunakan bobot 32768 namun menggunakan metric 0. Hal ini dikarenakan bahwa route-map didapatkan dari perintah redistribute connected sehingga mendapatkan bobot 32768 dan metric bernilai 0. Untuk membuktikannya dapat dilakukan dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan tujuan 2001:8000:10:11::2. Berikut adalah hasil yang didapatkan:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 20 tabel routing ITS-IdREN menuju ITSPada gambar 4.20 di atas terlihat bahwa untuk mencapai interface dengan alamat 2001:8000:10:11::2, router ITS-IdREN dapat melalui interface serial2/1 dengan metric 0.

Tabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 4 Jalur yang dilewati router UI menuju router ITSAlamat Asal Jalur yang dilewati Alamat Tujuan
1 2 3 2001:8000:10:4::2 2001:8000:10:4::1 2403:8000:10:fffe::7:1 2403:8000:10:fffe::6:2 2001:8000:10:11::2
UI UI-IdREN ITB-IdREN ITS-IdREN ITS
6122035289433000453009020955000058064401361440002697480986155001112520114109500602615-6953250010160004707255Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 21 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS00Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 21 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS
Simulasi Pemilihan Jalur dengan adanya cost pada OSPF dan default BGPSimulasi pemilihan jalur selanjutnya menggunakan konfigurasi yang sama seperti pada simulasi yang dilakukan pertama kali namun menambahkan konfigurasi cost OSPF pada router IdREN dan BGP masih menggunakan konfigurasi default tanpa adanya atribut. Pengujian dilakukan dengan melakukan perintah traceroute untuk mengamati jalur yang dilewati dari router UI menuju router ITS. Pada simulasi kedua ini dilakukan pula dua skenario, skenario pertama adalah ketika semua router bekerja dengan kondisi normal dan skenario kedua adalah ketika salah satu interface pada router ITS diubah kondisinya menjadi mati sehingga jalur tersebut tidak dapat digunakan.

Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi NormalSkenario pertama adalah mengamati pemilihan jalur ketika semua router berada pada kondisi normal. Jalur yang diamati adalah jalur dari router UI menuju router ITS. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan printah traceroute dengan tujuan alamat interface router ITS yaitu 2001:8000:10:11::2. Berikut adalah hasilnya:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 22 Traceroute dari router UI menuju router ITSPada gambar 4.22 di atas terlihat bahwa hasil yang didapat masih sama seperti percobaan pertama ketika OSPF dan BGP dikonfigurasikan secara default. Router UI akan menuju alamat 2001:8000:10:4::1 yang merupakan alamat interface serial2/1 dari router UI-IdREN. Selanjutnya untuk mengetahui routing yang digunakan oleh router UI untuk mencapai alamat router ITS adalah dengan menggunakan perintah show ipv6 route, berikut adalah hasil yang didapat dari perintah tersebut:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 23 Tabel routing UI menuju ITSPada gambar 4.23 di atas terlihat bahwa untuk mencapai alamat 2001:8000:10:11::2, router UI menggunakan routing BGP dengan nilai administrative distance sebesar 20. Nilai ini merupakan nilai administrative distance untuk routing eBGP. Selain itu dapat dilihat pula untuk mencapai network 2001:8000:10:11::/64 router UI akan melalui interface serial1/0 milik router UI yang memiliki alamat 2001:8000:10:4::2 yang terhubung langsung (directly connected) dengan alamat 2001:8000:10:4::1 yang dimiliki router UI-IdREN.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 24 Tabel routing UI-IdREN menuju ITSPada router UI-IdREN kembali dilakukan pengamatan terhadap hasil dari perintah show ipv6 route yang hasilnya dapat dilihat pada gambar 4.24 di atas. Terlihat pada gambar bahwa router UI-IdREN mengenal jaringan 2001:8000:10:11::/64 melalui routing BGP dengan nilai administrative distance sebesar 200. Nilai ini merupakan nilai administrative distance untuk iBGP. Selain itu dapat diketahui pula bahwa untuk mencapai network 2001:8000:10:11::/64 router UI-IdREN akan melewati router yang memiliki interface dengan alamat 2001::15. Sehingga untuk mengetahui next hop yang dituju untuk menuju 2001::15 dapat digunakan perintah show ip bgp ipv6 unicast dengan tujuan network 2001::15/128, berikut adalah hasilnya.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 25 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback ITS-IdRENPada gambar 4.25 di atas terlihat bahwa jalur terbaik yang digunakan untuk menuju alamat 2001::15 adalah dengan melalui jalur yang memiliki bobot 32768. Hal ini menandakan bahwa route-map diperoleh melalui perintah “Redistribute”. Selain itu dapat dilihat pula bahwa metric yang digunakan bernilai 13 yang merupakan cost OSPF yang telah dikonfigurasikan pada skenario ini. Untuk melihat routing yang digunakan untuk mencapai alamat 2001::15 dapat dilakukan dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan tujuan 2001::15 sebagai berikut:

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 26 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdRENDapat dilihat pada gambar 4.26 bahwa UI-IdREN untuk mencapai alamat 2001::15 dapat melalui serial1/2 milik UI-IdREN yang memiliki nilai administrative distance 110 untuk routing OSPF dan metric sebesar 13. Untuk melihat alamat dari serial1/2 dapat digunakan perintah show ipv6 interface brief serial1/2.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 27 Alamat interface serial1/2 router UI-IdRENSelanjutnya setelah melewati jalur serial1/2 milik UI-IdREN yang terhubung langsung dengan alamat 2403:8000:10:FFFE::15:2 milik router ITS-IdREN. Selanjutnya dilakukan pengamatan pada router ITS-IdREN. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan perintah show ipv6 route pada router ITS-IdREN.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 28 Tabel routing ITS-IdREN menuju ITSPada gambar 4.28 di atas terlihat bahwa untuk mencapai alamat 2001:8000:10:11::2 router ITS-IdREN dapat melalui serial2/1 yang memiliki alamat 2001:8000:10:11::1 dan terhubung langsung (directly connected) dengan alamat 2001:8000:10:11::2 milik router ITS.

Alamat Asal Jalur yang dilewati Alamat Tujuan
1 2 2001:8000:10:4::2 2001:8000:10:4::1 2403:8000:10:fffe::15:2 2001:8000:10:11::2
UI UI-IdREN ITS-IdREN ITS
604520-764540002012954701540Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 29 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS00Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 29 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS
Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi FailoverPada percobaan kedua dilakukan kembali pengamatan kembali terhadap pemilihan jalur yang dilewati router UI menuju router ITS ketika interface serial 2/0 milik ITS-IdREN di matikan. Pada skenario ini waktu rata-rata konvergensi OSPF adalah 30,5246 detik sedangkan waktu rata-rata konvergensi BGP adalah 30,899 detik.

Tabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 5 Waktu konvergensi OSPFPercobaan Waktu konvergensi Durasi (detik)
1 05:27,679 – 05:59,359 31,68
2 08:51,531 – 09:19,331 27,8
3 11:52,203 – 12:19,447 27,128
4 16:00,767 – 16:29,379 28,612
5 19:44,443 – 20:19,351 34,908
6 22:36,323 – 23:09,343 33,02
Rata-rata 30,5246
Tabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 6 Waktu konvergensi BGPPercobaan Waktu konvergensi Durasi (detik)
1 05:32,603 – 06:03,399 30,796
2 08:56,431 – 09:27,499 31,068
3 11:57,127 – 12:27,519 30,392
4 16:05,715 -16:36,527 30,812
5 19:49,363 – 20:20,507 31,144
6 22:41,291– 23:12,475 31,184
Rata-rata 30,899
Pengamatan terhadap rute yang akan dilewati pertama kali dilakukan pada router UI menggunakan perintah traceroute dengan tujuan 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 30 Traceroute router UI menuju ITSPada gambar 4.30 di atas terlihat bahwa untuk mencapai router alamat 2001:8000:10:11::2 milik router ITS, router UI harus melalui 4 jalur. Hasil ini sedikit berbeda dengan percobaan pertama, dimana pada percobaan pertama, proses pemilihan jalur masih terdapat banyak pilihan dikarenakan terdapat lebih dari 1 jalur memiliki nilai metric yang sama. Selanjutnya untuk mengetahui routing yang digunakan router UI mengetahui alamat 2001:8000:10:11::2 adalah dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan tujuan 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 31 Tabel routing router UI menuju ITSPada gambar 4.31 di atas terlihat bahwa hasil yang didapatkan dari perintah show ipv6 route masih sama seperti percobaan sebelumnya, hal ini dikarenakan untuk mencapai router ITS hanya terdapat 1 jalur yang dapat dilewati router UI, yaitu melalui serial1/0 yang terhubung langsung dengan interface milik UI-IdREN pada alamat 2001:8000:10:4::1. Kemudian pengamatan berpindah pada router UI-IdREN, pengamatan dilakukan dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan tujuan 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 32 Tabel routing UI-IdREN menuju ITSHasil yang ditunjukkan gambar 4.32 masih sama seperti pada percobaan sebelumnya. Untuk mencapai alamat 2001:8000:10:11::2 router UI-IdREN harus melalui alamat 2001::15. Sehingga dilakukan pengamatan kembali pada router UI-IdREN dengan menggunakan perintah show ip bgp ipv6 unicast dengan tujuan network 2001::15/128 untuk mengetahui next hop dari router UI-IdREN.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 33 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback ITS-IdRENPada gambar 4.33 terlihat bahwa jalur terbaik yang digunakan adalah jalur dengan bobot 32768. Hal ini dikarenakan bahwa route-map didapatkan dari konfigurasi redistribute OSPF. Dapat dilihat pula bahwa metric yang digunakan bernilai 20. Sehingga untuk melihat jalur yang digunakan dapat dilakukan perintah show ipv6 route dengan alamat tujuan 2001::15.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 34 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdRENPada gambar 4.34 di atas terlihat bahwa router UI-IdREN dapat melalui interface serial 1/3 yang memiliki alamat 2403:8000:10:FFFE::9:1 dan terhubung langsung (directly connected) dengan alamat 2403:8000:10:FFFE::9:2 milik Telkom-IdREN dengan nilai metric 20. Nilai metric ini didapatkan karena router UI-IdREN dapat mencapai alamat 2001::15 setelah melalui 2 jalur. Untuk mengetahui jalur selanjutnya dapat dilakukan perintah show ipv6 route pada router Telkom-IdREN dengan tujuan alamat 2001::15.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 35 Tabel routing Telkom-IdREN menuju loopback ITS-IdRENSetelah melewati Telkom-IdREN proses routing dilanjutkan melalui interface serial 1/2 milik Telkom-IdREN yang memiliki alamat 2403:8000:10:FFFE::5:1 dan terhubung langsung dengan alamat 2403:8000:10:FFFE::5:2 yang merupakan alamat interface pada router ITS-IdREN. Selanjutnya pada router ITS-IdREN untuk dapat menuju router ITS hanya dapat melalui satu jalur yang terhubung secara langsung melalui interface serial1/2.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 36 Tabel routing ITS-IdREN menuju ITSTabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 7 Jalur yang dilewati router UI menuju ITSAlamat Asal Jalur yang dilewati Alamat Tujuan
1 2 3 2001:8000:10:4::2 2001:8000:10:4::1 2403:8000:10:fffe::9:2 2403:8000:10:fffe::5:2 2001:8000:10:11::2
UI UI-IdREN ITB-IdREN ITS-IdREN ITS
5942965286448500412623019881850041529002908300001889760105410000969645114109500434340-74739500-1866904702175Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 37 Jalur yang digunakan router UI menuju Router ITS00Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 37 Jalur yang digunakan router UI menuju Router ITS462280543496500
Simulasi Pemilihan jalur dengan kondisi OSPF default dan BGP menggunakan atribut weight dan local preferenceSimulasi pemilihan jalur pada percobaan ketiga adalah dengan menggunakan konfigurasi yang sama seperti percobaan pertama menggunakan routing OSPF default dan BGP default namun ditambahkan routing policy berupa atribut weight dan local preference pada BGP sebagai penentu dalam pemilihan jalur BGP. Pengujian dilakukan dengan melakukan perintah traceroute untuk mengamati jalur yang dilewati dari router UI menuju router ITS. Pada simulasi ini dilakukan dua kondisi, kondisi pertama adalah ketika semua router bekerja dengan kondisi normal atau semua interface pada router dalam keadaan hidup dan kondisi kedua adalah ketika salah satu interface pada router diubah kondisinya menjadi mati sehingga jalur tersebut tidak dapat digunakan
Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi NormalSkenario pertama adalah mengamati jalur ketika semua router berada pada kondisi normal. Jalur yang diamati adalah jalur dari router UI menuju router ITS. Pengamatan dilakukan dari router UI dengan menggunakan perintah traceroute dengan tujuan alamat interface router ITS yaitu 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 38 Traceroute router UI menuju router ITSPada gambar 4.38 di atas terlihat bahwa untuk mencapai alamat 2001:8000:10:11::2 router UI harus melalui 3 jalur. Jalur pertama yang akan dituju adalah alamat router yang dimiliki oleh router UI-IdREN kemudian dilanjutkan ke jalur yang kedua yang dimiliki oleh router ITS-IdREN dan terakhir router dapat menuju router ITS yang beralamat pada 2001:8000:10:11::2. Untuk mengetahui routing yang digunakan oleh router UI untuk mencapai alamat router ITS dapat dilakukan dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan tujuan 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 39 Tabel routing router UI menuju ITSPada gambar 4.39 di atas terlihat bahwa untuk mencapai alamat 2001:8000:10:11::2 router UI dapat melalui interface serial1/0 yang memiliki alamat 2001:8000:10:4::2 yang terhubung langsung (directly connected) dengan alamat 2001:8000:10:4::1 yang merupakan alamat interface router UI-IdREN. Selanjutnya pengamatan dilakukan pada router UI-IdREN dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan tujuan almat router ITS 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 40 Tabel routing UI-IdREN menuju ITSRouter UI-IdREN mendapatkan informasi network 2001:8000:10:11::/64 melalui routing BGP dengan nilai administrative distance sebesar 200 yang merupakan nilai AD untuk iBGP. Kemudian untuk melihat next-hop yang akan dilalui oleh router UI-IdREN untuk mencapai interface 2001::15 dapat dilakukan dengan menggunakan perintah show ip bgp ipv6 unicast.
Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 41 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback router ITS-IdRENTerlihat pada gambar 4.41 untuk mencapai network 2001::15 router UI-IdREN dapat melalui 2 jalur. Namun jalur yang terbaik adalah jalur yang melalui interface 2001::14 yang merupakan interface yang terdapat pada router UB-IdREN yang memiliki nilai local preferences yang lebih besar. Local preferences adalah salah satu atribut yang digunakan sebagai routing policy untuk menentukan jalur terbaik yang digunakan ketika terdapat 2 jalur yang memiliki bobot (weight) yang sama. Namun pada hasil traceroute jalur yang dituju tidak melalui router UB-IdREN melainkan langsung melalui router ITS-IdREN. Hal ini router akan memilih jalur yang berasal dari protokol routing dengan nilai administrative distance (AD) terkecil yaitu directly connected dengan nilai AD 0 dibandingkan dengan iBGP dengan nilai AD 200, manipulasi bobot weight hanya akan berpengaruh pada tabel BGP saja, tetapi dalam proses pemilihan jalur akan tetap mendahulukan jalur dengan nilai AD terendah. Sehingga jalur kedua yang dipilih adalah melalui router ITS-IdREN yang melalui alamat 2403:8000:10:FFFE::15:2.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 42 Tabel routing ITS-IdREN menuju router ITSSetelah melalui router ITS-IdREN, jalur selanjutnya adalah alamat router ITS yang hanya dapat dilalui melalui interface serial2/1 yang dimiliki oleh ITS-IdREN yang terhubung langsung dengan router ITS.

Tabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 8 Jalur yang dilewati router UI menuju ITSAlamat Asal Jalur yang dilewati Alamat Tujuan
1 2 2001:8000:10:4::2 2001:8000:10:4::1 2403:8000:10:fffe::15:2 2001:8000:10:11::2
UI UI-IdREN ITS-IdREN ITS
627634037604700026009602799080002094865133604000284480-98044000-139704706620Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 43 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS00Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 43 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS
Pemilihan Jalur dari router UI ke router ITS dengan Kondisi FailoverPada percobaan kedua dilakukan kembali pengamatan terhadap pemilihan jalur yang dilewati router UI menuju router ITS ketika interface serial 2/0 milik ITS-IdREN mati. Pada skenario ini waktu rata-rata konvergensi OSPF adalah 31,786 detik sedangkan rata-rata waktu konvergensi BGP adalah 26,9101 detik.

Tabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 9 Tabel waktu konvergensi OSPFPercobaan Waktu konvergensi Durasi (detik)
1 01:20,627 – 01:49,415 28,788
2 05:12,999 – 05:48,183 35,184
3 10:14,695 –10:49,379 34,684
4 15:50,675-16:19,395 28,72
5 25:16,541 – 25:47,417 30,876
6 32:07,876 – 32:40,34 32,464
Rata-rata 31,786
Tabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 10 Tabel waktu konvergensi BGPPercobaan Waktu konvergensi Durasi (detik)
1 01:25,567 – 01:49,315 23,748
2 05:17,931 – 05:48,239 30,308
3 10:19,655 –10:49,339 29,684
4 15:55,639-16:19,479 23,84
5 25:21,362 – 25:51,481 30,119
6 32:12,652 – 32:36,414 23,762
Rata-rata 26,9101
Pada skenario kedua masih menggunakan routing OSPF default dan BGP menggunakan atribut weigth dan local preference namun pada simulasi kali ini akan dimatikan salah satu interface ITS-IdREN yaitu interface serial2/0. Pengamatan dilakukan pertama kali pada router UI dengan menjalankan perintah traceroute dengan alamat tujuan router ITS yaitu 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 44 Traceroute router UI menuju ITSPada kondisi failover dengan kondisi OSPF default, router UI dapat menuju alamat 2001:8000:10:11::2 dengan melalui 4 jalur dan pada jalur ke-dua dan ke-3 terdapat beberapa pilihan jalur yang dapat dilewati karena jalur tersebut memiliki nilai metric yang sama besar yaitu 64 pada setiap jalurnya. Jalur pertama yang dituju adalah jalur dengan alamat tujuan interface 2001:8000:10:4::1 yang dimiliki oleh router UI-IdREN. Kemudian untuk melihat next-hop yang dituju router UI-IdREN dapat dilakukan dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan tujuan 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 45 Tabel routing UI-IdREN menuju ITSUntuk menuju interface router ITS, router UI-IdREN mengenal jaringan 2001:8000:10:11::/64 melalui interface 2001::15 dengan menggunakan routing iBGP. Hal ini terlihat pada nila AD sebesar 200. Selanjutnya untuk mengetahui next-hop yang akan dituju oleh router UI-IdREN untuk mencapai alamat 2001::15 digunakan perintah show ip bgp ipv6 unicast untuk melihat tabel BGP dan jalur terbaik yang dapat dilalui.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 46 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju router ITSPada gambar 4.46 di atas terlihat bahwa terdapat 2 jalur yang memiliki nilai bobot (weight) yang sama yaitu 32768 sehingga proses pemilihan jalur berpindah pada nilai local preferences. Jalur yang melalui interface 2001::14, yang dimiliki router UB-IdREN, dipilih sebagai jalur terbaik karena memiliki nilai local preferences yang lebih besar yaitu 700. Namun pada hasil traceroute, router tidak hanya dapat melalui router UB-IdREN namun dapat melalui router lain karena memiliki nilai metric OSPF yang sama. Pemilihan jalur yang ditampilkan dipilih berdasarkan nilai AD yang paling rendah, dalam hal ini nilai AD dari OSPF adalah 110 dan iBGP adalah 200 sehingga jalur yang dipilih adalah jalur milik OSPF. Untuk membuktikannya dapat dilakukan kembali perintah show ipv6 route menuju 2001::15 yang merupakan loopback ITS-IdREN.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 47 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdRENPada gambar 4.47 di atas terlihat bahwa untuk menuju alamat 2001::15, router UI-IdREN yang digunakan adalah routing OSPF. Pada simulasi ini cost yang dimiliki OSPF bernilai 64 pada setiap jalurnya, sehingga untuk mencapai alamat 2001::15 dapat melalui 4 jalur yang memiliki cost yang sama salah satunya melalui serial 1/1 yang merupakan interface yang terhubung langsung dengan router ITB-IdREN.

Selanjutnya untuk mengetahui next-hop BGP yang dituju UI-IdREN menuju alamat 2001::14 yang dimiliki oleh router UB adalah dengan menggunakan perintah show ip bgp ipv6 unicast dengan tujuan 2001::14

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 48 Tabel routing BGP UI-IdREN menuju loopback UB-IdRENTerlihat pada gambar 4.48 di atas bahwa terdapat 2 jalur yang dapat digunakan menuju alamat 2001::14 yang memiliki nilai weight sebesar 32768. Namun jalur terbaik yang dipilih adalah jalur dengan nilai local preference yang lebih besar yang bernilai 700. Terlihat bahwa metric pada jalur terbaik sebesar 0 hal ini karena IGP yang digunakan adalah jalur dengan menggunakan routing Directly Connected.

Selanjutnya pengamatan routing dilakukan pada router ITS-IdREN dengan menggunakan perintah show ipv6 route.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 49 Tabel routing ITS-IdREN menuju router ITSPada router ITS-IdREN hanya terdapat satu jalur yang menuju router ITS. Jalur tersebut menggunakan routing directly connected dengan nilai AD 0 melalui serial 2/1.

Tabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 11 Jalur yang dilewati router UI menuju ITSAlamat Asal Jalur yang dilewati Alamat Tujuan
1 2 3 2001:8000:10:4::2 2001:8000:10:4::1 2403:8000:10:fffe::7:1 2403:8000:10:fffe::6:2 2001:8000:10:11::2
UI UI-IdREN ITB-IdREN ITS-IdREN ITS
5813425132651500256921097472500612394036080700022840952862580002060575132651500442277521691600061239402933065001170305122364500608330-66611500-133354702175Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 50 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS00Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 50 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS
Simulasi pemilihan jalur dengan kondisi OSPF dengan menggunakan cost dan BGP menggunakan atribut weight dan local preferencePada Simulasi kali ini digunakan konfigurasi OSPF dengan menggunakan cost dan BGP menggunakan atribut weight dan local preference yang telah dikonfigurasikan sebelumnya. Simulasi ini dilakukan dengan 2 kondisi, yaitu saat semua interface bekerja secara normal dan terdapat salah satu interface mati (failover).

Pemilihan jalur dari router UI menuju router ITS dengan Kondisi NormalPengamatan dilakakun pertama kali pada router UI dengan menjalankan perintah traceroute menuju router ITS dengan alamat 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 51 Traceroute router UI menuju router ITSSeperti simulasi sebelumnya router UI akan melewati 3 jalur untuk mencapai router ITS dan router pertama yang dituju adalah router UI-IdREN dengan alamat interface 2001:8000:10:4::1.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 52 Tabel routing router UI menuju router ITS Router UI mengenal jaringan 2001:800:10:11::/64 menggunakan routing BGP melalui serial 1/0 dengan nilai AD sebesar 20. Nilai AD ini didapatkan dari routing eBGP. Selanjutnya pengamatan dilakukan pada router UI-IdREN dengan menjalankan perintah “show ipv6 route” menuju router ITS.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 53 Tabel routing UI-IdREN menuju router ITSPada gambar 4.53 di atas terlihat bahwa router UI-IdREN mengenal jaringan 2001:8000:10:11::/64 menggunakan routing BGP melalui 2001::15 dengan nilai AD 200. Selanjutnya akan untuk melihat next-hop yang dituju routing BGP adalah dengan menggunakan perintah “show ip bgp ipv6 unicast” dengan tujuan 2001::15/128.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 54 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback ITSPada gambar 4.54 di atas terlihat untuk menuju alamat 2001::15 dapat melalui 2 jalur yang memiliki weight yang sama besar, sehingga pemilihan jalur jatuh ke pada perbedaan atribut local preferences. Jalur yang melalui 2001::14 dipilih sebagai jalur BGP terbaik dikarenakan memiliki nilai local preference yang lebih besar dibandingkan melalui interface lokal (0.0.0.0).

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 55 Tabel routing BGP UI-IdREN menuju loopback UB-IdRENNext-hop dari router UI-IdREN menuju 2001::14 milik router UB-IdREN dapat dilakukan menggunakan pertintah seperti pada gambar 4.46. Router UI-IdREN akan menggunakan jarul dengan local preference yang lebih besar ketika terdapat nilai weight sama. Pada tabel routing BGP kali ini, terlihat bahwa jalur terbaik menggunakan metric 0. Hal ini menandakan bahwa routing didapatkan melalui hubungan melalui BGP.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 56 Tabel routing BGP ITS-IdREN menuju ITSSelanjutnya diamati next-hop yang dituju router ITS-IdREN menuju router ITS. Pada router ITS jalur yang terbaik yang digunakan adalah jalur yang memliki nilai weight sebesar 32768. Hal ini dikarenakan informasi routing berasal dari perintah “redistribute” dengan metric 0. Metric ini merupakan metric yang digunakan ketika menggunakan routing Directly Connected. Untuk membuktikannya dapan di jalankan perintah show ipv6 route pada router ITS-IdREN.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 57 Tabel routing ITS-IdREN menuju ITSPada gambar 4.57 di atas dapat dilihat untuk menuju ITS, router ITS-IdREN menggunakan routing directly connected melalui interface serial2/1.

Tabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 12 Jalur yang digunakan dari UI menuju ITSAlamat Asal Jalur yang dilewati Alamat Tujuan
1 2 2001:8000:10:4::2 2001:8000:10:4::1 2403:8000:10:fffe::15:2 2001:8000:10:11::2
UI UI-IdREN ITS-IdREN ITS
623443036169600024155402940685002276475149669500457835-445135004660904699000Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 58 Jalur router UI menuju router ITS00Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 58 Jalur router UI menuju router ITS
Pemilihan Jalur dari router UI menuju router ITS dengan Kondisi FailoverPada percobaan kedua dengan menggunakan skenario keempat dilakukan pengamatan kembali terhadap pemilihan jalur yang dilewati router UI menuju router ITS. Pada skenario ini waktu rata-rata konvergensi OSPF adalah 32,9653 detik sedangkan waktu rata-rata konvergensi BGP adalah 27,9641 detik.

Tabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 13 Tabel waktu konvergensi OSPFPercobaan Waktu konvergensi Durasi (detik)
1 04:52,191 – 05:28,143 35,952
2 12:54,259 – 13:29,223 34,964
3 16:38,419 –17.09,259 30,84
4 24:04,547 – 24:39,199 34,652
5 32:48,311 – 33:19,187 30,876
6 35:38,659 – 36:09,167 30,508
Rata-rata 32,9653
Tabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 14 Tabel Waktu konvergensi BGPPercobaan Waktu konvergensi Durasi (detik)
1 04:57,841 – 05:28,317 30,476
2 12:59,421 – 13:29,414 29,993
3 16:43,943 – 17:09,891 25,948
4 24:10,083 – 24:39,939 29,856
5 32:53,891 – 33:19,863 25,972
6 35:44,215 – 36:09,755 25,54
Rata-rata 27,9641
Pengamatan terhadap pemilihan jalur dilakukan pertama kali pada router UI dengan menggunakan perintah show ipv6 route dengan alamat 2001:8000:10:11::2 yang merupakan alamat milik router ITS.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 59 Traceroute router UI menuju router ITSRouter UI dapat harus melalui 4 jalur untuk menuju router ITS. Jalur pertama yang akan dilewati adalah 2001:8000:10:4::1. Untuk mengetahui routing yang digunakan untuk menuju router ITS, dapat dilakukan dengan menggunakan perintah “show ipv6 route” dengan alamat tujuan 2001:8000:10:11::2.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 60 Tabel routing router UI menuju router ITSRouter UI mengenal jaringan 2001:8000:10:11::/64 melalui interface serial 1/0 menggunakan routing BGP dengan nilai AD sebesar 20. Selanjutnya proses routing berlanjut ke router UI-IdREN.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 61 Tabel routing router UI-IdREN menuju router ITSRouter UI-IdREN dapat menuju alamat router ITS melalui alamat 2001::15 yang merupakan alamat loopback router ITS-IdREN. Router UI-IdREN mengenal router ITS menggunakan routing BGP dengan nilai AD 200 yang merupakan nilai AD untuk iBGP. Selanjutnya untuk melihat next-hop yang digunakan untuk menuju router ITS-IdREN dapat dilakukan dengan perintah show ip bgp ipv6 unicast dengan tujuan 2001::15/128.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 62 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback ITS-IdRENPada gambar 4.62 di atas terlihat bahwa jalur yang dipilih merupakan jalur yang memiliki nilai local preference yang lebih besar karna memiliki nilai weight yang sama besar. Sehingga untuk mencapai router ITS-IdREN, router UI-IdREN harus melalui 2001::14 terlebih dahulu yang merupakan alamat interface loopback UB-IdREN.

Namun terdapat perbedaan ketika menggunakan perintah show ipv6 route. Router UI-IdREN menuju alamat 2001::15 menggunkan routing OSPF dan melalui serial 1/3 dengan nilai cost/metric sebesar 20. Interface serial 1/3 pada router UI-IdREN merupakan interface yang terhubung langsung dengan router Telkom-IdREN.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 63 Tabel routing UI-IdREN menuju loopback ITS-IdRENSelanjutnuya untuk melihat next-hop dari routing BGP yang digunakan oleh router UI-IdREN dapat dilakukan dengan perintah show ip bgp ipv6 unicast menuju loopbcak UB-IdREN sebagai next-hop UI-IdREN menuju ITS-IdREN.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 64 Tabel routing BGP router UI-IdREN menuju loopback UB-IdRENPada gambar 4.64 di atas terlihat untuk mencapai 2001::14 router UI-IdREN menggunakan jalur yang memiliki nilai local preference sebesar 700. Jalur ini dipilih karena memiliki local preference yang lebih besar ketika nilai weight sama.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 65 Tabel routing ITS-IdREN menuju ITSPada router ITS-IdREN, untuk menuju router ITS akan digunakan routing directly connected melalui serial2/1 dengan nilai AD sebesar 0.

Tabel 4. SEQ Tabel_4. * ARABIC 15 Jalur yang dilewati router UI menuju ITSAlamat Asal Jalur yang dilewati Alamat Tujuan
1 2 3 2001:8000:10:4::2 2001:8000:10:4::1 2403:8000:10:fffe::9:2 2403:8000:10:fffe::5:2 2001:8000:10:11::2
UI UI-IdREN ITB-IdREN ITS-IdREN ITS
58045353562350001987550129095500614362529070300043065703049270004457700210883500239458527901900022694901372235001213485119126000606425-69786500-95254703445Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 66 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS00Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 66 Jalur yang digunakan router UI menuju ITS
Rangkuman SimulasiSetelah dilakukan simulasi dengan 4 skenario dan 2 kondisi disetiap skenarionya dapat terlihat bahwa:
Pada kondisi normal di setiap skenario, rute yang digunakan selalu sama yaitu melalui UI-IdREN, ITS-IdREN lalu ITS, namun terdapat perbedaan pada jalur BGP yang digunakan ketika pada skenario terdapat perubahan atribut BGP seperti weight dan local preferences.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 67 Jalur yang digunakan UI menuju ITS pada kondisi normalProses IGP menggunakan routing OSPF terjadi pada router internal IdREN.

Proses eBGP terjadi pada UI menuju UI-IdREN dan ITS-IdREN menuju ITS sedangkan iBGP terjadi pada keenam router IdREN.

OSPF akan selalu memilih router Telkom-IdREN ketika terjadinya failover yang memiliki cost 10
Tanpa adanya perubahan pada atribut BGP, jalur yang dipilih sebagai jalur terbaik selalu mengikuti jalur OSPF. Ditandai dengan nilai weight sebesar 32768.

BGP akan membandingkan 2 nilai local preferences ketika terdapat jalur yang memiliki nilai weight yang sama besar.

Waktu konvergensi pada simulasi ini dihitung sesaat setelah terjadinya failover dan update awal dikitim pertama kali hingga router selasai melakukan update tabel routingnya.

Gambar 4. SEQ Gambar_4. * ARABIC 68 Diagram Waktu rata-rata konvergensi OSPF dan BGPBAB VKESIMPULAN DAN SARAN
KesimpulanBerdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
Perubahan atribut BGP tidak mempengaruhi pemilihan jalur didalam AS, namun hanya mempengaruhi pemilihan best path BGP berdasarkan tabel routing BGP.

Jalur yang digunakan di dalam AS ketika terjadinya failover sama dengan jalur terbaik dari dari OSPF
Perubahan cost pada OSPF membuat router Telkom-IdREN selalu menjadi router dengan jalur terbaik dengan nilai cost 10.

Penerapan routing policy menyebabkan router UB-IdREN selalu digunakan sebagai jalur pilihan BGP setelah membandingkan nilai localpreferences
OSPF yang berperan sebagai IGP pada simulasi ini berfungsi untuk mengenalkan jaringan yang terdapat dalam jaringan IdREN khususnya mengenali alamat interface loopback yang terdapat pada router lain. Kemudian informasi yang terdapat pada OSPF dapat di redistribusikan kepada routing BGP agar router yang berada pada AS yang berbeda dapat saling berkomunikasi.

Waktu rata-rata konvergensi OSPF tercepat terdapat pada skenario routing OSPF tanpa cost dan BGP tanpa atribut dengan waktu rata-rata sebesar 30,4743 detik.

Waktu rata-rata konvergensi BGP tercepat terdapat pada skenario routing BGP menggunakan atribut dan routing OSP tanpa menggunakan cost dengan waktu rata-rata sebesar 26,9101 detik
SaranTerdapat beberapa saran untuk penelitian selanjutnya berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, yaitu:
Melakukan simulasi BGP dengan menggunakan jaringan yang lebih kompleks dengan jalur yang dapat melewati 2 atau lebih AS yang berbeda untuk mengetahui proses pemilihan jalur BGP.

Menambahkan atribut BGP lain seperti Multi-exit discriminator untuk mengetahui pengaruhnya dalam proses pemilihan jalur.

Meneliti hal-hal apa saja yang mempengaruhi perbedaan waktu konvergensi tersebut dan mengkaji cara meningkatkan performanya.

Mensimulasikan BGP dengan konsep multihoming
Daftar pustakaADDIN Mendeley Bibliography CSL_BIBLIOGRAPHY 1B. Suhardiman, “Indonesia Update ( ITB ),” in The 9th TEIN4 Project Meeting, Bandung, 2016.

2Y. Rekhter and T. Li, “A Border Gateway Protocol 4 (BGP-4) RFC 1771,” 2006. Online. Available: https://www.rfc-editor.org/info/rfc1771. Accessed: 19-Jun-2018.

3Google, “IPv6 Adoption,” 2014. Online. Available: http://www.google.com/intl/en/ipv6/statistics.html. Accessed: 19-Jun-2018.

4M. Syafrizal, Pengantar Jaringan Komputer, no. June. Yogyakarta: diglib.amikom.ac.id, 2005.

5Jyoti and H. Saini, “A Survey on Machine Learning: Concept, Algorithms and Applications,” Int. J. Innov. Res. Comput. Commun. Eng., vol. 5, no. 2, pp. 1302–1309, 2017.

6W. Stallings, Data and Computer Communication, Eighth edi. United States of Amerika: Pearson Education, Inc., 2007.

7S. Deering and R. Hinden, “Internet Protocol, Version 6 (IPv6) Specification Status,” United States of Amerika, 1998.

8K. Das, “IPV6 HEADER DECONSTRUCTED.” Online. Available: https://www.ipv6.com/general/ipv6-header-deconstructed/. Accessed: 20-May-2018.

9I. Cisco System, Internetworking Technologies Handbook, Fourth edi. United States of Amerika: Cisco Press, 2003.

10B. Stewart and D. Donohue, CCNP Routing and Switching Quick Reference, First edit. United States of Amerika: Cisco Press, 2010.

11Google, “13 per-country IPv6 adoption.” Online. Available: https://www.google.com/intl/en/ipv6/statistics.html#tab=per-country-ipv6-adoption;tab=per-country-ipv6-adoption. Accessed: 02-Jun-2018.

12H. Bast et al., “Fast Routing in Very Large Public Transportation Networks Using Transfer Patterns,” Transit Coop. Res. Program, Transp. …, vol. 6346, pp. 290–301, 2010.

13A. Balchunas, “Static vs . Dynamic Routing,” routeralley.com, 2007. Online. Available: http://www.routeralley.com/guides/static_dynamic_routing.pdf. Accessed: 02-Jun-2018.

14R. White, D. McPherson, and S. Srihari, Practical BGP, First edit. Boston: Addison-Wesley, 2005.

15J. Doyle, “Dynamic Routing Protocols,” cisco press. Online. Available: http://www.ciscopress.com/articles/article.asp?p=24090;seqNum=3. Accessed: 20-May-2018.

16IANA, “Autonomous System(AS) Numbers,” 2017. Online. Available: http://www.iana.org/assignments/as-numbers/as-numbers.xhtml. Accessed: 02-Jun-2018.

17IdREN, “Rapat IdREN 10 Juni 2016,” 2016.

18R. Graziani and A. Johnson, Routing Protocols and Concepts CCNA Exploration Companion Guide, Nineth. United States of Amerika: Cisco Press, 2011.

19J. Moy, “OSPF Version 2,” Westford, 1998.

20Cisco, “Information, Background Path, Shortest Algorithm,” United States of Amerika.

21Khargpur, “Routing and Congestion Control.” Online. Available: http://www.nptel.ac.in/courses/106105080/pdf/Module7.pdf. Accessed: 02-Jun-2018.

22M.-H. Companies, “Chapter 13 Routing Protocols ( RIP , OSPF , and BGP ),” 2000.

23M. R. Hafiz, “Simulasi Border Gateway Protocol (Bgp) Pada Ipv6 Dalam Proses Pemilihan Jalur Routing,” p. 298231, 2015.

24I. van. Beijnum, Building Reliable Networks with the Border Gateway Protocol, First Edit. Sebastopol, 2002.

25S. Shaik, “CCIE Routing & Switching v5 BGP Workbook.” Network Online Academy, India, pp. 1–325.

26D. Medhi and K. Ramasamy, Network Routing Algorithms, Protocols and Architectures. Morgan Kaufmann, 2007.

27I. Cisco System, “Command Reference Volume 2 of 3: Routing Protocols, Release 12.2,” vol. 2, no. 6387, 2006.

28J. Boney, Cisco IOS in a Nutshell. 2001.

29M. M. A. Hashem, “Understanding the Research and Education Networks,” 2012.

30Y. Dwiharyanto and P. Ediansyah, “Indonesian Updates INHERENT to IdREN,” 2016.

31T.-S. Chou, S. K. Baker, and M. Vega-Herrera, “A Comparison of Network Simulation and Emulation Virtualization Tools,” Am. Soc. Eng. Educ., 2016.

32R. Natalia and A. B. Cassongo, “THE COMPARISON OF NETWORK SIMULATORS FOR SDN Network.”
33C. M. Kozierok, “Performance Measurements: Speed, Bandwidth, Throughput and Latency,” 2005. Online. Available: http://www.tcpipguide.com/free/t_PerformanceMeasurementsSpeedBandwidthThroughputand.htm. Accessed: 20-Jun-2018.

34S. Marinis, “Thesis Project Performance evaluation of routing protocols for Wireless Mesh Networks,” 2015.

35B. Santosa, “MANAJEMEN BANDWIDTH INTERNET DAN INTRANET Quality of Service,” pp. 1–30, 2004.

36C. S. T. H. Cormen, C. E. Leiserson, R. L. Riverst, Introduction to algorithms, Second edi., vol. 53, no. 9. United States of Amerika: The MIT Press, 2001.

LampiranHasil debug OSPF ketika terjadi failover

Hasil debug BGP ketika terjadi failover

x

Hi!
I'm Loren!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out